
Seperti yang Cherry katakan sebelumnya, pagi ini, dia datang ke kantor seorang diri. Pagi ini, mereka ada rapat, karena itu, dia datang sendiri tanpa mewakili pada Zia lagi.
Ketika Cherry tiba di kantor, seketika, suasana langsung sibuk. Ada berbagai macam tatapan yang menyertai kedatangan Cherry. Tepatnya, dia di tatap karena satu kantor telah mendengar gosip bahwa Aditya sedang dekat dengannya. Dan, Chika yang ngamuk, yang merusak hampir sebagian peralatan kantor itu membuat nama Cherry terkenal.
"Ya ampun, ternyata dia jauh lebih cantik dari nona Chika ternyata. Pantas saja mas Aditya tertarik padanya," ucap salah satu perempuan pada teman sebelahnya.
"Iya sih, cantik. Bahkan, cantik banget malahan. Tapi, gak ada gunanya cantik kalo jadi perusak hubungan orang. Mana orangnya, orang yang paling berkuasa lagi. Itu sama aja dengan cari mati alias, menggali kuburan sendiri." Teman si karyawan itu bicara dengan nada mencibir.
"Iya. Tapi bukan salah dia juga dong. Nona Chika itu wajar jika tidak di sukai. Karena sifatnya yang ... ish nggak banget. Kalo aku jadi cowo mah, nggak akan tertarik sama sekali."
Dan, begitulah selanjutnya omongan demi omongan dari para karyawan yang bicara setelah melihat Cherry. Tapi, Cherry yang sekarang, sudah punya hati baja. Mana peduli dia dengan apa yang orang lain bicarakan.
Cherry terus saja melangkah sampai tiba-tiba, dia berhadapan dengan Aditya yang baru saja keluar dari ruangannya. Sontak, mereka langsung saling bertukar senyum.
"Eh, Cherry. Kamu udah mulai kerja sendiri ya hari ini?" Aditya bertanya dengan ramah.
"Iya, Dit. Mulai hari ini, aku udah bekerja langsung di kantor ini. Yah, meskipun gak akan lama. Tapi, aku akan berusaha melakukan yang terbaik."
"Eh, tunggu deh. Tahu dari mana tuh kamu aku udah mulai kerja hari ini?"
__ADS_1
"Ya tahu dari pak Gerry lah. Dia yang bilang ke aku tadi pagi lewat chat. Kalau tugas kamu sekarang, sudah langsung di serahkan ke kamu. Tidak ke Zia asisten kamu lagi."
Begitulah selama beberapa menit. Cherry dan Aditya ngobrol sambil terkekeh sesekali. Lalu, selanjutnya, dengan ramah Aditya mengantarkan Cherry ke ruangan yang akan Cherry tempati.
Ruangan itu bersebelahan dengan ruangan Aditya saat ini. Dan juga, ruangan itu hanya di batasi oleh dinding kaca yang transparan. Jadi, mereka masih bisa saling melihat walau berada di ruangan yang berbeda.
"Nah, ini ruangan kamu, Cher." Aditya berucap sambil mempersilahkan Cherry untuk masuk.
"Gimana? Kamu suka gak dengan ruangan ini?"
"Mm ... suka. Cantik dan terasa agak nyaman juga," kata Cherry sambil fokus memperhatikan sekeliling.
Sebenarnya, yang ia perhatikan bukan keadaan ruangan. Tapi melainkan, sekeliling ruangan yang ada atau tidak cctv pengaman dari ruangan tersebut.
"Lho kenapa?"
"Biar bisa langsung berkomunikasi aku sama kamu dari ruangan sebelah. Lagian, biar berada ada temannya gitu saat kerja."
"Aditya!"
__ADS_1
Seketika, perhatian Cherry dan Aditya langsung terfokus pada pintu ruangan yang memang tidak di tutup karena mereka baru masuk ke dalam. Panggilan keras itu membuat keduanya kaget. Tepatnya, Aditya. Sedangkan Cherry biasa saja. Karena dia sudah memperkirakan akan hal ini pasti terjadi. Soalnya, salah satu karyawan kantor ini pasti ada mata-mata Chika. Yang Chika tugaskan untuk mengawasi Aditya.
"Chika." Aditya berucap dengan nada agak kaget.
"Oh, ini kerjaan kamu di kantor ya? Ngobrol hangat bareng perempuan yang tidak tahu diri ini?"
"Chika! Ngomong apa sih kamu?" Aditya langsung membentak Chika dengan keras.
"Hah? Kamu udah berani bentak aku sekarang, Aditya? Dasar pria gak tahu malu kamu ya? Gak sadar diri. Kamu bisa ada di sini itu karena aku, Aditya. Jangan lupa akan hal itu."
Terasa begitu hangat wajah Aditya karena ucapan Chika barusan. Bagaimana tidak? Di depan umum, Chika malah merobek harga dirinya dengan mengatakan kata-kata tersebut. Chika benar-benar perempuan yang tidak punya perasaan. Belum menikah saja sudah bisa berkata kasar seperti ini. Apalagi jika sudah menikah. Mungkin, Aditya ia anggap sebagai benalu yang hanya bisa menumpang hidup dari harta keluarga yang ia miliki.
"Chika! Lancang kamu ya!"
Plak! Sebuah tamparan mendarat di pipi Chika. Aditya yang sudah tidak bisa menahan amarah, tidak bisa berpikir jernih lagi. Langsung saja, tangannya melayang tanpa ada pertimbangan sedikitpun.
Seketika, semua yang ada di sana di buat kaget bukan kepalang. Seorang Aditya begitu berani menyentuh wajah si tunangan yang terkenal sangat di sayangi keluarga. Tiba-tiba, semua yang ada di sana langsung merasa ngeri akan nasib buruk apa yang sedang menunggu Aditya setelah kejadian ini.
Sementara itu, Cherry sedang berusaha menahan rasa bahagia akibat perlakuan Aditya terhadap Chika. Tapi, itu dia rasa masih belum cukup. Karena apa yang sudah dia terima waktu itu, jauh lebih menyakitkan dari pada apa yang Chika dapatkan saat ini.
__ADS_1
Cherry pun maju untuk menenangkan Aditya yang sedang marah. "Adit, jangan begini. Tolong tenangkan dirimu sekarang. Ini tidak benar, Adit."
Ucapan dengan nada lembut yang disertai dengan rasa bersalah itu membuat Chika yang mendengar semakin naik emosi. Dia yang awalnya masih memegang pipi akibat bekas tamparan Aditya, langsung melepaskan tangannya dari pipi.