Bangkitnya Gadis Tertindas

Bangkitnya Gadis Tertindas
*BGT Bab 46


__ADS_3

"Ap-- apa maksudmu?" Cherry berucap sambil menatap lekat Zein.


Karena kata-kata Zein barusan terdengar agak berbeda di kuping Cherry. Seperti seseorang yang selalu ingin melindungi orang yang ia cintai. Begitulah perasaan Cherry menanggapi perkataan Zein barusan.


"Maksudku, tuan muda sangat peduli dengan nona. Saat ia tahu kalau nona dalam bahaya, tanpa pikir panjang lagi, tuan muda langsung bertindak."


Belum sempat Cherry menjawab apa yang Zein katakan, Gerry tiba-tiba saja muncul dari balik pintu kamar yang tertutup rapat. Dan kemunculan Gerry itu langsung mengalihkan perhatian Zein dan juga Cherry.


Sementara Gerry, ia yang melihat Zein ngobrol dengan Cherry, sontak langsung memberikan tatapan tajam penuh dengan amarah ke arah Zein. Gerry kesal akibat Zein yang tidak memberitahukan padanya, kalau orang yang ia harapkan kesadaran dari kemarin, kini sudah sadarkan diri.


"Tu-- tuan muda. Ma-- maaf. Maafkan saya yang tidak langsung memanggil tuan muda ketika nona Cherry sudah sadar. Saya ... saya salah." Zein bicara dengan nada yang penuh dengan penyesalan.


Cherry yang merasa bersalah karena dialah penyebab Zein tidak bisa memberitahukan pada Gerry kalau dirinya sudah sadar, langsung angkat bicara. "Maaf, tuan muda. Dia tidak salah. Yang salah itu aku karena sudah menghalanginya untuk memanggil tuan muda tadi," ucap Cherry dengan suara pelan sambil menundukkan wajahnya.

__ADS_1


Gerry langsung mengabaikan Zein seketika. Dia pun bergegas mendekati perempuan yang kini sedang memasang wajah sedih di hadapannya.


"Kenapa bersedih? Aku tidak mempermasalahkan hal sepele ini," kata Gerry sambil menyentuh lembut bahu Cherry dengan kedua tangannya.


Cherry masih tidak mengangkat wajahnya. Tapi, juga tidak memberikan penolakan atas apa yang Gerry lakukan saat ini. Dia sangat jauh berbeda dari sebelumnya. Entah itu karena memang niat Cherry untuk berbaikan dengan Gerry, atau karena hatinya yang kini masih sangat rapuh saat kejadian berat yang ia alami beberapa saat yang lalu.


Tapi satu hal yang pasti, Cherry sangat jauh berbeda dari sebelumnya. Gerry yang kenal dengan Cherry saat ini saja merasa kalau ada perbedaan yang sangat jauh dengan Cherry saat ini.


'Dia begini, apa mungkin karena tampilannya yang berbeda? Atau ... apa karena trauma yang dokter katakan itu? Sungguh, dia gadis yang sangat malang ternyata.' Gerry bicara dalam hati sambil menatap sayu penuh prihatin ke arah Cherry.


Ucapan itu membuat Cherry langsung mengangkat wajahnya. "Tuan muda, terima kasih atas semaunya. Terima kasih atas kebaikan yang sudah tuan muda berikan padaku. Maaf, aku mungkin tidak bisa membalas kebaikan itu."


"Aku tidak membutuhkan balasan, Cherry. Karena apa yang aku lakukan, itu sangat membuat aku bahagia. Aku menolong kamu dengan tulus, karena aku merasa, kalau aku harus melakukan hal itu."

__ADS_1


"Tidak. Jangan lakukan lagi kedepannya, tuan muda. Meskipun anda bahagia menolong saya, tapi saya yang tidak bahagia karena telah menerima kebaikan yang sangat besar dari anda. Saya berhutang nyawa pada tuan muda. Dan itu bukan hanya satu kali saja. Melainkan, sudah untuk yang kedua kalinya. Jadi, tolong jangan lakukan itu lagi, tuan muda."


"Tunggu! Apa yang baru saja kamu katakan? Kamu bilang kalau saya sudah membuat kamu berhutang nyawa untuk yang kedua kalinya? Apa maksud kamu?"


Cherry tidak langsung menjawab. Ia tatap lekat wajah pria yang kini ada di hadapannya. Pria asing, yang awalnya ingin ia sakiti karena dendam masa lalu. Tapi kenyataannya, pria itu adalah malaikat penolong yang telah rela mengorbankan dirinya sendiri hanya untuk menolong dia yang jelas bukan siapa-siapa itu. Menyelamatkan nyawanya yang mungkin dia sendiri menganggap kalau nyawa itu tidak ada harganya setelah ia kehilangan sang kakak tercinta.


"Tuan muda ingat kebakaran lima tahun yang lalu?"


Mata Gerry langsung membulat sempurna. Tentu saja ia ingat. Bahkan, selalu terbayang dengan jelas kejadian itu hingga saat ini. Dan juga, sakitnya pun masih ia rasakan.


Tapi, rasa bersalah juga rasa kesal akibat tidak bisa menemukan perempuan yang ia tolong lebih besar dari rasa sakit yang ia derita. Dia sudah berusaha keras, tapi tetap saja, masih tidak menemukan perempuan itu. Jadi, ketika Cherry mengatakan prihal naas lima tahun yang lalu, tentu saja ia langsung berpikir tentang perempuan yang ia tolong lagi.


"Li-- lima tahun yang ... lalu? Jadi ... itu kamu?" Gerry berucap dengan suara yang terputus-putus karena terlalu gugup.

__ADS_1


"Ya, tuan muda. Itu aku. Perempuan malang yang anda tolong, yang membuat tuan muda terluka. Sungguh, aku minta maaf dan sangat berterima kasih pada tuan muda."


"Jangan berterima kasih padaku, Cherry. Karena kejadian itu, aku merasa sangat bersalah karena tidak bisa menyelamatkan kalian berdua. Aku sangat menyesal, karena aku yang datang terlambat. Coba saja aku datang lebih cepat, maka aki juga bisa menyelamatkan nyawa kakakmu."


__ADS_2