
Setelah berucap kata-kata itu, Aditya langsung ingin meninggalkan kedua orang tuanya. Tapi sayang, papanya tidak akan membiarkan Aditya untuk pergi. Karena obrolan mereka masih belum selesai. Begitu pula sang mama yang juga merasa tidak setuju dengan apa yang sedang Adit pikirkan.
"Tunggu, Adit!" Sang mama langsung mengeluarkan suara untuk menahan kepergian Aditya.
Aditya terdiam karena langkah langsung tertahan akibat panggilan itu. "Apa lagi, Ma?" Adit berucap masih dengan tubuh yang tetap membelakangi kedua orang tuanya.
"Mama hanya ingin kamu memikirkan baik-baik apa yang akan terjadi jika kamu masih bersikeras untuk melawan keluarga Sudirja, Adit. Terutama, Chika. Dia adalah anak kesayangan dari keluarga itu. Dia perempuan yang ambisius, Aditya. Jangan lupa kalau kamu sudah pernah mencoba. Tapi sayangnya, kamu gagal lepas, bukan?"
Perlahan, Aditya memutar tubuh untuk menghadap ke arah sang mama yang kini masih berada di belakangnya. Ucapan mamanya barusan membuat rasa kesal dalam hati Aditya kembali membesar.
"Aku gagal itu karena mama dan papa tidak pernah mendukung keputusanku. Coba aja kalo mama dan papa berada di belakangku untuk mendukung semua keputusan yang aku buat. Maka kata gagal itu tidak akan pernah ada, Ma."
"Terutama papa. Papa yang tidak pernah ingin kehilangan perusahaan mana mungkin bisa melawan keluarga Sudirja yang jelas-jelas adalah investor terbesar untuk perusahaan kita. Iya, kan Pah, Mah?"
Mendengar ucapan itu, papa Adit sepertinya cukup kesal. Dia ingin langsung bangun untuk memarahi Aditya saat itu juga. Tapi, mama Adit tidak membiarkan suaminya angkat bicara. Ia tahan dengan cepat saat suaminya ingin mengangkat bibir buat menjawab apa yang anaknya katakan.
__ADS_1
"Bukan kami yang tidak ingin mendukung kamu, Dit. Tapi keluarga Sudirja memang bukan tandingan kita. Apalagi saat perusahaan papa hampir bangkrut dan tidak lagi berada di atas kejayaan. Maka kita sama sekali tidak bisa mengangkat wajah dihadapan keluarga Sudirja."
"Ditambah, Chika yang seorang gadis penuh dengan ambisi. Anak kesayangan yang selalu di utamakan. Apapun yang ia inginkan, selalu diberikan. Bagaimanapun caranya, Aditya. Dia pasti berusaha mendapatkan apa yang ia mau."
"Jangan lupa akan apa yang sudah pernah terjadi, Dit. Jangan ulangi kesalahan yang sama. Karena kamu akan menjadi penyebab menderitanya perempuan yang sudah berani bersaing dengan Chika. Apalagi ketika bersaing itu karena kamu. Apa kamu tidak merasa bersalah nantinya?"
Sontak saja, ucapan sang mama membuat benak Ditya berputar cepat. Beberapa penggal memori dari masa lalu langsung berputar kembali dalam benak Aditya.
Iya, bukan hanya sekali dia ingin lepas dari Chika. Tapi, karena usaha Chika yang cukup keras, dia tetap bersama Chika lagi.
Entah usaha Chika yang keras, atau Aditya yang memang lemah. Tapi yang jelas, Aditya seakan tidak bisa lepas dari jerat Chika. Bukan cinta, melainkan ambisi untuk memiliki apa yang ia mau. Karena cinta tidak akan pernah mengikat dengan paksa.
Sementara kedua orang tuanya masih membahas soal anak mereka di ruang tamu.
"Mama yakin kalau apa yang mama katakan akan berhasil, Ma?" Papa Adit bicara setelah Aditya menghilang dibalik pintu kamar.
__ADS_1
"Tentu saja. Papa lihat aja nanti."
"Bagaimana jika tidak berhasil."
"Aditya itu anak mama. Mama tahu kalau dia punya hati yang lembut."
Tidak ada jawaban dari papa Aditya. Tapi matanya melihat dengan penuh harap. Orang tua yang dulu sempat berada di atas kejayaan, kini sangat takut akan jatuh ke bawah. Maka dari itu, mereka hanya bisa mengandalkan anak mereka untuk terap bertahan di atas kedudukan yang mereka injak saat ini.
Sementara itu, di sisi lain, Gerry sedang berada di kamarnya. Kedatangan Zein membuat lamunan Gerry akan gadis yang sudah bertarung dengannya malam itu langsung buyar.
"Tuan muda terlihat sedang memikirkan seseorang. Apa itu perempuan, tuan muda?" tanya Zein dengan suara menggoda.
Sontak, hal tersebut langsung membuat Zein mendapat tatapan tajam dari Gerry. "Kau ingin cuti, Zein? Katakan saja jika sudah lelah bekerja."
"Eh, aku hanya bercanda, Tuan muda. Jangan seserius amatlah. Hidup harus sedikit berhibur biar gak terlalu tegang."
__ADS_1
"Jangan banyak omong. Katakan apa tujuanmu datang ke kamarku malam-malam begini. Kau sedang tidak lupa waktu, bukan?"
"Ti-- tidak, tuan muda. Maaf, aku sudah menganggu waktu istirahat tuan muda. Aku datang untuk menyerahkan laporan tentang perempuan yang ingin tuan muda ketahui latar belakangnya." Zein langsung menyerahkan map ke datang Gerry.