
Kata itu berhasil Gerry ucap dengan sangat lancar. Tapi, Cherry tidak tahu sebelum kata itu Gerry lepaskan padanya saat ini, Gerry begitu keras berusaha tanpa malu untuk menghafal kata itu agar bisa ia ucapkan dengan baik di hadapan sang pujaan hati.
"Mas Gerry ... aku .... "
"Aku mencintaimu, Cherry. Siap melakukan segalanya buat kamu. Termasuk, mengorbankan nyawaku hanya untuk kamu." Gerry langsung berucap kembali.
Ucapan Gerry barusan membuat Zein langsung menepuk jidatnya dengan pelan. Sementara Zia yang ada di samping Zein, hanya bisa tersenyum geli melihat tangan kanan dengan majikan sama-sama bersikap spontan dan lugu.
"Ya Tuhan, tuan muda. Kenapa langsung nyerobot sih? Kan gak tahu kalau nona Cherry mungkin ingin menjawab sekarang. Lah, tuan muda malah langsung memotong ucapan nona. Aduh, bagaimana sih kamu, tuan muda?"
Zein berucap pelan. Zia pun semakin melebarkan senyumannya. "Kenapa, Kak? Tuan muda terlihat lucu, kah?"
"Lucu apanya, Zia? Memalukan, iya." Zein berucap dengan kesal.
"Yuhu, kamu bilang dia memalukan? Jika dia tahu, mungkin kamu akan kena amukan tuan muda, kak Zein."
"Mm ... sejujurnya, tuan muda itu bersikap wajar kok, kak. Karena tentunya, tuan muda saat ini pasti sedang sangat gugup."
__ADS_1
Ucapan itu tidak Zein jawab. Karena sekarang, ia kembali fokus pada apa yang Gerry dan Cherry lakukan.
"Sejak kapan kamu jatuh cinta padaku, Mas Gerry?"
"Aku tidak tahu entah sejak kapan, Cher. Yang jelas, sekarang aku sudah menyadari jika aku cinta kamu. Aku ingin memiliki kamu seutuhnya sekarang, besok, dan nanti."
"Tapi ... kau tahu bukan siapa aku? Bagaimana jika aku langsung menerima lamaran mu sekarang, tapi bukan karena cinta, Mas? Melainkan, karena ingin balas dendam padamu, juga keluargamu."
"Aku siap menerima dendam itu, Cher. Jika dendam yang ada dalam hatimu masih ingin kamu lanjutkan ke aku juga keluargaku, aku siap menerimanya. Apapun yang terjadi, aku tetap mencintai kamu. Karena rasa cinta untukmu, sangat tulus dalam hati ini."
Ucapan itu membuat Cherry sedikit terharu. Dia pun langsung diam menatap Gerry yang masih terus berjongkok dengan tangan yang terus mengangkat cincin di depan Cherry.
"Pertanyaan macam apa itu, Cher? Chika masuk penjara bukan karena kamu. Tapi, memang sudah seharusnya ia mendekam di dalam penjara karena semua kesalahan yang ia lakukan. Dan seharusnya, mama itu berterima kasih padamu karena sudah membuat ia sadar akan kesalahan yang sudah ia perbuat. Bukan malah membenci kamu."
"Tapi, jikapun mama benci, aku akan tetap mencintai kamu. Aku akan tetap memilih kamu sebagai calon ibu dari anak-anakku. Karena jangankan mama, dunia saja menolak aku tetap akan memilih kamu. Aku tidak akan memperdulikan kebencian orang lain padamu. Karena yang pasti, cintaku padamu tidak akan berubah."
"Bagaimana jika .... "
__ADS_1
"Cherry. Kamu sudah tahu segalanya, bukan? Jadi, hanya satu hal yang harus kamu lakukan sekarang. Jawab lamaran aku dengan kata iya, atau tidak. Itu saja."
Cherry lagi-lagi terdiam. Sepertinya, lamaran yang Gerry buat sedikit membuat dia bingung. Dan sekarang, dia harus berpikir keras untuk menerima atau tidak.
Namun, hatinya tidak bisa ia bohongi, kalau ia juga cinta Gerry. Dia jatuh cinta pada pria itu sejak pertama mereka bertemu. Meskipun pertemuan itu sangat tidak menyenangkan. Tapi dalam hatinya, sudah tumbuh benih cinta mulai dari malam itu.
"Baiklah, tuan muda Gerry Sudirja, aku ... menerima lamaran ini."
Sontak, ucapan itu langsung membuat hati Gerry melayang. Dia serasa berada di atas awan saat ini. Tanpa pikir panjang lagi, ia langsung bangun dari jongkoknya. Segera, dia rangkul tubuh ramping Cherry dengan erat karena hatinya sangat bahagia.
Gerry pun terus memeluk Cherry hingga beberapa menit berlalu. Hal itu membuat Zein yang ada di balik tanaman hias merasa agak kesal sekaligus gemes dengan satu pasangan anak manusia yang tidak memikirkan dunia sekitar lagi. Karena itu, pikiran usil Zein mendadak muncul.
"Ehem. Uhuk-uhuk. Tuan muda, cincinnya masih belum tuan muda pasang lho."
Seketika, ucapan itu langsung membuat pelukan Cherry dan Gerry terlepas. Sementara Zein, kini di tegus dengan nada kesal oleh Zia.
Cherry yang tidak menyangka akan kehadiran orang lain di taman ini langsung memasang wajah merona karena malu. Sedangkan Gerry, ia menatap kesal ke arah Zein.
__ADS_1
Zia yang juga merasa bersalah, langsung angkat bicara. "Maafkan kami tuan muda. Kak Zein ternyata sangat tidak sabaran."
"Huh, sepertinya dia sudah bosan bekerja denganku. Mungkin, dia harus aku kirim ke padang pasir yang tandus supaya bisa bekerja dengan unta liar."