Bangkitnya Gadis Tertindas

Bangkitnya Gadis Tertindas
*BGT Bab 31


__ADS_3

"Ah, hanya itu saja untuk sekarang. Karena saya ada rapat. Maka dari itu, tidak bisa membahas hal lain terlebih dahulu."


"Oh, iya kah? Mm ... baiklah, tuan muda. Jika ada waktu, mungkin kita bisa bicara lagi nantinya. Panggil saja saya jika ada perlu, tuan muda. Saya siap bertemu tuan muda kapan saja."


Cherry semakin terlihat genit sekarang. Gerry yang melihat hal itu merasa semakin tidak nyaman. Namun, sebisa mungkin dia bertahan agar tidak memperlihatkan apa yang ia rasakan.


"Oh iya. Pasti. Akan saya panggil kamu jika ada yang ingin saya bahas dengan kamu. Sekarang, silahkan, kamu bisa pergi."


Cherry pun bangun dari duduknya. Tak lupa dia memberikan senyum genit ke arah Gerry sebelum ia beranjak.


Hal itu sengaja Cherry lakukan agar Gerry merasa tidak nyaman bersamanya. Maklum, Gerry ini adalah tipe pria yang tidak suka akan perempuan yang terlalu gampangan. Jadi, dengan sikapnya yang genit ini, Cherry beranggapan kalau Gerry tidak akan suka bertemu dengannya lagi. Karena Cherry sendiri tidak suka bertatap muka dengan Gerry.


Entah kenapa, saat bertemu Gerry, dia merasa sangat tidak nyaman. Bukan hanya bertemu Gerry, bahkan ketika mendengar nama Gerry saja, jantung Cherry mendadak berdetak dua kali lebih cepat.


Mungkin karena pertemuan malam itu, atau karena alasan yang lainnya. Namun satu hal yang pasti, Cherry merasa ada yang aneh dengan hatinya jika nama Gerry terdengar di kupingnya.


Sementara itu, apa yang Cherry pikirkan sebenarnya sama dengan yang Gerry alami. Tapi sepertinya, Gerry punya keinginan yang berbeda. Jika Cherry ingin menjauh, Gerry malah ingin mendekat.

__ADS_1


Di tambah dengan keyakinan yang tumbuh dalam hati Gerry setelah melihat Cherry secara langsung. Hatinya yang tidak suka perempuan gampangan alias terlalu genit, malah berpikir sebaliknya untuk Cherry.


'Aku yakin jika yang barusan itu adalah sandiwara semata. Kau pikir aku bodoh, perempuan? Sayangnya pikiran itu salah besar. Aku tidak mudah ditipu, kau tahu? Aku paling pintar mengenali sifat orang lain.' Gerry berkata sambil terus memperhatikan kepergian Cherry.


Seketika, lagi-lagi ingatan akan perempuan itu tergambar dalam benak Gerry. Gerak jalan Cherry saat ini, sama persis dengan perempuan yang sudah berhadapan dengannya malam itu. Meski dengan tampilan yang berbeda, tapi tidak bisa menyembunyikan kalau gerakan itu datang dari orang yang sama.


"Aku yakin itu kamu, perempuan. Jika begitu, aku ikuti gerak main mu. Kita sama-sama bermain peran. Kita lihat nanti, siapa yang menang dalam permainan ini. Aku, atau kamu?"


....


Waktu terasa sangat cepat berjalan. Hari ini adalah hari pernikahan Chika dengan Aditya. Yah, meskipun hanya menikah tanpa pesta terlebih dahulu karena itu adalah permintaan Aditya yang tidak ingin ada perayaan jika Chika ingin menikah dengannya.


Ada lumayan banyak tamu yang datang. Hotel megah juga di booking full untuk pesta itu diadakan. Intinya, pernikahan itu ada pesta, meski tidak semewah yang Chika harapkan sebelumnya.


Aditya ingin marah. Tapi sayang, tidak ada gunanya. Hari pernikahan sudah tiba. Tidak ada pilihan lain buat Aditya selain menikah, meskipun hatinya tidak menginginkan pernikahan itu terjadi.


Sementara itu, dikediaman Cherry, Zia sedang gusar akibat kabar pernikahan Aditya. Zia yang gusar karena dia tahu, Cherry sedang ingin balas dendam dengan perempuan yang bernama Chika.

__ADS_1


Cherry mengatakan ingin mengambil semua yang Chika miliki. Tapi kenyataannya, Chika malah tidak berpisah dengan orang yang ia cintai. Bahkan, dia malah ingin menikah dengan pria itu sekarang. Kalau begini, dendam Cherry sama sekali tidak terbalaskan namanya. Hal itulah yang membuat Zia gusar setengah mati saat ini.


Namun, hal yang berbeda Cherry perlihatkan sekarang. Jika Zia gusar, dia malah sangat tenang sekarang.


"Nona, kenapa nona masih tetap tenang? Bukankah rencana nona untuk balas dendam sebentar lagi di sebut gagal?"


Cherry tersenyum. Gelas jus masih ia tatap dengan tatapan dingin. "Siapa bilang aku gagal, Zia? Bahkan, aku hampir menang sebentar lagi."


Ucapan itu langsung membuat Zia menaikkan satu alisnya karena bingung. "Ap-- apa maksud, nona? Nona hampir menang? Tapi, musuh nona akan menikah dengan pria yang ia inginkan. Kenapa nona pikir itu adalah sebuah kemenangan?"


"Yah, kita punya pemikiran yang berbeda, Zia."


"Maksud, nona?"


Lagi-lagi, Cherry tersenyum lebar.


"Apa yang lebih menyakitkan dari pada memiliki raga, tapi tidak memiliki hati, Zia."

__ADS_1


"Pernikahan antara Chika dengan Aditya sengaja aku biarkan. Aku tidak merusak sedikitpun rencana pernikahan itu karena aku memang menginginkan mereka menikah. Setelah itu, baru aku merusak rumah tangga mereka secara perlahan."


__ADS_2