
Hal itu agak mengganggu buat Gerry. Tapi, karena sibuk dengan Cherry, dia malah langsung mengabaikan rasa terganggu yang sedang ia rasakan.
"Panggil dia ke ruangan ku sekarang juga. Sejak kedatangannya, aku sama sekali belum pernah bicara langsung dengan dia. Karena itu, minta dia datang keruangan ku untuk bicara."
"Baik, tuan muda."
"Oh ... m ... apa ada yang lain lagi?" Zein bicara dengan nada yang penuh dengan godaan.
Sontak, Gerry langsung menoleh. "Apa?"
"Ah, ha ha ha ... ti-- tidak ada apa-apa, Tuan muda. Hanya bercanda saja."
"Perintah akan saya lakukan sekarang juga, tuan muda." Zein langsung kabur setelah memperlihatkan senyum seringai yang tidak enak.
Gerry yang paham akan hal itu, hanya bisa menatap dengan kesal ke arah Zein. Namun, jauh di lubuk hati Gerry yang paling dalam, dia bahagia. Entah karena apa, yang jelas, hatinya bahagia.
.....
Beberapa saat kemudian, Cherry datang ke ruangan Gerry. Awalnya, permintaan untuk bertemu dengan Gerry yang Zein sampaikan membuat Cherry gugup. Sangat gugup sampai tidak tidak bisa langsung menjawab perintah yang Zein bawa.
__ADS_1
Namun, bukan Cherry namanya jika dia tidak pintar memainkan keadaan. Meskipun dia sedang dalam amarah besar, dia juga akan mampu mengendalikan raut wajah agar tidak terlihat oleh orang lain.
Tapi sepertinya, rasa gugup itu sulit untuk dia cegah. Ketika ia tiba di ruangan Gerry, mendadak, perasaan itu muncul kembali. Rasa gugup akan sebuah pertemuan. Memang bukan yang pertama, tapi sepertinya, cukup menggetarkan hati lebih dari pertemuan yang pertama kali.
'Ya Tuhan. Ada apa ini? Kenapa aku mendadak gugup sekarang? Bukankah tadi aku sudah berhasil menenangkan hati?' Cherry berkata dalam hati dengan tangan yang menggenggam erat gagang pintu ruangan Gerry.
Namun, siapa sangka kalau gagang yang Cherry pegang itu bisa berputar tanpa ada gerakan dari Cherry. Ya itu karena si penghuni ruangan yang menggerakkannya. Alias, Gerry yang memutar gagang pintu dari dalan ruangan.
Seketika, suasana yang sangat tidak biasa langsung tercipta. Gerry dan Cherry yang langsung bertukar pandang satu sama lain dengan posisi tangan yang masih memegang gagang pintu, tentu mereka berada di jarak yang sangat dekat.
Beberapa saat lamanya, mereka sama-sama terdiam dengan mata yang saling tatap. Tidak ada yang bergerak sedikitpun. Mereka seperti membatu di sana. Entah karena apa. Tapi yang jelas, sepertinya, waktu sedang berhenti tepat di saat pintu yang terbuka.
"Tuan muda ini .... " Suara salah satu karyawan yang baru tiba langsung tertahan akibat pandangan langkah yang ada di depan matanya saat ini.
"Ee ... ma-- maaf, tu-- tuan muda. Sa-- saya hanya ... hanya ingin .... " Si karyawan terlihat sangat gugup sekarang. Bahkan, bicara saja dia hampir tidak bisa.
"Sini! Kamu bawa berkas yang saya minta, bukan? Jadi serahkan sekarang!"
Dengan gemetaran, si karyawan menyerahkan berkas yang ia bawa. Selanjutnya, dia langsung izin pergi.
__ADS_1
"Kamu ikut aku!" Gerry berkata dengan suara tenang pada Cherry sekarang. Agak sedikit berbeda dengan nada yang ia ucapkan saat bicara dengan karyawan yang tadi.
Cherry yang cukup peka sedikit mengerti. Namun, dia ingin berpura-pura bego saja. Tidak menjawab apa yang Gerry katakan, tapi langsung mengikuti apa yang Gerry ucap. Masuk ke dalam mengikuti Gerry dari belakang.
"Duduk!"
"Makasih, tuan muda."
Ucapan pertama langsung membuat Gerry teringat akan perempuan yang sudah berhadapan dengannya. Cukup luar biasa, Gerry yang terlahir dengan tingkat kepekaan yang tinggi, langsung bisa merasakan kehadiran orang yang sama. Dari aroma tubuh,
sampai tatapan mata, semuanya ia merasa sangat mirip.
Namun, saat ini dia tidak ingin membahas hal di luar jam kerja. Tepatnya, belum saatnya membahas hal yang masih belum pasti. Karena itu, dia ingin terlihat tidak tahu apa-apa terlebih dahulu.
"Aku panggil kamu karena aku ingin bertemu secara langsung dengan manajer luar negeri yang sedang bekerja di perusahaan ku. Karena sudah lama anda bekerja di sini, tapi kita masih belum pernah sekalipun bertatap muka secara langsung."
"Oh. Mm ... apa hanya itu saja yang ingin, tuan muda bahas dengan saya sekarang? Tidak ada yang lain lagi, kah?" Mendadak, Cherry berucap dengan nada agak manja dan terkesan cukup genit di telinga Gerry.
Hal tersebut cukup membuat Gerry geli sekarang. Tapi, jika memikirkan perempuan malam itu, dia malah langsung menyingkirkan rasa geli itu dengan cepat.
__ADS_1
"Ah, hanya itu saja untuk sekarang. Karena saya ada rapat. Maka dari itu, tidak bisa membahas hal lain terlebih dahulu."
"Oh, iya kah? Mm ... baiklah, tuan muda. Jika ada waktu, mungkin kita bisa bicara lagi nantinya. Panggil saja saya jika ada perlu, tuan muda. Saya siap bertemu tuan muda kapan saja."