
"Ti-- tidak, tuan muda. Maaf, aku sudah menganggu waktu istirahat tuan muda. Aku datang untuk menyerahkan laporan tentang perempuan yang ingin tuan muda ketahui latar belakangnya." Zein langsung menyerahkan map ke datang Gerry.
Namun, belum sempat Gerry membuka, Zein langsung berucap lagi. "Maaf, tuan muda. Aku hanya bisa mencari sedikit info yang mungkin bagi tuan muda tidak terlalu penting. Tapi, inilah hasil kerja kerasku selama tiga hari kemarin. Tidak bisa aku cari yang lebih berarti lagi, tuan muda."
Sontak, Zein langsung mendapat tatapan tajam kembali. "Apa perempuan ini sungguh sangat misterius, Zein. Baru pertama kali aku mendengar kamu mengeluh akan tugas yang aku berikan. Mana aku beri kamu waktu khusus lagi."
"Iya, Tuan muda. Perempuan ini luar biasa. Lebih sulit dari yang aku bayangkan."
Gerry tidak berucap. Namun, tangannya lihai membuka amplop coklat yang Zein berikan barusan.
Isi dari amplop tersebut hanya selembar kertas putih dengan sedikit tulisan. Juga, selembar foto perempuan dengan senyum lebar yang memperlihatkan gigi yang tersusun dengan rapi.
"Hanya ini, Zein?" Pertanyaan yang sarat akan makna membuat Zein tertunduk.
"Iy-- iya, tuan muda. Hanya itu yang bisa saya dapatkan untuk tuan muda." Zein berucap dengan suara pelan karena hatinya agak ragu juga takut.
"Menarik. Membuat aku semakin ingin tahu lebih banyak lagi."
__ADS_1
Entah kenapa, Gerry merasa tertarik dengan perempuan itu. Dia pun langsung memperhatikan foto tersebut dengan seksama.
Ketika ia menatap mata dari foto tersebut, dia sekilas teringat akan perempuan tangguh yang telah beradu tangan dengannya kemarin malam. Mata perempuan itu seakan sama persis dengan perempuan yang berkelahi dengannya. Hanya saja, tampilan keduanya memang sangat jauh berbeda.
Jika perempuan yang ada di foto terlihat anggun dengan pakaian perempuan yang ia kenakan. Perempuan malam itu lebih ke gadis bar-bar dengan tampilan yang cukup mencolok dengan rambut hijau terang juga kaca mata besar yang ia kenakan.
"Zein, aku ingin kamu mencari tahu tentang perempuan yang berkelahi dengan ku malam kemarin. Juga, perempuan yang ini. Selidiki lagi dengan teliti. Aku ingin informasi yang lebih akurat tentang keduanya."
Ucapan itu sontak membuat Zein langsung tercengang. Dia yang merasa bingung sekaligus sangat penasaran dengan maksud dari tuan mudanya yang ingin tahu akan seorang perempuan. Hal yang sangat langka setelah sekian lama mereka bersama. Ya itu, Gerry yang membahas akan seorang perempuan.
"Tuan ... muda. Apa ... tuan muda yakin dengan apa yang tuan muda katakan barusan?"
"Apa permintaanku terlihat sangat tidak meyakinkan, Zein?"
"Ah, bu-- bukan itu maksud saya, tuan muda. Mm ... gini, tuan muda. Setelah sekian lama kamu tidak pernah ingin tahu akan orang lain. Terutama, seorang perempuan. Tapi setelah kemunculan perempuan yang akhir-akhir ini agak meresahkan kantor, kamu jadi berubah jauh. Bukan hanya sekedar ingin tahu siapa dia. Tapi, kamu terlihat cukup ingin mengenalnya lebih jauh. Bukankah itu hal yang sangat langka, Tuan muda?"
Gerry tidak langsung menjawab. Dia malah terdiam dengan tatapan lurus ke depan. Sejujurnya, dia juga agak bingung dengan apa yang hatinya rasakan. Entah kenapa, setelah bertemu dengan perempuan itu, dia merasa sangat ingin tahu akan perempuan itu lebih jauh lagi.
__ADS_1
"Tu-- tuan muda." Zein yang tidak mendengar jawaban dari Gerry, sontak langsung memanggil Gerry dengan nada agak gelagapan karena gugup.
"Jangan banyak bicara, Zein. Lakukan saja apa yang aku katakan. Temukan semua informasi tentang kedua perempuan ini. Aku ingin tahu semuanya."
"Baik, tuan muda. Saya paham apa yang sedang tuan muda pikirkan."
Zein kini malah tersenyum. Tidak sedikitpun ada rasa canggung lagi sekarang. Karena saat ini, dia cukup yakin dengan apa yang sedang ada dalam pikirannya. Gerry sedang tertarik oleh lawan jenis. Hal yang cukup membahagiakan buat Gerry, juga mungkin buat papa Gerry. Karena selama ini, papa Gerry selalu menginginkan seorang menantu agar anaknya bisa dijaga dengan baik oleh seorang istri.
.....
"Apa nona baik-baik saja sekarang?" Zia bertanya dengan wajah cemas.
"Ya, aku baik-baik saja, Zia. Jangan cemas."
"Bagaimana bisa aku tidak cemas, Nona? Anda sudah mengorbankan diri anda sendiri hanya karena hal kecil. Apa anda tidak berpikir kalau ini agak kelewatan?"
"Zia. Nona tahu apa yang ia lakukan. Jadi, kamu tidak perlu cemas akan hal itu," kata Letto dengan tenang.
__ADS_1
Ya, saat ini, Zia, Letto, dan Cherry sedang berada di kamar Zia. Setelah kejadian tadi pagi, Zia langsung menghubungi kakaknya untuk menyampaikan berita itu. Letto yang cemas, tentu saja langsung datang ke kediaman Cherry.