
"Pernikahan antara Chika dengan Aditya sengaja aku biarkan. Aku tidak merusak sedikitpun rencana pernikahan itu karena aku memang menginginkan mereka menikah. Setelah itu, baru aku merusak rumah tangga mereka secara perlahan."
"Nona ingin jadi plakor? Jadi orang ketiga yang merusak rumah tangga orang lain? Tidak, nona. Ini sungguh bukan cara yang baik. Karena aku tidak ingin nama nona buruk akibat merebut suami orang lain."
Ucapan yang penuh dengan rasa cemas itu membuat Cherry langsung bangun dari duduknya. Lalu, dia tepuk pelan bahu Zia dengan satu tangan.
"Bukan aku yang akan merebut suami orang lain, Zia. Tapi suaminya sendiri yang akan pergi dari dia. Karena cinta yang bertepuk sebelah tangan akan selalu menyakitkan dari sebelah pihak yang terlalu berharap."
Zia terdiam. Perlahan, benaknya mulai memahami apa yang Cherry katakan. Sedangkan Cherry, dia terus tersenyum dengan pandangan lurus ke depan.
Yah, Cherry sangat yakin dengan apa yang sedang ia pikirkan. Karena apa yang sebelumnya ia semai, kini pasti sudah tumbuh subur meski ada hama yang datang untuk menganggu tumbuhan tersebut.
Seperti, dia yang sudah berhasil membuat Aditya merasa jatuh cinta padanya. Meski Chika berhasil menikah dengan Aditya nantinya, tapi Aditya tidak akan pernah bisa Chika miliki. Karena benih cinta yang Cherry tabur akan selalu menjadi penghalang untuk hubungan Chika dan Aditya.
Dan, pernikahan itu sengaja Cherry biarkan. Tidak ia ganggu sedikitpun persiapan pernikahan itu karena ia memang menginginkan pernikahan itu terjadi. Dia tidak akan jadi pelakor. Karena tanpa dia rusak juga, rumah tangga Aditya dan Chika pasti akan rusak tanpa harus dia merusak sebagai orang ketiga setelah Aditya dan Chika menikah.
....
__ADS_1
Di kamar hotel nan indah lagi mewah, sepasang anak manusia sedang bertengkar saat ini. Malam pertama yang seharusnya bahagia, kini malah terlihat sebaliknya. Yang seharusnya penuh cinta, kini malah penuh dengan amarah akibat pertengkaran keduanya.
Ya, itu adalah kamar pengantin Aditya dan Chika. Setelah resepsi, mereka langsung menempati kamar tersebut. Tapi, Aditya langsung mendorong Chika ketika Chika berusaha memeluk Aditya dari belakang.
"Apa yang kamu lakukan, Ditya!? Ini malam pertama kita. Kenapa kamu malah sangat kasar padaku!?"
"Persetan dengan malam pertama, Chika. Bagiku, tidak akan pernah ada malam pertama. Karena pernikahan ini, bukan aku yang menginginkannya. Kamu, keluargamu, juga kedua orang tuaku. Hanya mereka yang menginginkan pernikahan ini terjadi. Sedangkan aku, tidak sama sekali."
Chika langsung bangun dari jatuhnya.
Belum sempat Chika menyelesaikan ucapannya, Aditya malah langsung mendekat. Lalu, dia cengkram dagu Chika dengan keras. Sampai, Chika yang kaget langsung memasang wajah takut.
"Siapa aku!? Aku adalah suami kamu sekarang. Apa kamu puas dengan semua yang bisa kamu miliki saat ini, Chika!? Istriku yang tersayang?"
Dengan sekuat tenaga, Chika langsung mendorong Aditya untuk menjauh darinya.
"Aditya! Lancang kamu ya!"
__ADS_1
"Kenapa? Aku lancang? Tapi kamu suka, bukan?"
Aditya yang sebelumnya menjauh akibat dorongan dari Chika, kini berjalan mendengan dengan langkah pelan. Sedangkan Chika, dia pun ikut melangkah untuk menjauh. Tapi, dengan langkah mundur secara perlahan.
"Kau adalah perempuan yang tidak tahu malu, Chika. Aku menikah dengan kamu bukan karena aku tidak bisa menolak apa yang sudah menjadi keinginan kamu juga keluarga mu yang sok berkuasa itu. Tapi, aku menikah hanya untuk membalas dendam padamu."
"Kamu yang selama ini selalu mendapatkan apa yang kamu inginkan, maka akan aku balas dengan cara yang sama. Cara bersandiwara agar kamu tahu bagaimana sakitnya ditindas oleh orang terdekatmu sendiri."
"Jangan macam-macam, Aditya. Kamu akan tahu apa akibatnya jika kamu menyiksa aku malam ini. Kamu pikir, aku akan membiarkan kamu menyiksa aku begitu saja? Tidak akan. Ingatlah, orang tuaku tidak akan tinggal diam jika ada sedikit saja goresan di tubuhku ini," kata Chika dengan nada lantang penuh dengan keberanian sekarang.
Ucapan itu semakin membuat Aditya merasa kesal. Dengan kekesalan yang semakin memuncak, Adit langsung mencekik leher Chika dengan keras sampai Chika hampir tidak bisa bernapas.
"Agh, Aditya ... le-- pas ... kan aku." Dengan susah payah, Chika berucap.
Tapi sayang, ucapan itu sama sekali tidak Adit dengarkan. Dia terus melakukan apa yang sedang ia lakukan sekarang.
Karena rasa kesal dan hati yang sedang di penuhi dendam akan Chika, Aditya tidak bisa berpikir dengan baik lagi. Dalam hatinya hanya satu pikiran, jika bisa membunuh Chika, mungkin ia akan merasa sangat puas meskipun penjara yang akan menjadi imbalannya.
__ADS_1