Bangkitnya Gadis Tertindas

Bangkitnya Gadis Tertindas
*BGT Bab 54


__ADS_3

Perlahan, air mata jatuh dari sudut mata Cherry ketika ia mengingat bagaimana kakaknya pergi karena ingin menolong dia. Meskipun kejadian itu sudah lama, tapi rasa sakit itu masih nyata.


"Kamu yang sangat kejam, Chika. Rela melenyapkan nyawa orang lain hanya karena ambisi gila mu yang hanya sesaat itu. Dan sekarang, bagaimana rasanya? Apakah kamu nyaman tinggal di sini sendirian? Hidup tersisih di balik jeruji besi. Di benci oleh semua orang. Di lupakan oleh orang yang sebelumnya sangat menyayangi kamu. Apakah rasanya enak?"


Tubuh Chika semakin gemetaran karena ucapan Cherry barusan. Dia ingin marah, tapi sepertinya tubuh itu tidak mendukung niat yang ada dalam hati saat ini. Sekarang, yang bisa ia lakukan hanya diam menahan hati yang kesal bercampur sedih.


Sementara itu, Cherry kembali tertawa lepas.


"Ha ha ha. Chika, aku menang, bukan? Kamu kini meratap sedih di balik jeruji besi dengan kesepian yang pekat. Sedangkan aku, aku hidup bebas dengan kebahagiaan yang aku dapatkan sekarang. Bahkan, mama mu pun sudah aku rebut dari kamu."


Sontak, kata-kat itu kembali membuat mata Chika membulat lebar. Dia begitu kaget dengan apa yang baru saja kupingnya dengar.


Dengan tubuh yang semakin bergetar, ia genggam erat kedua tangannya.


"Apa maksud kamu, Cherry? Kamu mau berbohong seperti apa, hah!? Kamu tidak akan bisa merebut mamaku. Karena keluarga ku .... "


Seketika, ucapan Chika langsung tertahan ketika selembar surat undangan Cherry perlihatkan di hadapan Chika. Surat undangan pernikahan dengan desain yang sangat mewah. Di lengkapi dengan foto kedua calon mempelai yang menjadi cover depan dari undangan pernikahan tersebut.

__ADS_1


Chika yang melihat surat undangan tersebut, langsung merampasnya dari Cherry. Dengan kasar ia sobek undangan itu setelah ia perhatikan beberapa saat.


"Tidak. Aku tidak percaya jika kamu benar-benar akan menikah dengan kak Gerry. Tidak! Aku yakin kalau ini hanya tipuan kamu saja, Cherry. Aku yakin itu."


Chika berusaha menyanggah kenyataan yang ada di depan matanya. Yah, undangan itu adalah undangan pernikahan Gerry dan Cherry. Setelah keputusan persidangan Chika diketahui, Gerry langsung melamar Cherry malam itu.


Saat itu ....


Satu taman kota yang biasanya selalu ramai akan pengunjung, mendadak menjadi sepi malam ini. Cherry yang Gerry mintai datang ke taman tersebut, tentu langsung di buat bingung akan hal yang tak lazim terjadi sekarang.


Dengan penuh rasa bingung, Cherry tetap melanjutkan langkah kakinya memasuki taman yang sedang sepi. Tanpa mengurangi tingkat kewaspadaan tentunya, dia berjalan dengan langkah pelan.


"Ya Tuhan. Apa jangan-jangan, terjadi sesuatu di taman ini?"


"Tapi ... kenapa aku tidak melihat adanya tanda-tanda bahaya. Dan, jika taman ini sedang ada masalah, pasti ada peringatan di depan gerbang masuknya, bukan?"


Cherry terus bicara pada dirinya sendiri sambil berjalan dengan pandangan liar yang terus memperhatikan sekeliling. Hingga pada akhirnya, sebuah panah tanpa mata meluncur di hadapan Cherry.

__ADS_1


Cherry yang punya tingkat kewaspadaan yang tinggi, tentu langsung menangkap anak panah tersebut. Di sana, ia melihat sebuah surat yang terikat dengan pita merah.


"Surat?"


Tangan Cherry lihai melepaskan surat tersebut. Sesegera mungkin, ia buka surat itu karena hatinya sangat penasaran dengan pesan yang ada di dalamnya.


Mata Cherry sedikit membulat ketika isi dari surat tersebut telah ia baca. *Cherry, maukah kamu menikah denganku?* Begitulah tulisan singkat dengan tinta hitam pekat tapi terlihat mengkilat bak glitter yang bertaburan.


"I-- ini .... "


Belum juga Cherry selesai berucap. Derap langkah kaki membuat Cherry langsung memasang jurus untuk memukul orang yang kini datang dari belakangnya.


Namun, orang yang ingin ia pukul pun langsung ambil jurus menghindar. Dan pada detik berikutnya, orang itu sudah berjongkok di hadapan Cherry.


Siapa lagi itu kalau bukan Gerry. Dia yang sudah lama jatuh cinta pada Cherry, tentu tidak akan melepaskan sang pujaan hati untuk yang kedua kalinya lagi.


"Ka-- kamu ... Mas ... mas Gerry. Apa-apaan ini?" Cherry berucap dengan suara yang terputus-putus. Tentunya, ia sangat gugup sekarang. Bagaimana tidak? Sekeras apapun dia, dia tetaplah wanita. Wanita yang terlahir dengan hati yang lembut. Yang selalu luluh dengan satu kata. Yaitu, cinta.

__ADS_1


"Cherry Adinda, maukah kamu menikah dengan aku? Karena aku, sangat mencintai kamu."


Kata itu berhasil Gerry ucap dengan sangat lancar. Tapi, Cherry tidak tahu sebelum kata itu Gerry lepaskan padanya saat ini, Gerry begitu keras berusaha tanpa malu untuk menghafal kata itu agar bisa ia ucapkan dengan baik di hadapan sang pujaan hati.


__ADS_2