
Ya, saat ini, Zia, Letto, dan Cherry sedang berada di kamar Zia. Setelah kejadian tadi pagi, Zia langsung menghubungi kakaknya untuk menyampaikan berita itu. Letto yang cemas, tentu saja langsung datang ke kediaman Cherry.
"Apa yang kak Letto katakan itu sejujurnya sangat benar, Zia. Aku gak papa kok. Aku tahu apa yang harus aku lakukan. Jadi, jangan cemas yah."
"Oh ya, kak. Bagaimana dengan hasil penyelidikan tentang keluarga kak Laras? Apa sudah ada info yang lebih akurat?" tanya Cherry lagi.
"Belum, Adik. Tidak ada info yang bisa aku dapatkan. Keluarga kakak besar, terutama tante Resti bukan orang sembarangan. Tidak muda untuk kita tembus."
"Bagaimana jika aku langsung turun tangan buat menyelidiki kediaman tante Resti, kak Letto?"
"Jangan!" Sontak, Zia dan Letto langsung berucap serentak. Wajah tegang juga langsung mereka perlihatkan seketika.
Cherry yang mendapat ucapan yang lebih mirip bentakan itu langsung terdiam. Dengan tatapan agak bingung, dia melihat ke arah Zia dan Letto secara bergantian.
"Kenapa?" Cherry bertanya dengan wajah polos.
__ADS_1
Sebenarnya, dia susah tahu apa yang kedua adik kakak itu cemaskan. Kediaman tante Resti sangat berbahaya. Karena tante Resti terkenal akan perempuan dengan kenekatan yang cukup tinggi. Keadaan kediamannya penuh dengan jebakan. Maka dari itu, kedua adik kakak ini langsung menolak niat Cherry dengan cepat.
"Nona Cherry tahu bukan? Kediaman tante Resti adalah hal yang paling tidak aman di kota ini? Lebih bahaya dari kediaman orang terkaya nomor satu di kota ini. Jika nona kenapa-napa, maka kami tidak akan bisa bergerak. Karena hanya nona yang kami punya sekarang. Ingat! Wasiat kakak besar, Nona. Nona adalah satu-satunya kunci utama untuk kita membela nasib kakak besar yang telah tiada akibat ulah keluarganya sendiri." Zia bicara panjang lebar. Murni kecemasan dari dalam hati sebagai seseorang yang sedang mengkhawatirkan saudaranya, bukan atasan.
Sementara itu, Letto juga membenarkan apa yang Zia katakan. Dengan anggukan pelan, dia menatap lekat Cherry. "Apa yang Zia katakan benar, Adik. Kamu tidak bisa pergi karena kediaman tante Resti adalah tempat yang paling berbahaya. Tepatnya, belum saatnya kamu untuk pergi."
"Belum saatnya? Jika begitu, kapan saatnya aku pergi, kak Letto?" Cherry terlihat cukup antusias karena tidak sabar lagi.
"Suatu saat nanti. Setelah semua urusan kamu beres, dan semua keadaan bisa aku kendalikan dengan baik. Sementara sekarang, keadaan masih sangat kacau. Kamu masih belum menyelesaikan misi mu. Sedangkan aku, aku masih sibuk dalam keadaan untuk memperbaiki suasana yang sempat berantakan akibat kepergian kakak dari kita."
...
Setelah pembicaraan itu, Cherry semakin berniat untuk segera menyelesaikan misi balas dendamnya pada Chika. Namun, tidak semua yang ingin ia jalankan sesuai rencana. Karena Aditya yang ia harapkan menjauh dari Chika, kini malah berniat untuk menikah dengan Chika dalam waktu dekat.
Ketika Cherry tiba di kantor pagi ini, suasana kantor cukup sibuk dengan kabar pernikahan Aditya dengan Chika yang akan berlangsung kurang dari satu minggu lagi.
__ADS_1
Hal tersebut sebenarnya tidak menyakitkan hati Cherry. Karena Aditya bukan pria yang ia harapkan. Selain untuk balas dendam, dia sama sekali tidak tertarik pada Aditya sedikitpun.
Di tambah dengan Aditya yang dulu juga pernah menyakiti hatinya. Mempermalukan ia di depan umum. Mana ada sedikit pun rasa suka dalam hati Cherry untuk Aditya. Yang ada hanya rasa benci yang timbul karena sebuah dendam.
'Tidak akan aku biarkan kalian menikah. Apapun caranya, tidak akan pernah ada pernikahan. Karena kamu tidak lagi berhak mendapatkan apa yang kamu inginkan, Chika. Setelah aku ada, maka kamu tidak punya hak sama sekali.' Cherry berkata dalam hati.
'Baiklah. Mari kita rusak hari bahagia Chika nanti, Cherry. Kita buat dia malu di depan muka umum. Dengan begitu, maka dia akan tahu apa rasanya kecewa.' Cherry berucap sambil tersenyum.
Namun, karena sibuk dengan apa yang ia pikirkan saat ini, Cherry tidak menyadari kalau dia sedang diperhatikan dari jauh oleh seseorang. Siapa lagi orang itu jika bukan Gerry.
Semakin ia melihat Cherry, semakin ia ingin tahu tentang perempuan itu. Bahkan, dia yang awalnya cuek, dingin, dan tidak terlalu peduli dengan para karyawannya sendiri. Kini mendapat jadi sedikit perhatian.
"Tuan muda ingin aku melakukan apa sekarang?" Zein yang cukup paham dengan keadaan langsung mengajukan diri tanpa menunggu majikannya bicara terlebih dahulu.
Hal itu agak mengganggu buat Gerry. Tapi, karena sibuk dengan Cherry, dia malah langsung mengabaikan rasa terganggu yang sedang ia rasakan.
__ADS_1