
"Ah, ya sudah. Terserah tante saja. Yang jelas, aku ingin hasil nantinya. Hasil yang bagus yang bisa memuaskan aku. Karena setelah perempuan itu, aku juga punya kerja sama yang lainnya."
"Apa lagi?" tanya Resti sambil mengangkat satu alisnya.
"Aku ingin merebut seluruh harta keluarga Sudirja, Tante."
"Apa? Kau ingin menguasai seluruh harta keluarga Sudirja? Itu artinya, kau ingin menyingkirkan semua anggota keluarga Sudirja. Dengan begitu, kamu baru bisa merebut seluruh harta dari keluarga itu, Chika."
"Ya. Itulah yang ingin aku lakukan, Tante. Aku ingin menyingkirkan semua anggota keluarga Sudirja. Lalu, aku akan mendapatkan semua harta itu. Apa tante bisa membantu aku nantinya?"
Resti tersenyum lebar. "Tentu saja aku bisa. Karena urusan rebut merebut, itu adalah keahlian ku. Aku suka melakukan hal tersebut. Menyingkirkan penghalang, lalu merebut apa yang mereka punya. Itu adalah permainan yang luar biasa serunya. Membuat aku merasa sangat bahagia karena berhasil melewati tantangan."
"Kalau begitu, aku tidak salah telah memilih bekerja sama dengan tante. Karena tante adalah rekan yang paling luar biasa yang selalu bisa aku andalkan dalam segala hal yang menjadi penghalang keinginanku."
"Tentu saja."
Keduanya pun sama-sama tersenyum lebar. Menikmati suasana bahagia dalam hidup mereka. Merasakan kenyamanan dari apa yang sedang mereka bicarakan saat ini.
__ADS_1
Sementara itu, di sisi lain, tepatnya di kediaman Cherry, Cherry sedang sangat kaget akibat kabar kematian Aditya yang Zia sampaikan.
"Apa!? Aditya tewas!? Kok bisa?"
"Hotel tempat Aditya dan Chika melakukan pernikahan dikabarkan kecolongan. Ada penyusup masuk dan mengacaukan malam pertama Aditya dan Chika. Chika di culik oleh orang tersebut. Sedangkan Aditya tewas akibat pukulan benda keras di kepalanya. Katanya, itu karena Aditya ingin menyelamatkan Chika."
Penjelasan Zia membuat Cherry terdiam. Bagaimana tidak? Penjelasan itu tidak bisa Cherry terima dengan akal pintarnya. Karena tidak mungkin bagi penyusup bisa masuk begitu saja ke sebuah hotel mewah tanpa ada kerja sama dari orang dalam hotel itu sendirian. Lagipula, mana ada yang berani mengusik orang yang paling berpengaruh di kota tersebut.
Namun, belum sempat Cherry mengatakan apa yang sedang ia pikirkan. Zia kembali berkata pada Cherry. "Dan ... katanya, penyusup itu datang dari orang yang tidak suka akan pernikahan antara Aditya dengan Chika. Yang artinya, dia sedang menuduh nona walau secara tidak langsung."
"Iya, nona. Itulah kabar yang beredar saat ini. Penyusup itu datang karena bayaran dari orang yang tidak suka dengan pernikahan itu. Yah, katanya, karena cemburu. Dan, itu adalah perempuan yang sebelumnya dekat dengan Aditya. Bukankah itu namanya sedang menuduh nona secara tidak langsung?"
Ucapan Zia langsung membuat Cherry menggenggam erat tangannya. Dia merasa sangat kesal akan apa yang baru saja ia dengar.
"Kurang ajar. Jelas-jelas ini adalah permainan mereka dia sendiri."
Zia yang mendengar kata-kata itu langsung memasang wajah bingung. "Maksud, nona?"
__ADS_1
"Yah. Aku yakin kalau ini adalah ulah Chika sendiri. Karena tidak mungkin kalau dia bisa diculik di hotel mewah dengan keamanan yang sangat ketat. Mana saat malam pernikahan lagi. Aku yakin kalau ini adalah tidak beres dengan cerita yang sedang beredar."
"Nona benar. Kenapa saya tidak bisa memikirkan hal ini sejak awal. Ini cukup jelas kalau pelakunya adalah orang dalam, bukan? Mm ... paling tidak, campur tangan orang dalam itu sendiri."
"Nona, saya merasa kalau lawan nona kali ini cukup tangguh. Nona harus sangat berhati-hati. Karena mungkin, si Chika ini punya pendukung di belakangnya. Pendukung yang sangat kuat sampai bisa melancarkan rencana sebagus ini tanpa ada yang curiga." Zia berkata lagi dengan tatapan serius ke arah Cherry.
"Kamu benar, Zia. Aku juga merasakan hal yang sama. Tapi, kamu tidak perlu cemas. Aku akan menyelidiki semua ini hingga tuntas. Kematian Aditya tidak akan tersia-siakan begitu saja. Akan aku buat orang yang telah membunuh Aditya dengan mengatasnamakan aku membayar semua ini dengan mahal."
"Jangan turun tangan sendiri, Nona. Ini terlalu beresiko. Karena kita masih belum tahu apa yang ada di belakang perempuan itu. Kita masih belum tahu sebesar apa kekuatan mereka, nona. Jadi, saya sarankan agar nona tidak bergerak sendirian. Bergeraklah bersama-sama, Nona. Ada saya, juga kak Letto yang akan membantu nona."
"Zia. Kak Letto ada urusan lain. Sedangkan kamu, juga ada urusan lain. Kita masih belum bisa bergerak bersama-sama sekarang. Karena tujuan kita masih terpecah. Belum kita bulatkan menjadi satu. Untuk itu, jangan cemas. Aku bisa menjaga diri. Kita gerak masing-masing dahulu."
"Tapi Nona .... "
Cherry langsung menyentuh pelan pundak Zia.
"Jangan cemas, Zia. Kamu tahu aku, bukan? Kamu kenal aku sudah lama, kan? Jadi, jangan cemaskan aku. Kita tetap bergerak seperti yang kita rencanakan sebelumnya."
__ADS_1