
Entah apa alasannya, juga entah ada maksud apa. Yang jelas, Cherry tidak ingin memikirkan soal itu. Karena saat ini, dia yang rapuh akan merasa sangat tegar ketika ada Gerry di dekatnya.
"Oh ya, tuan muda. Bagaimana dengan kak Letto? Apa dia juga bisa di selamatkan?"
Pertanyaan itu langsung membuat raut wajah Gerry berubah seketika. Bagaimana tidak? Dia tidak ingin Cherry tahu akan kabar orang tersebut. Karena orang itu sudah tewas.
"Tuan muda. Kenapa anda diam?"
"Ah, eh, it-- itu ... aku tidak diam. Tapi, bisakah kamu jangan memanggil aku tuan muda lagi? Aku merasa jika aku sedang bersama bawahan ku saat aku di panggil tuan muda olehmu. Rasanya, itu sungguh tidak nyaman buat aku."
"Tapi, kita memang atasan dengan bawahan, bukan? Aku adalah manajer di perusahaan mu, bukan tuan muda? Yah, walaupun itu hanya untuk sementara. Karena sebentar lagi, kontrak kerjaan ku akan berakhir."
"Iya. Tapi aku tidak nyaman dengan panggilan tuan muda yang datang dari kamu, Cherry. Karena kamu ... ah, maksudku, panggil aku Gerry saja. Atau, Mas Gerry juga akan lebih baik."
"Mas ... Gerry?" Cherry berucap sambil menatap lekat wajah Gerry yang terlihat sedang menahan malu.
"Iy-- iya. Mas Gerry akan terasa lebih nyaman buat aku."
__ADS_1
"Oh, ba- baiklah. Aku akan panggil kamu mas Gerry jika kamu yang memaksa," ucap Cherry mendadak merasa gugup.
"Ah iya, aku ingin tahu kabar kak Letto. Bagaimana keadaannya? Apa dia baik-baik saja?"
"Itu ... Cherry, maafkan aku. Lagi-lagi, aku tidak bisa menyelamatkan dua orang. Letto ... ia ... sudah tidak ada lagi."
Seketika, bak di sambar petir di siang bolong. Cherry langsung membeku. Apel yang ia pegang, langsung terlepas dari tangannya. Air mata jatuh perlahan melintasi pipi.
Kabar itu seakan membakar hati Cherry seketika. Sebuah kenyataan pahit, lagi-lagi mengoyak hati dan pikiran Cherry saat ini.
"Cherry. Tenanglah." Gerry berusaha membuat Cherry kembali tenang. Tapi sepertinya, ini tidak semudah sebelumnya. Karena hati Cherry yang luka, sungguh sangat tidak mudah untuk di obati.
"Tidak. Aku tidak percaya ini terjadi lagi. Tidak, Tuhan! Tidak! Jangan lakukan ini lagi padaku. Aku mohon! Aku tidak ingin menerima kenyataan ini! Tidak akan pernah bisa ku terima."
Cherry berteriak sambil menangis. Pukulan berat ini sungguh luar biasa. Ini bukan satu kali sudah ia alami, tapi untuk yang kesekian kalinya. Kenapa hidup begitu tidak adil padanya. Itulah yang Cherry pikirkan sekarang.
Sementara Cherry sibuk menyesali dengan menangis sesenggukan. Gerry pula sibuk dengan semua usaha untuk membujuk Cherry tanpa ada kata menyerah. Hingga pada akhirnya, Cherry berhasil Gerry bujuk dengan akhir yang tidur di atas pundak Gerry.
__ADS_1
Karena terlalu lelah dengan apa yang ia terima, Cherry akhirnya tertidur. Matanya sudah terlihat agak bengkak akibat terus menangis selama beberapa jam. Gerry yang melihat hal itu, langsung bertekad untuk terus melindungi Cherry bagaimanapun caranya. Ia berniat akan mendukung apapun yang Cherry lakukan ke depannya.
....
Tujuh hari kemudian, Cherry sudah mulai bangkit dari keterpurukan yang sebelumnya ia alami. Dendam akan kehilangan semakin besar dalam hatinya. Dendam itu kini telah berubah menjadi sebuah kekuatan. Ia tidak ingin lagi bermain-main sekarang.
Niatnya untuk membantai habis semua musuh, kini sudah ia bulatkan. Tidak akan ia beri ampun semua musuh yang sudah menyakiti dia sekarang.
"Orang yang ada di belakang Chika adalah Resti, Cherry. Dia perempuan yang sudah bekerja sama dengan mafia luar negeri. Karena itu, kekuatan yang ia miliki cukup besar. Butuh usaha yang kuat untuk melawannya." Gerry berucap sambil menyerahkan amplop coklat pada Cherry. Di dalam amplop coklat tersebut ada semua informasi tentang Resti.
"Oh, jadi dia yang selama ini berada di belakang Chika? Pantas saja Chika begitu berkuasa dan punya keberanian yang sangat besar. Ternyata, yang bekerja sama dengannya adalah musuh besar kak Laras."
"Kak Laras? Siapa lagi itu?"
"Dia adalah orang pertama yang membuat aku bangkit dari keterpurukan. Dia yang sudah banyak membantu aku sebelumnya. Tapi sayang, kak Laras meninggal karena kecelakaan yang tante Resti buat. Hal itu didasari atas perebutan harta. Dan malangnya, kematian kak Laras dianggap murni kecelakaan tanpa ada campur tangan orang jahat sedikitpun."
"Begitulah malangnya hukum di negara ini, Cherry. Hukum bisa mereka beli. Tapi kamu tenang saja. Sekarang, kamu tidak sendirian. Ada aku yang akan membantu kamu melakukan semua itu. Aku siap untuk menemani kamu buat mencari kebenaran."
__ADS_1