
"Jangan berterima kasih padaku, Cherry. Karena kejadian itu, aku merasa sangat bersalah karena tidak bisa menyelamatkan kalian berdua. Aku sangat menyesal, karena aku yang datang terlambat. Coba saja aku datang lebih cepat, maka aki juga bisa menyelamatkan nyawa kakakmu."
Cherry terdiam. Ucapan yang dipenuhi rasa bersalah itu membuat Cherry merasa tidak nyaman. Yah, awalnya ia marah dengan orang yang sudah menyelamatkan nyawanya. Karena orang itu telah menyelamatkan nyawanya yang ia anggap tidak berarti sama sekali. Karena orang itu membuat ia tidak bisa mati bersama dengan kakak tersayangnya.
Tapi, pada akhirnya Cherry sadar. Tentunya, atas bantuan Laras yang begitu besar berjasa dalam hidup Cherry. Karena Laras ia bangkit. Tapi sayang, jasa itu juga sama, tidak bisa ia balas meskipun ia bertekad kuat untuk membalasnya.
Oleh karena itu, ia tidak suka berhutang budi pada orang lain. Karena hutang budi membuat hidupnya merasa punya beban. Hingga detik ini, dia masih tidak bisa menikmati hidupnya dengan baik.
"Jangan merasa bersalah, tuan muda. Karena rasa bersalah tidak akan mengembalikan keadaan seperti semula."
"Ya. Aku tahu. Tapi .... " Gerry langsung menggantungkan kalimatnya. Matanya menatap lekat wajah Cherry.
Cherry yang cukup penasaran atas kata-kata yang masih belum Gerry selesaikan, langsung menaikkan satu alis sambil berucap. "Tapi apa?"
"Tidak ada. Hanya saja aku merasa cukup penasaran dengan kamu. Sesaat setelah aku sadar, aku ingin menemui kamu. Tapi sayang, tidak ada sedikitpun jejak kamu yang tertinggal. Namun saat ini, kamu malah muncul secara tiba-tiba. Aku penasaran dengan kemunculan mu yang tiba-tiba setelah menghilang sekian lama."
Ungkapan itu membuat Cherry langsung mengukir senyum lebar. Senyum yang terlihat agak menakutkan dari seorang perempuan anggun yang penuh dengan ambisi.
__ADS_1
"Kamu sungguh peka, tuan muda. Tentunya, aku datang dengan maksud yang mungkin kamu juga pahami dengan baik. Karena kamu, sungguh sangat peka akan diriku sepertinya."
Gerry terus menatap lekat wajah Cherry.
Setelah beberapa saat lamanya, ia baru berucap. "Kamu datang karena ingin balas dendam, nona?"
Cherry tidak menjawab pertanyaan itu. Hanya matanya yang terus membalas tatapan lekat yang Gerry berikan.
"Jika iya, aku sarankan untuk kamu berhenti. Karena balas dendam tidak akan membuat kamu hidup tenang, Cherry."
"Cobalah untuk memaafkan. Karena dengan memaafkan, aku jamin hidupmu akan merasa tenang dan damai."
Ucapan Gerry barusan langsung membuat Cherry yang awalnya lemah, langsung tertawa lepas. "Ha ha ha. Apa dengan memaafkan, kakakku akan kembali, tuan muda? Apa dengan memaafkan, hidupku benar-benar akan tenang setelah apa yang si penjahat lak- nat itu lakukan untuk hidupku?"
"Setelah perubahan besar yang dia ciptakan. Apa aku bisa tenang hanya dengan memaafkan dan melupakan semua dendam yang ada dalam hatiku?" Kini nada bicara Cherry langsung berubah pilu.
Gerry pun langsung merasa simpati akan apa yang telah Cherry alami selama ini. Tanpa kata, dia langsung menarik Cherry ke dalam dekapannya.
__ADS_1
Dekapan yang awalnya ingin Cherry jauhi karena hatinya yang kesal dengan kata-kata yang Gerry ucapkan. Namun, sayangnya ia tidak bisa menjauh dari dekapan tersebut. Karena dekapan itu sungguh sangat menenangkan hatinya yang berkecamuk.
"Aku berusaha memahami apa yang kamu rasakan saat ini, Cherry. Maaf, aku tidak bisa terlalu banyak membantu hatimu yang sedang tidak baik-baik saja saat ini. Karena aku juga tidak terlalu memahami soal hati," ucap Gerry sambil membelai lembut rambut Cherry.
....
"Bagaimana keadaan Zia? Apa dia baik-baik saja?" Cherry berucap saat ia ingat akan asistennya setelah ia berhasil Gerry tenangkan dari perasaan marah yang sebelumnya menguasai hati.
"Dia ... dia baik-baik saja. Hanya saja, dia masih belum sadarkan diri. Tapi kamu tenang aja, ada Zein yang selalu menjaga asisten mu itu. Jadi, jika ada kabar tentang dia, maka Zein akan langsung mengabari kita." Gerry berucap sambil menyodorkan buah apel yang sudah ia kupas ke tangan Cherry.
"Terima kasih, tuan muda. Tapi aku tidak ingin makan buah."
"Makanlah sedikit, Cherry. Dokter bilang, supaya maag kamu tidak kambuh, maka kamu harus makan walau hanya sedikit. Barusan, kamu sudah menolak bubur. Jadi sekarang, tolong jangan menolak buah ya."
Mau tidak mau, Cherry terpaksa menerima sepotong buah yang Gery berikan. Harus ia akui kalau Gerry sungguh telaten dalam menjaganya. Gerry merawatnya dengan sangat baik dan penuh kasih sayang.
Entah apa alasannya, juga entah ada maksud apa. Yang jelas, Cherry tidak ingin memikirkan soal itu. Karena saat ini, dia yang rapuh akan merasa sangat tegar ketika ada Gerry di dekatnya.
__ADS_1