Bangkitnya Gadis Tertindas

Bangkitnya Gadis Tertindas
*BGT Bab 53


__ADS_3

Penderitaan Chika pun tidak hanya sampai di situ saja. Di ruang persidangan, entah datang dari mana seorang anak kecil langsung melempari Chika dengan baru kerikil hingga kepala Chika berdarah.


Sang mama yang melihat hal itu hanya bisa menangis dalam diam. Dia genggam erat tangannya, karena tidak bisa memberikan Chika bantuan lagi sekarang.


Sementara Chika, ia hanya bisa menangis tanpa bisa bicara satu patah katapun. Karena saat ini, dunianya benar-benar sudah gelap. Tidak ada satu pun orang yang bisa ia jadikan tempat bersandar lagi.


....


Usai persidangan, Chika kembali harus menjalani hidup layaknya di neraka karena siksaan dari para tahanan wanita yang sangat benci padanya. Hingga akhirnya, karena kondisi Chika yang terus memburuk akibat pukulan dan berbagai siksaan, Chika di asing kan ke sel lain. Sel yang hanya ia tempati sendirian. Berada di pojok, dan sangat sepi.


Setiap hari, Chika merasa sangat kesepian. Ia merindukan kehidupannya yang penuh dengan kemewahan. Namun, ketika memikirkan hal tersebut, Chika kembali merasakan rasa bersalah atas kesalahan yang telah ia perbuat.


"Tahanan Chika. Ada yang ingin bertemu dengan anda sekarang." Suara itu, suara yang dulunya sangat Chika benci dan takuti. Tapi sekarang, suara itu sangat ia harapkan setiap saat.


Chika yang awalnya duduk bersandar merenungi nasib, langsung bangun dengan cepat karena suara itu. Suara dari polisi wanita yang sangat tegas.


"Ada yang ingin bertemu dengan saya, Buk polisi? Siapa? Apakah mama yang datang?"


"Kamu lihat saja sendiri." Polisi itu bicara sambil membuka pintu sel yang Chika huni.

__ADS_1


Dengan penuh semangat, Chika berjalan menuju ke arah ruang tunggu. Dalam hati ia sangat berharap kalau yang datang adalah sang mama. Perempuan yang selalu menjadi pendukung dirinya dahulu.


"Ma .... " Suara Chika langsung tertahan saat melihat perempuan yang sedang duduk di kursi ruang tunggu.


Dia bukan mama Chika, melainkan, Cherry. Yah, yang datang untuk bertemu Chika kali ini adalah Cherry.


Sementara itu, Cherry yang kini melihat wajah Chika langsung mengukir senyum. Dia pun bangkit dari duduknya, lalu menyapa Chika dengan ramah.


"Halo. Masih ingat dengan aku?"


"Kamu ... Cherry."


"Untuk apa kamu datang ke sini, hah? Apa yang ingin kamu lakukan? Kamu mau menertawakan aku?" Chika berucap dengan nada kesal.


Sungguh, ia sangat tidak ingin bertemu dengan Cherry. Perempuan yang ia anggap sebagai saingan dalam mendapatkan pria yang ia mau. Tapi, satu hal yang Chika senangi. Dia telah membunuh Aditya. Jadi, baik Cherry, maupun dirinya sama-sama tidak bisa memiliki Aditya. Dengan begitu, ia masih tidak kalah dari Cherry sampai kapanpun.


Namun, satu hal yang tidak Chika ketahui. Cherry menginginkan Aditya bukan untuk ia miliki. Tapi, hanya sebagai alat balas dendam. untuk menyakiti musuhnya sendiri.


"Ah, ha ha ha. Iya, aku datang untuk menertawai kamu, Chika. Sekarang, kamu sudah kalah, bukan?"

__ADS_1


Ucapan itu malah membuat Chika ikut tertawa.


"Aku kalah? Tidak, Cherry. Kamu salah. Aku tidak kalah. Karena kamu juga tidak bisa memiliki Aditya. Jadi, kamu tidak menang dari aku."


Sekarang, giliran Cherry yang tertawa lepas.


"Hah? Ha ha ha ... Chika-Chika. Kamu beneran mikir jika aku bersaing denganmu hanya karena aku ingin mendapatkan Aditya? Kalau iya begitu, kamu salah besar. Karena targetku, bukan untuk memiliki Aditya, Chika. Melainkan, menghancurkan kamu."


Sontak, wajah Chika langsung berubah. Sungguh, dia sangat tidak mengerti apa yang sedang Cherry katakan saat ini.


"Ap-- apa maksudmu?"


"Maksudku. Chika, aku sudah menang sekarang. Karena aku datang untuk balas dendam padamu. Kau yang sudah menindas hidupku hanya karena kau tidak ingin punya saingan di sekolah. Apa kamu ingat aku sekarang?"


Wajah Chika langsung memerah dengan mata yang membulat lebar. Sekarang, dia sedikit bisa menebak siapa Cherry meskipun hatinya masih tidak terlalu yakin. Karena di sekolah, hanya ada satu Cherry yang dulunya satu angkatan dengan dia.


"Kamu ... Cherry? Cherry Adinda?" Suara Chika terdengar bergetar ketika mengucap nama lengkap Cherry barusan.


Sontak, tebakan nama lengkap itu langsung membuat Cherry menyunggingkan bibirnya dengan lebar. "Yah, aku Cherry Adinda. Gadis yang kamu siksa hanya karena aku pintar di sekolah. Dan, hanya karena kakak kelas memilih aku ketika kita berada di masa orientasi sekolah, kamu begitu membenci aku. Kamu terus menerus menindas aku. Hingga, kamu buat aku kehilangan kakak ku. Satu-satunya keluarga yang aku miliki."

__ADS_1


Perlahan, air mata jatuh dari sudut mata Cherry ketika ia mengingat bagaimana kakaknya pergi karena ingin menolong dia. Meskipun kejadian itu sudah lama, tapi rasa sakit itu masih nyata.


__ADS_2