
"Mama!"
"Jika papa gak mau mengikuti apa yang mama katakan. Jika papa gak mau nolongin Chika, maka mama yang akan melakukannya. Akan mama serahkan sertifikat mansion kita ke penculik itu malam ini supaya mereka bisa melepaskan Chika."
"Apa!? Mama sudah tidak punya akal sehat lagi, Ma? Sertifikat mansion kita jauh dari harga yang penculik itu minta. Bagaimana mama bisa berpikir seperti itu, hah!?"
"Demi Chika, mama akan lakukan apa saja, Pa. Papa tahu bagaimana mama menyayangi Chika, bukan? Jangankan harta, nyawa saja akan mama berikan buat dia."
"Oh, mama adalah ibu yang baik ternyata. Sayangnya, mama tidak pernah berpikir seperti itu untuk Gerry. Padahal Gerry adalah anak kandung mama. Sedangkan Chika, dia hanya anak angkat mama. Anak adik mama yang mama besarkan dengan terlalu banyak kasih sayang sehingga jadi sangat manja sampai tidak tertolong lagi."
"Cukup, Pah. Jangan bahas soal hal lain yang tidak penting sekarang. Mama tidak pernah bilang kalau mama tidak sayang Gerry. Tapi Gerry, dia sudah punya papa yang sangat sayang padanya. Sedangkan Chika, dia hanya punya mama. Lagipula, mama merasa bersalah sama mamanya Chika. Kecelakaan itu karena ulah mama, bukan?"
"Kamu salah, Ma. Kecelakaan itu bukan ulah mu. Bukan kesalahan kamu, melainkan karena sudah suratan takdir."
Mama Gerry terdiam. Ya, kecelakaan itu, dia anggap adalah kesalahan darinya. Dia yang mengemudi mobil tersebut saat menjemput kedua orang tua Chika pulang ke tanah air. Dia yang terlalu bersemangat untuk bersama adiknya, lupa akan segalanya. Hingga pada akhirnya, mobil yang ia bawa bertabrakan dengan truk.
__ADS_1
Ajaibnya, dia malah selamat. Sedangkan adik juga adik iparnya malah tewas. Sedangkan Chika yang masih kecil, juga selamat bersama dengannya. Sejak saat itulah, dia merasa sangat bersalah pada Chika. Karena dia yang telah membuat anak itu kehilangan kedua orang tuanya.
Mama Gerry lalu menyeka air mata dengan cepat. Ingatan masa lalu membuat ia mengeluarkan air mata meski dia tindak menginginkannya.
"Jika papa tidak ingin menolong mama, maka biarkan mama pergi sendiri sekarang," kata mama Gerry sambil beranjak.
Namun, tangannya segera ditahan oleh sang suami. Papa Gerry bukan tipe orang yang terlalu kejam. Jadi, dia juga tidak akan membiarkan istrinya menyelesaikan masalah sendirian. Karena itu, dia pun mau tidak mau harus turun tangan untuk menyelesaikan masalah yang sedang terjadi.
"Baiklah. Aku akan bantu mama. Tapi, ini untuk yang terakhir kalinya untuk Chika. Jika ada lain kali, maka papa tidak akan pernah menolong lagi. Mama mengerti, bukan?"
"Makasih banyak, Pah. Mama janji, tidak akan ada lain kali."
Lima puluh milyar adalah uang yang paling besar untuk di cari dengan waktu satu malam. Beruntung, Sudirja adalah keluarga yang paling kaya di kota tersebut. Jadi, tidak terlalu sulit untuk mengeluarkan uang sebanyak itu dengan waktu singkat.
"Gila, Madam. Keluarga Sudirja langsung bersedia untuk menukar nona dengan uang lima puluh milyar. Sungguh luar biasa nona ini." Salah satu anak buat tante Resti berucap dengan nada tak percaya.
__ADS_1
"Sudah aku katakan, kalau mereka itu pasti tidak akan pernah bisa menolak untuk mengeluarkan uang hanya demi aku." Chika berucap dengan bangga.
"Yah, aku akui, kamu sangat berpengaruh buat mereka, Chika. Mm ... gak sia-sia malam ini kita bekerja ekstra keras. Hasilnya, wah luar biasa." Tante Resti pula berucap dengan senyum manis di bibirnya.
"Ya dong. Kerja sama dengan aku, tante gak akan rugi. Malahan, tante akan selalu mendapat untung yang besar."
"Oh ya, jangan lupa bantu aku lagi nanti ya, Tan. Ada kerjaan yang besar, yang harus tante tolong."
Tante Resti yang sudah tahu apa yang Chika maksud, kini langsung tersenyum. "Tenang aja. Hanya untuk menemukan seorang perempuan, itu bukan hal yang sulit, Chika."
"Tante jangan besar omong dulu. Yah, meskipun aku tahu bagaimana kekuatan tante selama ini. Tapi, perempuan ini juga cukup luar biasa, tante. Dia tidak sama dengan sainganku yang sebelumnya. Karena sepertinya, dia juga punya pendamping yang kuat. Yang selalu menyokongnya dari belakang."
"Aku suka itu, Chika. Karena selama ini, aku selalu mendapatkan lawan yang tidak sebanding. Lawan lemah yang tidak membuat aku menguras tenaga. Jika aku punya lawan yang kuat, itu baru asik."
"Ah, ya sudah. Terserah tante saja. Yang jelas, aku ingin hasil nantinya. Hasil yang bagus yang bisa memuaskan aku. Karena setelah perempuan itu, aku juga punya kerja sama yang lainnya."
__ADS_1