Bangkitnya Gadis Tertindas

Bangkitnya Gadis Tertindas
*BGT Bab 44


__ADS_3

Namun, ketika Cherry sudah ada dalam gendongan Gerry, Zein datang dengan panggilan yang sama seperti sebelumnya.


"Tuan muda." Panggilan yang langsung mengingatkan Cherry akan kejadian lima tahun yang lalu. Seseorang yang telah menolongnya dari kebakaran akibat ulah Chika yang jahat.


"Tu-- tuan muda. Panggilan itu .... " Cherry berucap dengan nada bingung. Tapi sayang, belum juga ia bisa menanyakan semuanya, pandangannya mendadak jadi buram akibat terlalu kerasnya beban pikiran yang berusaha ia cerna dalam benaknya.


Cherry pingsan seketika. Hal itu tentu membuat Gerry menjadi panik. Dengan langkah besar ia berjalan menuju mobil. Zein yang juga merasakan hal yang sana hanya bisa mengikuti Gerry dari belakang tanpa berniat untuk melontarkan pertanyaan satu patah katapun.


"Aku akan bawa dia ke rumah sakit terdekat, Zein. Kamu urus semua yang ada di sini."


"Baik, tuan muda. Kedua teman si nona sudah saya perintahkan untuk di antar ke rumah sakit. Sisanya hanya musuh yang akan saya urus sesuai harapan tuan muda."


"Bagus. Aku pergi sekarang."


.....


Ketika sampai di rumah sakit, ternyata Letto sudah tidak bisa di selamatkan lagi. Peluru yang menembus dadanya ternyata membuat ia kehilangan banyak darah. Dan, dia dinyatakan tidak bisa di selamatkan lagi.


Sementara Zia, ia masih bisa di tolong. Karena tembakan yang mengenai perutnya tidak merusak anggota tubuh bagian dalam. Meskipun kehilangan banyak darah, Zia masih bisa di selamatkan.

__ADS_1


Sementara itu, Cherry yang pingsan akibat beban berat yang ditimbulkan oleh trauma masa lalu juga masih belum sadarkan diri. Dokter mengatakan, kalau pukulan mental yang ia terima terlalu berat sehingga butuh waktu yang agak lama untuk dia bangun.


Ditambah, dia juga mengalami beberapa memar akibat pukulan keras di tubuhnya. Hal itu otomatis ikut mempengaruhi keadaan Cherry saat ini.


"Tuan muda, bagaimana jika nona ini tahu kalau satu temannya tidak selamat? Apa dia akan kembali sakit nantinya?" Zein bertanya dengan nada prihatin.


"Untuk saat ini sebaiknya kita tidak mengungkit soal temannya yang tidak bisa kita tolong. Setidaknya, sampai mentalnya agak siap untuk berita buruk ini."


"Baiklah, tuan muda. Saya akan berusaha menjaga rahasia ini untuk sesaat."


Semalaman ini Gerry menjaga Cherry dengan baik. Ia genggam tangan Cherry dengan penuh kasih sayang. Ketika Cherry mengigau akibat pukulan berat masa lalu, wajah panik dan cemas Gerry perlihatkan.


"Tuan muda. Apa tidak sebaiknya anda istirahat? Ini sudah menjelang pagi. Kesehatan anda juga harus diperhatikan, tuan muda." Zein berucap dengan nada agak khawatir.


"Aku baik-baik saja, Zein. Tidak perlu kamu cemaskan keadaan ku. Sebaliknya, kenapa kamu yang tidak istirahat saja. Atau, kenapa kamu tidak melihat gadis yang ada di sebelah kamar ini? Dia juga butuh pengawasan, Zein."


Zein langsung melepas napas kasar tapi terdengar agak pelan. "Saya sudah melihat gadis itu beberapa kali, Tuan muda. Dia masih sama seperti nona ini. Tidak sadarkan diri. Apanya yang harus saya perhatikan? Saya ini bukan dokter. Mana bisa memperhatikan orang lain."


"Zein." Gerry memanggil nama Zein dengan penuh nada penekanan. Yang membuat Zein langsung tersadar dengan apa yang baru saja ia katakan.

__ADS_1


"Ah, iya-iya baiklah. Akan saya jaga gadis itu dengan baik, tuan muda. Saya pergi sekarang.


Tapi ingat! Tuan muda harus istirahat setelah saya kembali ke kamar ini."


"Terserah kamu saja. Pergi sekarang! Jangan ganggu aku, Zein."


"Ah, iyalah. Orang yang ingin berduaan saja. Mana bersedia ada aku yang jelas-jelas sebagai orang ketiga di kamar ini," ucap Zein sambil beranjak pergi.


Ucapan itu tidak Gerry tanggapi. Dia malah sibuk memperhatikan wajah Cherry yang kini terlelap di alam bawah sadar.


Subuh, kini susah berganti pagi. Cahaya matahari sudah menerangi bumi, yang menandakan, aktifitas kehidupan harus kembali berjalan dengan normal seperti sebelumnya.


Tepat saat Zein kembali ke kamar setelah merasa kalau hari sudah sangat terang, Gerry yang ada di samping ranjang Cherry langsung mendapat panggilan. Dia langsung melihat ponselnya dengan cepat. Tertera nama sang papa di sana. Tidak ingin membuat papanya cemas karena tidak menemukan dirinya di rumah, Gerry langsung meminta Zein untuk menjaga Cherry sebentar.


"Aku titip dia sebentar, Zein. Tolong jaga dia dengan baik."


"Tuan muda mau ke mana?"


"Papa menghubungi aku. Aku akan jawab panggilan papa di luar."

__ADS_1


__ADS_2