Bangkitnya Gadis Tertindas

Bangkitnya Gadis Tertindas
*BGT Bab 37


__ADS_3

Ucapan itu membuat Chika langsung menoleh ke arah Cherry. Dengan tatapan penuh dengan arah, Chika menatap tajam Cherry.


"Siapa kamu sebenarnya!? Apa hubungan kamu dengan Aditya, hah! Kenapa kamu bisa datang ke kamarku!?"


Tentu saja Cherry tidak akan menjawab apa yang Chika tanyakan. Karena Cherry sangat menikmati wajah Chika yang sedang memerah akibat ketakutan, sekaligus menahan amarah yang tidak bisa ia lampiaskan.


Senyuman Cherry semakin menambah api kemarahan Chika. Dia yang kesal langsung mengambil vas bunga untuk ia lemparkan ke arah Cherry.


Sayangnya, apa yang Chika bayangkan tidak sama dengan yang sedang terjadi. Vas bunga yang Chika lempar, langsung Cherry tangkap dengan satu tangan. Selanjutnya, vas bunga itu Cherry lempar kembali ke arah Chika. Tentu, dengan bidikan yang sengaja meleset dari Chika.


"Agh!" Chika berteriak keras saat vas bunga putih itu jatuh berserakan di kakinya. Rasa takut, kini semakin besar menguasai hati Chika.


Chika kembali berusaha menggedor pintu kamar. Berharap, ada keajaiban yang bisa menyelamatkan nyawanya dari orang asing yang jelas bukan tandingan dia saat ini.


Di saat itulah, Chika teringat akan alarm keselamatan yang terdapat di kamarnya. Yah, mansion megah ini punya keamanan yang cukup ketat sebenarnya. Setiap ruangan, terdapat cctv juga sensor keamanan. Jika tombol itu ditekan, maka satu mansion akan tahu kalau ada bahaya.

__ADS_1


Cherry yang tidak teliti akan hal tersebut, tentu saja tidak mematikan sensor keamanan. Sedangkan cctv, sudah ia matikan sejak sebelum dia masuk ke kamar ini.


Dan, sebuah kebetulan yang luar bisa, yang membawa keuntungan buat Chika. Tombol sensor keamanan tersebut berada tak jauh dari pintu masuk. Dengan begitu, tidak sulit untuk Chika menggapai dan membunyikan sistem alarm keamanan satu mansion.


Seketika, setelah tombol merah itu berhasil Chika tekan, suara sirene yang mirip akan sirene mobil polisi itu langsung berbunyi. Dan bunyi itu membuat semua penghuni mansion jadi kaget.


Langsung saja, para pengawal yang bertugas menjaga mansion segera beranjak dari tempat mereka masing-masing. Mereka mendatangi sumber dari alarm tersebut.


Sementara itu, Cherry yang sadar akan keadaan, langsung bangun dari duduknya. Sedangkan Chika, dia langsung tersenyum lebar karena merasa kalau saat ini, Cherry tidak akan terselamatkan lagi.


"Kamu tidak akan bisa selamat. Makanya, mikir dulu jika ingin bertindak. Kamu sendiri yang telah mengantarkan nyawa ke padaku. Maka jangan salahkan aku jika nyawamu tidak tertolong. Terbuang sia-sia begitu saja. Sayang sekali," ucap Chika dengan nada tenang.


Belum sempat Cherry menjawab apa yang Chika katakan. Di depan pintu kamar sudah mulai terdengar langkah kaki beberapa orang. Juga, teriakan cemas dari seseorang terdengar sangat nyaring di depan pintu kamar tersebut.


Cherry merasa tidak aman jika ia harus tetap berada di kamar ini. Secepat yang ia bisa, dia berusaha melarikan diri dari kamar Chika. Walaupun sekarang, melarikan diri tidak semudah ia masuk ke kamar ini. Karena sudah pasti, ada banyak penjaga yang kini sedang menanti kemunculannya.

__ADS_1


Benar saja apa yang Cherry bayangkan. Baru juga ia berhasil lolos dari jendela kamar tersebut, dia sudah mendengar teriakan dari bawah. Teriakan yang memanggil bantuan karena telah menemukan orang yang mereka cari.


"Sial! Tidak mudah untuk aku lolos dari sini. Tidak bisa turun sekarang karena terlalu banyak penjaga. Bagaimana ini?"


Cherry berusaha kabur dari sisi dinding mansion tersebut tanpa berniat untuk turun ke bawah. Karena turun, bukan pilihan yang baik. Soalnya, butuh banyak waktu dan tenaga untuk melawan banyak penjaga yang siap untuk meladeni pertarungan dengannya.


"Benar-benar sial!" Cherry terus mengumpat sambil memikirkan jalan yang paling baik yang harus ia tempuh.


Saat itulah, dia melihat ada balkon yang pintunya sedang terbuka. Tanpa berpikir ulang, Cherry langsung saja memanjat balkon tersebut. Karena kebetulan, tubuhnya sudah mulai kelelahan bergelayutan di dinding tembok hanya dengan pijakan yang sangat kecil.


"Huh, ya ampun." Cherry langsung melepas napas lega setelah dia berhasil menaiki balkon tersebut.


Malangnya, baru juga berhasil menaiki balkon, dia malah kembali mendapat teriakan dari salah satu pengawal. Dengan sigap dan juga penuh kewaspadaan, Cherry langsung menyusup ke dalam melalui pintu yang sedang terbuka lebar. Ternyata, pintu itu adalah pintu penghubung antara balkon dan kamar tidur.


Kamar yang cukup luas. Tertata dengan sangat rapi semua barang yang ada di dalamnya. Sesaat, Cherry terdiam memperhatikan kamar itu. Karena dia merasa, kamar itu sepertinya milik tuan rumah. Mungkin, tuan rumahnya seorang pria. Karena bisa Cherry lihat dari barang-barang yang terdapat di kamar itu.

__ADS_1


__ADS_2