
"Dan, satu lagi, Ma. Ini sebenarnya tidak murni kesalahan Aditya. Ini kesalahan perempuan ***- *** yang baru Aditya kenal itu. Dia udah berani menggoda Aditya sampai Adit hilang kendali, Ma."
"Kurang ajar sekali perempuan itu! Berani-beraninya dia bersaing dengan anak mama. Tunggu dan lihat saja nanti apa yang akan mama lakukan padanya. Mama akan minta sama kakak kamu untuk memutuskan kerja sama dengan perusahaan yang telah mengirim dia ke perusahaan kita. Kalau perlu, akan mama buat dia kehilangan pekerjaan buat selama-lamanya."
Chika begitu bahagia dengan apa yang baru saja kupingnya dengar. Dengan senyum lebar, dia melihat ke arah sang mama.
"Mama beneran, Mah?"
Sayangnya, belum sempat mama Chika menjawab, Gerry malah sudah duluan yang menjawab pertanyaan Chika barusan.
"Tidak! Aku tidak akan pernah memutuskan kerja sama dengan perusahaan itu."
Ucapan Gerry yang lantang dan tiba-tiba membuat mama juga adiknya langsung mengalihkan pandangan. Chika yang sempat bahagia, kini langsung murung kembali. Sedangkan mama mereka langsung bangun dari duduknya dengan cepat. Dengan wajah penuh dengan kekesalan, dia melihat ke arah Gerry.
"Apa yang kamu katakan barusan, Gerry? Tidak bisa? Kenapa tidak bisa? Apa kamu juga sudah tergoda oleh perempuan baru yang tidak tahu malu itu?"
"Apa yang mama bicarakan? Perempuan baru yang mana, Ma?"
"Oh, manajer perusahaan luar negeri yang sedang menjalin kerja sama dengan perusahaan kita, maksud mama?"
__ADS_1
"Iya, perempuan ***- *** yang sudah membuat adikmu sakit hati sampai seperti ini. Perempuan mana lagi? Jadi, mama ingin kamu putuskan kerja sama dengan perusahaan yang sudah mengirim perempuan itu. Biar perempuan itu tahu rasa."
"Tidak bisa. Ini masalah pribadi, kenapa harus merusak citra kantor kita yang begitu baik?"
Karena kata-kata itu, sang mama kembali naik darah. Apalagi, Gerry mengucapkan kata itu dengan nada tenang. Semakin kesal pulalah hati sang mama.
Sementara Chika yang melihat perdebatan itu, tidak ingin tinggal diam. Dia ingin membuat pertengkaran itu semakin sengit saja sekarang.
"Ma, kak Gerry sejak kecil hingga dewasa mana pernah berada di pihak aku. Dia pasti akan selalu ada di pihak musuhku. Jadi, dia tidak akan mengikuti apa yang mama katakan." Chika berucap dengan nada yang sangat sedih.
Tentunya, kesedihan itu hanyalah dibuat-buat belakang. Karena yang ada, dia sedang merasa sedikit bahagia saat ini. Bisa terus menciptakan jarak antara mama dengan anak kandungnya sendiri.
"Apa maksud kamu bicara begitu, Gerry? Kamu ingin bilang kalau mama kamu ini tidak sadar akan dunia sekeliling? Begitu maksud kamu, hah!?"
"Ya, begitulah, Ma. Mama memang tidak pernah sadar akan dunia sekeliling. Jika mama sadar, maka mama pasti bisa membedakan yang mana salah, dan yang mana benar."
"Mama tidak pernah sadar kalau apa yang sudah anak kesayangan mama lakukan itu salah. Ah, mungkin mama sadar, tapi mama tidak ingin ambil pusing dengan kesalahan itu. Karena mata hati mama sudah tertutup rapat. Mama sudah dibutakan oleh rasa sayang yang begitu berlebihan. Tanpa mama sadari, rasa sayang itu yang membuat anak mama ini jadi seperti bukan manusia lagi. Melainkan, monster yang begitu berbahaya."
"Gerry!"
__ADS_1
Mama Gerry langsung memberikan satu bentakan keras. Bagaimana tidak? Selama ini, Gerry hanya diam. Jika ia menolak, maka dia tidak akan bicara banyak. Tapi hari ini, entah karena dorongan dari mana, Gerry yang tidak ingin ambil pusing malah bicara panjang lebar. Mana bicara soal keburukan lagi. Dan juga, sampai mengatakan kalau Chika adalah seekor monster, bukan manusia. Apa tidak begitu kaget kedua orang yang ada di hadapan Gerry saat ini?
"Ma-- ma ... kak Gerry bilang aku bukan manusia, Ma. Tapi monster, Ma. Mama ... hu hu hu .... " Tentu saja Chika tidak akan tinggal diam. Karena seorang gadis licik nan jahat seperti dia, mana mau terima kekalahan.
"Kamu sungguh sangat keterlaluan, Gerry. Mama melahirkan kamu bukan untuk jadi anak durhaka seperti saat ini. Tega-teganya kamu bicara buruk tentang adikmu sendiri."
"Dia hanya adik sepupu, Ma. Anak tante yang mama angkat menjadi anak mama sendiri. Dan, mama melupakan anak kandung mama hanya karena ingin fokus mengurus anak angkat mama ini. Mama berdalih karena anak itu masih kecil. Dan sekarang, apa dia masih sama, Ma? Apa dia masih kecil sampai mama terus menerus melindungi dia?"
"Gerry!"
"Sudah cukup aku diam selama ini, Ma. Sekarang, aku tidak ingin diam lagi. Jika mama sayang anak mama ini, maka mama didik dia supaya jadi manusia. Jangan jadi monster bertubuh manusia."
"Gerry! Kamu sangat lancang ya!"
Bukannya sadar, mama Gerry malah semakin marah dengan apa yang anaknya katakan. Karena begitu kesal, dia ingin langsung menampar Gerry tanpa berpikir kalau yang ia lakukan adalah kesalahan besar.
"Mama!"
Untung saja suara itu langsung menahan tangan sang mama dengan cepat. Jadi, wajah Gerry masih bisa terselamatkan dari tamparan sang mama yang sedang marah besar.
__ADS_1