Bangkitnya Gadis Tertindas

Bangkitnya Gadis Tertindas
*BGT Bab 52


__ADS_3

Chika pun terus menyanggah apa yang sedang terjadi. Tapi, semua bukti sudah lengkap. Mana bisa ia menghindar lagi. Karena itu, dia langsung di bawa ke kantor polisi oleh beberapa orang polisi yang datang ke tempat tinggalnya.


Sementara itu, mama Gerry langsung menangis kembali setelah Chika meninggalkan kediaman mereka. Tangisan yang penuh dengan penyesalan, juga disertai dengan seribu kesedihan.


Saat ini, mama Gerry benar-benar merasa kalau dia sudah gagal menjadi seorang ibu. Dia gagal dalam mendidik anak angkatnya dengan baik. Dia menyesali semua yang telah ia lakukan.


"Mama. Jangan menangis lagi," ucap papa Gerry sambil menyentuh pelan pundak sang istri. "Semua sudah terjadi. Gak akan pernah bisa di ubah kembali, Ma. Jadi, jangan menyesali dengan terus-terusan menangis ya."


"Papa." Mama Gerry langsung menghambur ke dalam pelukan sang suaminya. "Maafkan mama, Pa. Mama telah salah mendidik Chika. Maafkan mama yang tidak mendengarkan nasehat papa. Maafkan mama." Mama Gerry berucap sambil menangis kencang.


"Sudah-sudah. Mama jangan menangis lagi. Karena tangisan tidak akan mengubah apa yang sudah terjadi."


Papa Gerry terus berusaha menghibur istrinya. Meskipun begitu, dalam hati ia merasa agak lega karena sang istri akhirnya sadar telah membuat kesalahan. Yah, meskipun sedikit terlambat. Tapi itu jauh lebih baik dari pada tidak sama sekali.


....


"Tidak. Tolong lepaskan aku! Aku tidak bersalah. Aku tidak bisa kalian penjarakan seperti ini. Aku adalah anak kesayangan." Chika berteriak kencang sambil berusaha menggoyangkan besi yang sudah jelas tidak akan bisa ia robohkan.

__ADS_1


"Diam! Jangan coba-coba kamu membuat keributan. Jika tidak, kamu akan tahu apa akibatnya." Seorang polisi wanita bicara dengan nada galak. Hal tersebut membuat Chika langsung tidak bernyali untuk bersuara.


"O ... ho ho ho. Kamu anak kesayangan ya? Uh .... Kasihan sekali anak kesayangan bisa masuk penjara." Satu tahanan yang ada di dalam. angkat bicara setelah polisi perempuan itu pergi.


"Ma-- mau apa kamu? Menjauh dariku sekarang juga," ucap Chika dengan gugup.


"Ah, kakak. Hati-hati dengan perempuan mungil ini. Apa kakak lupa? Dia adalah penjahat yang sungguh luar biasa. Bisa-bisanya ia membunuh suaminya di malam pertama pernikahan mereka. Sungguh ganas luar biasa," kata tahanan yang lainnya pula dengan nada penuh ejekan.


"Uh ... aku takut." Tahanan yang di panggil kakak oleh tahanan yang lain langsung menyambut ejekan temannya.


Plak!


"Aku benci anak manja yang datang dari orang kaya. Aku benci orang kaya yang sulit untuk masuk penjara. Karena itu, ketika sudah berada di dalam penjara, maka dia harus merasakan betapa tersiksanya jadi rakyat biasa yang tidak punya apa-apa." Tahanan itu berkata dengan nada yang dipenuhi dengan kekesalan.


Sementara Chika, ia tidak mampu berkata satu patah katapun. Yang bisa ia lakukan hanya menangis dengan tangisan yang sangat keras. Tapi sepertinya, polisi tidak menghiraukan tangisan itu.


Mungkin, polisi berpikir kalau tangisan itu karena Chika tidak ingin berada di dalam sel. Jadi, tidak ada yang memperdulikan tangisan itu meski Chika sudah menjerit dengan keras.

__ADS_1


Sayangnya, tangisan itu tidak berlangsung lama. Karena para tahanan yang ada di dalam sel tersebut langsung menutup mulut Chika dengan cepat agar tidak ada polisi yang peduli dengan Chika.


Begitulah nasib anak manja sekarang. Yang tidak pernah bersyukur akan apa yang sudah ia miliki. Malah selalu menginginkan yang lebih dan selalu lebih. Dia tidak ingat, kalau kehidupan itu seperti roda yang selalu berputar. Tak selalu ada di atas, juga tak selalu ada di bagian bawah.


....


Vonis hukuman penjara seumur hidup telah Resti dan Chika dapatkan. Meskipun begitu, mereka tidak tinggal di satu penjara. Mereka berada di penjara yang terpisah. Jadi, tidak bisa bertemu satu kali pun.


Chika yang sekarang sudah di jatuhi hukuman penjara seumur hidup, seperti tidak punya gairah untuk hidup lagi. Wajahnya pucat, tubuhnya semakin hari semakin kurus.


Dia begitu memprihatinkan saat ini.


Sebelumnya, di persidangan, Chika dipukuli dengan brutal oleh mama Aditya. Karena rasa kesal yang sangat besar, mama Aditya melupakan segalanya. Status sosial tidak ia ingat lagi.


Dengan penuh dengan kemarahan, Chika di jambak, di tampar, bahkan berusaha di tendang oleh mama Aditya. Yah, kekuatan perempuan yang sedang marah tidak bisa dianggap remeh. Meskipun sudah berusaha di lerai, mama Aditya masih bisa melancarkan serangan ke Chika.


Penderitaan Chika pun tidak hanya sampai di situ saja. Di ruang persidangan, entah datang dari mana seorang anak kecil langsung melempari Chika dengan baru kerikil hingga kepala Chika berdarah.

__ADS_1


__ADS_2