
Semuanya berjalan sesuai keinginan. Tapi sayang, pada malam hari kediaman Cherry langsung kedatangan pembunuh bayaran yang berkedok perompakan. Cherry yang tidak menyangka akan hal tersebut tentu langsung panik.
Di tambah, pembunuh bayaran itu tidak hanya ada satu orang saja. Melainkan, ada lebih dari lima orang. Cherry tentu tidak bisa menghadapi lima orang sekaligus dalam keadaan tidak siap.
Bukan tidak siap secara mental. Melainkan, para pembunuh bayaran itu datang dengan senjata lengkap. Mereka juga mempunyai ilmu bela diri yang setara dengan Cherry. Jadi, sangat sulit bagi Cherry yang di serang secara tiba-tiba untuk melawan banyak musuh dalam keadaan panik.
Serangan demi serangan berusaha Cherry hindari dengan susah payah. Zia juga ikut membantu seadanya. Karena ilmu bela diri yang dia miliki jauh di bawah Cherry. Sedangkan lawan mereka setara dengan Cherry.
Sangat tidak mungkin untuk mereka menang. Mana para pembunuh bayaran itu terkadang sesekali melepaskan tembakan lagi. Sangat sulit untuk Cherry dan Zia selamat.
Keadaan rumah Cherry sangat berantakan. Sinyal bahaya yang sebelumnya Zia kirim, akhirnya membawa Letto datang ke rumah tersebut. Namun sayangnya, Letto tidak memikirkan keadaan yang terlalu kacau ini. Karena itu, dia hanya datang seorang diri saja.
Tepat saat Letto memasuki ruangan utama, sebuah tembakan langsung terdengar dengan keras. Tembakan itu datang dari kamar Cherry. Letto yang sebelumnya cemas, kini mendadak panik akibat suara tembakan tersebut.
Belum juga kaki Letto berhasil menginjak anak tangga untuk ke atas, suara teriakan keras langsung terdengar. "Zia ... ! Tidak ...!"
Letto tahu siapa pemilik dari suara tersebut. Siapa lagi jika bukan Cherry. Perempuan yang selama ini berusaha ia lindungi sekuat tenaga karena sebuah wasiat dari orang yang sudah mengubah nasib dia dan juga adiknya.
Karena suara itu terdengar penuh dengan kesedihan juga kemarahan. Letto yang panik langsung berlari kencang menaiki anak tangga agar segera tiba ke tempat yang ingin ia tuju.
__ADS_1
Sangking cepatnya Letto melangkah, pijakan yang ia gunakan seakan tidak tersentuh dengan baik.
Sementara itu, di dalam kamar, Cherry sedang menangis karena melihat tubuh Zia yang kini tergeletak di atas lantai. Perut Zia perlahan mengeluarkan darah segar akibat sebuah peluru yang bersarang di perut tersebut.
Ya, Zia tertembak. Peluru yang harusnya mengenai Cherry, dengan sigap Zia yang menjadi penghalangnya. Karena dia tidak akan membiarkan Cherry terbunuh meski harus mengorbankan nyawanya.
"Tidak! Zia jangan lakukan ini." Cherry berucap sambil menangis.
Hal itu membuat para pembunuh bayaran langsung tertawa bahagia. "Ha ha ha .... Temanmu sudah tewas. Sekarang, giliran kamu yang harus pergi menyusulnya."
"Iya. Kali ini giliran kamu. Jangan melawan. Tidak ada gunanya kamu melakukan perlawanan. Karena kami adalah orang pilihan yang tidak akan pernah gagal dalam menjalankan misi."
Begitulah para pembunuh bayaran menggoda Cherry yang sedang sedih. Mereka mengolok-olok Cherry yang saat ini sedang menangis tersedu-sedu.
'Tidak. Aku tidak akan membiarkan Zia berkorban begitu saja. Tidak akan pernah. Tuhan, jangan lakukan ini lagi. Aku tidak ingin,' kata Cherry dalam hati.
Lalu, Cherry mendadak bangkit dari jatuhnya. Dia langsung memperlihat tatapan tajam penuh dengan amarah. Saat itu pulalah, pintu kamar Cherry langsung terbuka. Letto pun muncul dari balik pintu tersebut.
"Zia!"
__ADS_1
"Kak Letto! Cepat panggil bantuan."
Cherry berteriak keras. Meminta Letto untuk segera menjauh.
Sayangnya, hal itu tidak akan pernah bisa Letto lakukan. Karena jika ia menjauh, dia cemas akan keadaan Cherry sendirian.
"Tapi Cherry .... "
"Lakukan, kak! Pergi sekarang!" Cherry bicara sambil berusaha menghalangi gerak para pembunuh bayaran yang berniat untuk mencegah Letto melakukan permintaan Cherry.
"Tidak akan kami biarkan kamu mencari bantuan. Karena kalian harus segera kami lenyap kan sekarang juga agar tugas kami secepatnya selesai."
"Kalian tidak akan bisa melakukan hal tersebut. Karena .... "
Belum juga Cherry berhasil menyelesaikan apa yang ingin dia katakan, sebuah tendangan langsung mengenai punggung Cherry. Pukulan dari belakang yang tidak bisa Cherry hindari membuat Cherry langsung merintih kesakitan. Tubuhnya pun tak kuat untuk tetap berdiri tegak.
Melihat Cherry yang terjatuh dengan posisi berjongkok, otomatis Letto jadi semakin tak karuan. Perintah yang Cherry berikan untuk mencari bantuan, tidak Letto indahkan lagi. Karena rasa cemas akan keselamatan Cherry lebih besar saat ini.
"Cherry! Apa kamu baik-baik saja!?"
__ADS_1
"Jangan cemaskan aku, kak. Pergi sekarang bagaimanapun caranya. Di sini, aku masih bisa menahan mereka agar tidak menghalangi kak Letto untuk pergi."