
Karena rasa kesal dan hati yang sedang di penuhi dendam akan Chika, Aditya tidak bisa berpikir dengan baik lagi. Dalam hatinya hanya satu pikiran, jika bisa membunuh Chika, mungkin ia akan merasa sangat puas meskipun penjara yang akan menjadi imbalannya.
"Aku tidak akan melepaskan mu, Chika. Aku akan membunuhmu malam ini. Biar kau tahu, bagaimana rasanya mati di tangan orang yang kau paksa untuk memenuhi ambisi mu buat mendapatkan apa yang kamu inginkan."
"Oh, satu hal lagi. Kau tahu, aku tidak pernah mencintaimu sedikitpun. Sejak pertama bertemu, hingga saat ini, aku tidak pernah punya rasa cinta padamu."
"Kita bersama hanya karena kamu yang terus menginginkannya. Kamu yang punya kuasa, ingin aku bersama denganmu. Karena itu kita bersama. Tapi, bukan karena ada rasa cinta. Melainkan, hanya karena dipaksakan saja."
Mendengar ucapan itu, Chika yang merasa kesal, kini bertambah kesal. Tangannya yang sejak tadi berusaha menggapai sesuatu, akhirnya bisa meraih vas bunga yang ada di atas meja kecil tak jauh dari tempat mereka berada.
Lalu, prank! Bunyi benda keras bertabrakan terdengar sangat kuat. Seketika, cengkraman tangan Adit melonggar akibat kepalanya yang Chika pukul dengan vas bunga.
Darah segar perlahan mengalir dari kepala Aditya. Tapi, Aditya masih belum roboh. Dia masih kuat untuk berdiri dengan kakinya saat ini.
"Chika. Kamu .... "
__ADS_1
Belum sempat kata-kata yang ingin Adit ucapkan selesai. Chika yang marah, langsung memukul Aditya dengan guci batu yang berada tak jauh dari vas bunga sebelumnya. Alhasil, Aditya akhirnya hilang kesadaran karena pukulan yang kedua kalinya dari Chika.
Tubuh Aditya langsung jatuh ke lantai Sementara Chika, ia malah menatap Aditya dengan penuh kemenangan. Tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.
"Sudah aku katakan, kalau aku tidak akan pernah membiarkan kamu menyakiti aku, Aditya. Apalagi membunuhku malam ini. Karena aku, bukan perempuan lemah seperti yang kamu pikirkan."
"Aku memang menginginkan kamu sebagai milikku. Tapi, itu juga karena aku harus mendapatkan apa yang aku inginkan supaya hatiku merasa puas. Tidak sepenuhnya karena aku cinta padamu. Karena rasa cinta yang aku miliki, tidak ada secuil dari rasa ingin mendapatkan apapun yang harus aku dapatkan supaya hatiku merasa puas."
"Bersiap-siaplah, Aditya. Setelah kamu, aku akan membuat perempuan itu menerima akibatnya. Karena dia, kamu bisa begitu melawan aku dengan sangat berani. Tunggu saja. Aku pasti akan menemukan dan melenyapkan perempuan itu secepatnya."
Permainan yang luar biasa. Tidak ada yang tahu kalau Chika adalah pelaku yang sudah membuat Aditya jatuh terkapar di kamar tersebut. Melainkan, penyusup yang sudah mengacaukan malam pertama dengan beberapa alasan.
Chika dikabarkan diculik orang. Sedangkan Aditya, dikabarkan mendapat pukulan akibat berusaha menyelamat Chika dari penculik yang ingin merusak malam pertama Chika dan Aditya.
Malam itu, suasana hotel tersebut sangat sibuk. Kehilangan Chika membuat mama Gerry panik luar biasa. Polisi pun ia kerahkan untuk menemukan anaknya yang hilang.
__ADS_1
Sementara Aditya, segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapat pertolongan. Pukulan di kepala Aditya membuat Aditya berada dalam kondisi sekarat sampai di rumah sakit. Hingga akhirnya, nyawa Aditya di nyatakan tidak bisa di tolong lagi akibat penyumbatan yang diakibatkan pukulan keras. Aditya tewas setelah beberapa jam berada di rumah sakit.
Kabar itu membuat Chika langsung merasa lega. Karena tidak ada Aditya, maka tidak akan ada yang tahu kalau itu semua adalah perbuatannya. Bukan orang yang sedang tidak ingin melihat ia bahagia seperti yang orang lain pikirkan saat ini.
Selanjutnya, orang suruhan tante Resti terus berpesan dengan baik seperti yang tante Resti katakan. Anak buah itu menghubungi keluarga Chika, meminta keluarga Chika memberikan tebusan dengan jumlah yang sangat besar.
Tentu saja mama Gerry langsung meminta suaminya memberikan apa yang penculik itu inginkan. Karena bagi mama Gerry, keselamatan anak angkat, alias keponakannya itu adalah hal yang paling utama buat dia.
"Mama gak mikir apa, Ma? Uang sebanyak lima puluh milyar itu sangat besar. Mau papa ambil di mana malam-malam begini, Ma?" Papa Gerry mulai meradang sekarang.
"Lima puluh milyar gak ada apa-apanya dibandingkan nyawa Chika, Pa. Mama gak mau tau, papa harus keluarkan uang sebanyak itu bagaimanapun caranya. Mama gak akan maafin papa jika Chika terjadi apa-apa."
"Mama!"
"Jika papa gak mau mengikuti apa yang mama katakan. Jika papa gak mau nolongin Chika, maka mama yang akan melakukannya. Akan mama serahkan sertifikat mansion kita ke penculik itu malam ini supaya mereka bisa melepaskan Chika."
__ADS_1