
"Tuan muda. Apa anda baik-baik saja di dalam? Anda ada di dalam saat ini, bukan?" Itu adalah suara pengawal yang kini sedang berada di depan pintu kamar Gerry.
"Aku baik-baik saja. Ada apa!?" Suara Gerry terdengar sangat galak membuat orang yang ada di luar sana merasa ngeri.
Si pengawal sontak langsung saling bertukar pandang satu sama lain. Mereka terdiam beberapa saat karena mendengar nada kesal dari kata yang baru saja Gerry ucapkan.
"Ee ... itu, tuan muda. Maaf sebelumnya, kami ingin memastikan kalau tuan muda saat ini sedang dalam keadaan baik-baik saja. Soalnya ... kami ... melihat ada penyusup yang memasuki balkon tuan muda tadi. Karena itu .... "
"Aku baik-baik saja sekarang. Tidak ada penyusup di sini. Kalian bisa pergi dari kamarku karena aku ingin istirahat." Gerry langsung memotong perkataan si pengawal dengan cepat tanpa menunggu pengawal itu menyelesaikan ucapannya.
Gerry bicara sambil terus menatap Cherry yang kini ada di hadapannya. Awalnya, Cherry merasa sangat bimbang saat ia mendengar suara penjaga yang berada di luar kamar Gerry. Karena bagaimanpun, sebelumnya dia sudah pernah berhadapan dengan pria yang kini berada di depannya. Cherry cukup tahu bagaimana kekuatan pria tersebut. Jika dibandingkan para pengawal, ia mungkin lebih merasa takut dengan pria ini karena tidak mudah untuk ia hadapi.
Tapi beruntungnya, apa yang Cherry pikirkan tidak sama dengan yang sedang terjadi. Gerry bukannya mengatakan kalau dia sudah bertemu dengan orang yang pengawal tersebut cari. Tapi malah sebaliknya. Gerry berbohong untuk melindungi Cherry yang jelas-jelas adalah musuhnya saat ini.
__ADS_1
Sementara itu, para pengawal yang mendapat perintah dari Gerry untuk pergi, langsung meninggalkan kamar tersebut. Tentunya, mereka akan langsung mematuhi perintah yang Gerry berikan. Karena Gerry adalah orang yang paling mereka segani sebagai majikan di mansion ini.
Setelah langkah kaki tidak terdengar lagi, Cherry yang sedari tadi menatap tajam Gerry langsung angkat bicara. "Kenapa kamu bilang tidak melihat penyusup? Apa kamu tidak tahu, yang mereka maksudkan penyusup itu adalah aku?"
Pertanyaan itu langsung membuat Gerry tersenyum. Sambil berjalan maju ke arah ranjang, meninggalkan Cherry yang masih berdiri di depan pintu kamar mandi, Gerry pun langsung menjawab. "Tentu saja aku sudah tahu kalau yang mereka cari itu adalah kamu. Namun, yang masuk ke kamarku pasti bukan penyusup. Karena tidak ada yang penyusup bisa ambil dari kamarku. Juga, tidak ada perlunya penyusup masuk ke kamarku."
Cherry langsung membalikkan badannya. Namun, saat ingin menjawab apa yang Gerry katakan, kata-kata yang ingin ia ucap langsung tertahan. Karena Cherry tanpa sengaja melihat bekas luka bakar di punggung Gerry yang kebetulan saat ini, Gerry tidak memakai baju. Yang Gerry kenakan saat ini hanya celana panjang, juga handuk yang ada di sekitar lehernya.
"Pu-- punggung ... mu ... itu .... " Cherry sangat tertarik dengan bekas luka itu sampai dia lupa dengan siapa dia sedang bicara.
Seketika, Gerry langsung membalikkan tubuhnya. Membuka handuk, lalu menutupi tubuhnya dengan handuk tersebut sampai luka bakar itu tidak terlihat lagi.
Gerry tidak langsung menjawab apa yang Cherry tanya. Tapi, dia malah duduk sesaat setelah menutupi tubuhnya dengan handuk tersebut.
__ADS_1
Selanjutnya, dia malah tersenyum menggoda.
"Ternyata, kamu juga sangat suka memperhatikan tubuh pria yang bukan siapa-siapanya kamu ya? Aku pikir ... kamu hanya suka masuk ke kamar ku saja. Eh taunya, kamu juga suka memperhatikan tubuhku."
Ucapan yang bernada godaan itu langsung mampu membuat Cherry merona akibat malu. Tapi, sebisa mungkin Cherry berusaha menyingkirkan rasa malu yang ada dalam hatinya. Dengan sekuat tenaga, ia munculkan perasaan kesal agar bisa membalas ucapan Gerry.
"Heh ... aku tidak seperti yang kamu bayangkan. Masuk ke kamar ini juga karena aku tidak tahu kalau ini adalah kamarmu. Kamar pria mesum seperti kamu. Jika saja aku tahu kalau ini adalah kamarmu, maka aku tidak akan masuk ke sini. Kamu mengerti?"
Bukannya kesal, Gerry malah makin merasa senang. Lagi-lagi, dia berniat untuk menggoda Cherry agar semakin memperlihat rona wajah yang entah mengapa bisa membuat hati Gerry sangat bahagia.
"Oh, benarkah apa yang kamu katakan? Kamu tidak tahu kalau ini kamarku? Jadi, jika bukan kamarku, maka kamu akan bahagia jika kamu masuk ke kamar pria lain? Begitu kah yang kamu maksud?"
"Kamu!"
__ADS_1