Barcelona I Love You

Barcelona I Love You
Chapter 10


__ADS_3

Zeline berdeham dan mulai memperbaiki mimik wajahnya. menghalau semua pikiran yang berkecamuk dalam benaknya akibat tingkah bodoh kakaknya.


"Lalu bagaimana caranya kakak akan tau jawaban wanita itu jika kakak saja tak memiliki nomor ponselnya"


Alex menoleh dan tersenyum kecut "Dia bilang akan menjawabnya saat kita bertemu kembali"


"Mengandalkan bertemu, apakah kakak sebelumnya telah membuat janji dengannya. Jika seperti itu, kapan kalian akan bertemu" tanya Zeline


"Aku juga tak tau Ze, itulah yang membuatku frustasi. Bagaimana caranya agar aku bisa bertemu dengannya, alamat rumah bahkan tempat kerjanya saja kakak tidak tau" keluh Alex


Zeline menepuk jidatnya "kenapa kakak tidak meminta tolong saja pada Kak Jared untuk melacak semua informasi juga keberadaan wanita itu!" ucap sedikit kesal. Mengapa kakak yang cerdas ini mendadak menjadi bodoh karena seorang wanita, itu membuat Zeline semakin penasaran, sebenarnya wanita seperti apa yang mampu menaklukkan hati kakaknya ini


Alex yang mendapatkan pencerahan membelalakan mata dan menjentikkan jarinya. "kenapa aku sama sekali tak memikirkan hal itu!" rutuk Alex "Terimakasih Zezeku sayang, kakak tidak menyangka jika kamu sepintar ini" ucap Alex tersenyum menatap adiknya itu.


Zeline menatap datar Alex, dan tanpa aba memukul lengan Alex. "Sungguh keterlaluan, aku memang sudah pintar sedari dulu!" koreksi Zeline yang tak terima akan ucapan kakaknya. Alex pun terkekeh dan mengacak-acak gemas rambut Zeline.


"Siapa namanya? Kakak belum memberi tahuku!"


"Evelyn, Evelyn Mackenzie"


***


Matahari telah menampakan diri sepenuhnya, memantulkan cahaya terang ke permukaan laut yang menampakan keindahan alam. Suara deburan ombak yang tenang bersama dengan kicauan burung dan orang-orang yang dengan gembira bermain bersama lautan. Tawa riang, suara derap langkah kaki, membaur menjadi satu dengan alam yang ikut memeriahkan kehidupan yang berlangsung. Terpaan angin laut dan harum laut yang menenangkan dengan cahaya hangat yang benar tanpa tahu arti padam.


09.00 AM - The Golden Pear Cafe`


Zeline menyuap sesendok sup ke dalam mulutnya yang tampak begitu menggugah selera dengan ditemani sandwich juga segelas jus, sedangkan Alex lebih memilih sarapan dengan muffins dan segelas kopi. Zeline terus menyantap makanannya tanpa memperdulikan sekitarnya, moodnya sungguh berada di puncaknya.


Setelah puas bermain di pantai dan kini sarapan dengan menyantap menu yang menurutnya sangat lezat. 'tak ada kertas, tak ada laporan, dokumen, berkas atau semacamnya, dan tak ada para pengusik' batin Zeline sembari terus melahap makanannya.

__ADS_1


"Jun!" pekik Alex saat tanpa sengaja melihat keberadaan Jun yang tengah mencari kursi kosong. Alex melambaikan tangan dan mengajaknya ikut bergabung tanpa berfikir panjang. Jun melangkah mendekati kursi di mana ada Alex yang juga tenaga menyantap sarapannya. Sedangkan Zeline masih tak memperdulikan sekitarnya dan hanya fokus pada makanannya saja. Namun disaat Jun menggeser kursi dan mulai duduk di samping kursi Alex netra hitam legam miliknya dengan refleks memandang wanita yang tengah duduk tepat di depannya, dan tanpa di duga netra mereka bertemu.


"KAU!!!" pekik Jun dan Zeline bersamaan. Orang-orang di sekitar bahkan sampai menolehkan kepala mereka karena pekik-an mereka berdua.


Namun sesaat kemudian wajah mereka memerah seketika, Semerah kepiting rebus. Sedangkan Alex yang tak tau apapun mengenai masalah mereka berdua.


"Ada apa dengan kalian?" tanya Alex menatap mereka berdua. "Kalian punya masalah?" lanjutnya


Jun mulai menetralkan ekspresinya dan bersandar pada kursi seraya menyugar rambutnya. Sementara Zeline masih mencoba mengalihkan pikirannya dari rentetan kilas balik kejadian waktu lalu yang entah kenapa terus berputar di otaknya bak kaset rusak.


"Apa ka.." ucap Zeline terhenti lalu mulai merutuki dirinya dalam hati.


"Apakah Direktur tau apa yang telah pria mesum ini lakukan pada saya?" tanya serta menyelipkan arti mengadu pada Alex.


Alex yang mendengar Zeline menyebut dirinya Direktur sedikit mengernyit menatap tingkah adiknya tersebut. Zeline hanya menatap tajam Alex dan menggelengkan kepalanya lirih. Alex yang mulai membaca situasi akhirnya berusaha menetralkan mimik wajahnya


"it was an accident!" potong Jun saat Alex akan mulai bertanya


"Bahkan aku sudah rela meminta maaf lebih dulu padamu! kau saja tak meminta maaf padaku untuk kopi yang juga kau tumpahkan padaku sebelumnya"


"Ha? Apa kau bilang? Oke aku minta maaf untuk masalah kopi sebelumnya juga tentang bajumu yang menjadi kotor.


Tetapi untuk masalah kemarin, kau kira permintaan maaf apa kemari itu! itu bahkan bukan permintaan maaf!! bahkan permintaan maaf saja tak cukup!" hardik Zeline kesal menahan amarah. Sedangkan Alex hanya diam dan melanjutkan sarapannya tanpa mau melerai adu mulut kedua orang itu. Menurutnya ini adalah hal langka, kapan lagi ia akan melihat Jun begitu memperlihatkan sifat emosionalnya, apalagi ini dengan seorang wanita yang tak lain adalah adiknya yang manja. Lebih baik ia bertanya apa masalah mereka pada salah satu dari mereka dari pada harus merusak hiburan ini


Jun memutar bola matanya jengah "bukankah aku sudah mengatakan bahwa itu hanya kecelakaan tak di sengaja? Kau juga salah, karena berhenti di tengah jalan"


"Aku sedang mengambil ponselku yang terjatuh!" desis Zeline tak terima di salahkan


"Permisi, ini pesanan anda" salah seorang waiters membawa nampan berisi pesanan Jun dan menghentikan adu mulut mereka.

__ADS_1


Jun hanya mengangguk dan menatap Zeline kembali setelah waiters itu pergi. "Tetapi tetap saja kau juga salah, kenapa pula kau menarik bajuku"


"Aku akan terjatuh, aku spontan menarikmu!"


"Jadi intinya kau juga salah! Apa yang perlu di permasalahkan lagi? Ciuman itu? seperti perawan yang tak pernah di cium saja!" sinis Jun tanpa memandang Zeline dan mulai menyantap makanannya.


"TETAPI ITU CIUMAN PERTAMAKU! DAN YA! AKU MEMANG SEORANG PE-RA-WAN!!" berang Zeline yang tak mampu menahan emosinya yang di ujung batas


Jun dan Alex yang tengah menenggak minuman mereka terkejut akan ucapan Zeline, hingga akhirnya mereka tersedak dan terus terbatuk-batuk hingga mata mereka berair. Alex sebenarnya sedikit terkejut bahwa secara tidak langsung Jun mengungkapkan bahwa dirinya telah mencuri ciuman dari adik kesayangannya, namun Alex berusaha bersikap biasa saja, tetapi balasan dari Zeline sungguh tak terduga. Sangat tidak terduga! bahkan beberapa orang di sekitar mereka kembali menatap heran mereka.


"Tenanglah, orang-orang memperhatikan kita" ucap Alex selembut dan sepelan mungkin pada adiknya itu. Zeline pun tersadar dan merutuki kebodohannya, ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan merunduk malu 'apa yang sudah kulakukan' rutuknya dalam hati. Ia bahkan tak berani memandang wajah kakaknya.


"Dasar wanita bar-bar" ucap Jun sinis dan sukses membuat Zeline menatap nyalang padanya. Alex yang melihat kilatan permusuhan mereka hanya dapat menghela nafas kasar.


__________


Terimakasih sudah membaca ❤️


jangan lupa tinggalkan jejak jika kalian suka, cukup klik like, fav, komen, rating 5 dan vote 😚


like dan komen kalian sungguh bikin aku terharu dan bikin aku semangat nulis.. 🥰


dan jika kalian berkenan silahkan mampir di ceritaku yang lain ...


'Endless love' & 'Jadi, dia atau siapa'


tengkyuuu


bye bye..

__ADS_1


__ADS_2