Barcelona I Love You

Barcelona I Love You
Chapter 15


__ADS_3

Jun mengetuk pintu ruangan Mr.Robert dan melangkah memasuki ruangan atasannya tersebut. Robert menatap bingung sekertarisnya itu.


"Ada apa" tanya Robert singkat


"Mr.Robert saya ingin megajukan cuti untuk Minggu ini" ucap Jun dengan sikap profesionalnya.


"Kenapa mendadak sekali. 2 hari, ku beri kamu waktu cuti 2 hari" ucap Robert mutlak


"Baik Mr.Robert , terimakasih, saya izin permisi"


"Hmm, baiklah kamu boleh pergi"


"Jun" panggil Robert menghentikan langkahnya


"Jika kamu sedang ada masalah, kamu bisa membagi beban masalahmu pada Zack, atau jika kamu mau, kamu bisa meminta nasehat atau saran dariku"


"Terimakasih banyak Mr.Robet , saya akan mengingatnya" Jun menundukkan kepalanya sekilas lalu berbalik pergi meninggalkan ruangan Robert.


Setelah membersihkan seluruh mejanya dari berkas-berkas. Jun meraih kunci mobilnya dan pergi berlalu meninggalkan perusahaan. Ia butuh waktu untuk menenangkan diri juga menyiapkan perasaannya.


***


"Bukankah sudah ku katakan untuk tidak menggoda para atasan ,termasuk Mr.Jun!"


maki Misya pada Zeline.


Zeline memekik tertahan ketika lengannya ditarik hingga tubuhnya membentur dinding ruang arsip. "Aakkkhhhh.." Zeline meringis merasakan nyeri pada rambutnya yang ditarik kencang oleh Misya.


"Apakah perkataanku kurang jelas!!! dasar ******!!"


'Duuukkkk' suara pintu terbuka


"Ada apa ini?" sebuah suara membekukan tingkah mereka.


"Ahhh, ternyata si wanita penggoda sedang ada di sini" sinis Emma pada Zeline.


"Kau membuatku hampir serangan jantung karenamu! ku kira kau orang lain" ucap Misya kesal.


"Sorry"


Misya melepaskan cengkraman tangannya pada rambutnya. Emma mendekat dan menatap sinis Zeline.


"Dasar ******! berani sekali kau menggoda Mr.Zack" belum reda rasa nyeri di kepalanya namun Emma menambahkannya juga dengan menarik kencang rambutnya.


"Apa-apaan kalian ini! siapa yang menggoda, aku tidak pernah menggoda siapapun!" pekik Zeline


"Akkhhhh" ringis Zeline saat tarikan di kepalanya menjadi-jadi


"Tidak menggoda katamu? aku bahkan melihat dengan jelas bagaimana kau berusaha merayu Mr.Zack malam itu! dan belum puas kau bahkan menggoda Mr.Jun juga Mr.Matteo? uhhh sungguh murahan sekali kau ini"


"Lepaskan tanganmu dari rambutku!" hardik Zeline tak terima, kepalanya sudah terasa sakit dan berdenyut nyeri sedari tadi.


"Beraninya kau!" Misya yang tersulut emosi lantas menampar Zeline yang terhuyung akibat cengkaraman tangan Emma terlepas dari rambutnya.

__ADS_1


"Ini peringatan terakhir untukmu! jangan mencoba untuk mendekati apalagi menggoda Mr.Zack dan Mr.Jun atau aku akan membuatmu lebih menderita dari ini"


Misya dan Emma pun berlalu meninggalkan Zeline yang masih terduduk menahan nyeri di kepala. Sungguh sakit, bukan hanya sakit fisik namun juga perasaan. Zeline menitihkan air matanya dan terisak. Sebeginikah yang memang harus Zeline rasakan untuk dapat di anggap pantas oleh daddy-nya.


Zeline mengusap air matanya kasar.


"Aku harus kuat, aku tak boleh lemah" monolognya


"Akkhhh, bahuku sakit sekali, pasti memar" Zeline mencebikkan bibirnya dengan nafas yang tersengal menahan tangis. "Pipiku bahkan masih terasa panas, sungguh tak kira-kira dia menamparku. Awas saja nanti, akan ku pecat mereka"


Zeline melangkah meninggalkan ruang arsip, ini sudah waktunya para karyawan pulang. Ia juga harus segera pulang, dirinya lelah setengah mati hari ini.


"Ze? kau, ada apa denganmu?"


"Oh, Hay Love, memangnya aku kenapa" ucap Zeline ambigu


"Siapa yang menamparmu? berani sekali dia"


"Kau terlalu cemas, ini bukan apa-apa, hanya tak sengaja tertimpa beberapa arsip tadi"


"Jangan merahasiakan atau menutup apapun dariku Ze!"


"Antar aku pulang, aku tak membawa mobil hari ini" cicit manja Zeline mengalihkan arah pembicaraan. Velove menghela nafas lalu merangkul bahu Zeline, namun seketika Zeline memekik kesakitan saat pundaknya yang terbentur dinding tersentuh tangan Velove.


"Apa, mana lagi yang sakit" panik Velove


"Kau terlalu berlebihan, pundak ku hanya terbentur dinding tadi, dan mungkin memar jadi terasa sakit saat kau sentuh tadi"


"Pipi? lalu pundak? Ze..." geram Velove


"Love, aku lelah" pinta Zeline dengan mata memerah


"Oke, oke kita pulang sekarang"


***


"Awwww, sakit love, jangan di tekan memarnya"


"Sekarang katakan padaku, kenapa bisa sampai seperti ini"


"Mereka berdua menarik rambutku, lalu mendorongku hingga terbentur dinding.


Rambutku serasa akan rontok semua" cicit Zeline dengan suara yang semakin serak disaat isakan semakin terdengar..


Hati Velove terasa nyeri mendengarnya, ia merasa gagal menjadi sahabat, padahal Mr.Robert telah mempercayakan Zeline padanya.


"Maaf" Isak Velove memeluk Zeline erat


Zeline terpaku mendengar isakan Velove, isakannya bahkan berhenti seketika.


"Hey, kenapa kau ikut menangis love, aku tak apa, jangan meminta maaf, itu salahku sendiri" ucap Zeline berusaha menenangkan Velove. Ia tersenyum lebar walau terlihat mata dan hidungnya yang memerah serta bekas lelehan air mata di pipinya.


"Hiikksss... kau ini, sungguh, jangan lagi terluka Ze, bisa habis aku di mutilasi Daddymu karena lalai menjagamu"

__ADS_1


"Hahaha.. love kau ini sungguh, tak apa, aku janji akan lebih berhati-hati" Zeline tersenyum dan tertawa ringan


"Berjanjilah juga padaku, jangan katakan masalah ini pada siapapun, termasuk kakak dan juga Daddy, aku hanya tak ingin mereka khawatir"


"Tapi Ze.."


"Love, percayalah padaku, ini akan segera berakhir, aku tak ingin semua perjuangan dan pengorbanan ku sia-sia, aku ingin Daddy mengakuiku, bahwa aku pantas"


"Berjanjilah love.."


"Baiklah"


***


00.20 AM


Malam semakin larut, namun Velove masih belum dapat tertidur. Ia terus memperhatikan Zeline yang telah tertidur pulas. Dirinya gelisah tak tau harus bagaimana, haruskah ia melaporkan segalanya atau biarkan Zeline sendiri yang menceritakannya.


"Semoga keputusanmu untuk tak membuatku memberitahu kakak dan orangtuamu adalah keputusan yang tepat Ze, aku berusaha menerapi janjiku padamu" gumam Velove lalu ikut terlelap dan terbuai akan indahnya dunia mimpi.


06.40 AM


"Pagi" sapa Zeline saat melihat Velove keluar dari kamar


"Pagi Ze.. tak biasanya kau bangun lebih awal, dan.. kau memasak?" tanya Velove dengan keterkejutannya.


"Semenjak pindah ke apartemen ini, aku menjadi terbiasa bangun pagi dan memasak makanan sendiri, tak ada pembantu di sini, kau ingat" ucap Zeline setelah selesai menyajikan sarapan di atas meja pantry.


"Sekarang kau akan menjadi istri paling idaman seluruh pria!"


Zeline memutar bola matanya jengah


"Ada-ada saja kau ini! cepatlah makan sarapanmu lalu berangkat, atau kau ingin kita terlambat"


"Umm ini lezat" jujur Velove menatap Zeline


"Berarti usahaku belajar memasak tak sia-sia" Zeline tertawa ringan sedangkan Velove mengangguk-anggukan kepalanya membenarkan


__________


Terimakasih sudah membaca ❤️


jangan lupa tinggalkan jejak jika kalian suka, cukup klik like, fav, komen, rating 5 dan vote 😚


like dan komen kalian sungguh bikin aku terharu dan bikin aku semangat nulis.. 🥰


dan jika kalian berkenan silahkan mampir di ceritaku yang lain ...


'Endless love' & 'Jadi, dia atau siapa'


tengkyuuu


bye bye..

__ADS_1


__ADS_2