
Zeline menghela nafas berat saat jam menunjukan pukul tujuh malam, Jun belum juga mengunjunginya. Mungkin ia terlalu sibuk hingga melupakan janjinya atau tak sempat menemuinya.
Zeline menatap ke arah ponselnya yang berdering lalu mulai menggeser lingkaran hijau di layar untuk mengangkat panggilan masuk. 'Mommy' nama yang tertera dalam panggilan itu. Zeline tersenyum dan dengan segera menyapa sang mommy dari ponselnya.
"Malam Mom, ada apa"
"....
"Aku sudah sembuh mom, mommy terlalu berlebihan"
".....
"Aku tak bohong"
"....
"Ya aku tau, aku akan mengunjungi mom besok atau lusa"
"....
"Love you too mom, sampaikan salam ku untuk Daddy dan juga kakak"
"Aku lapar" gumam Zeline melangkahkan kakinya menuju dapur minimalis miliknya setelah meletakkan ponselnya pada nakas sampai ranjangnya.
Zeline membuka lemari pendingin dan mengeluarkan beberapa daging dan sayuran yang ingin ia masak.
09.15 PM
Zeline kembali menghela nafas panjang untuk kesekian kali setelah ia merasa semakin bosan dengan film yang tengah ia tonton. Ia masih mengharapkan Jun datang menemaninya, namun ini sudah pukul sembilan dan dirinya tak kunjung datang.
Zeline mulai bosan menunggu dan memilih untuk mengakhiri sesi menonton film, namun belum sempat ia menekan tombol off, bel apartemennya berbunyi, dan dengan senyum cerah Zeline segera bergerak cepat untuk membuka pintu apartemennya. Namun senyumnya seketika hilang saat ia selesai membuka pintu. Bukan orang yang ia nantikan yang menekan bel pintu apartemennya.
Zeline memanyunkan bibirnya kesal
"Ada apa kakak kemari"
"Apa begini caranya kau menyapa kakakmu?" tanya Alex heran
"Kakak sungguh membuatku kecewa, aku kira Jun yang datang. Dia berkata akan datang setelah pekerjaannya selesai" ucap Zeline menggandeng Alex untuk segera masuk dan duduk di sofa dengan kepalanya yan menyandar pada bahu Alex.
__ADS_1
"Benarkah? Jun bahkan pulang lebih awal hari ini, dirinya juga meminta cuti selama tiga hari pada dad, apa kau tak tau?"
Zeline mengangkat kepalanya dari bahu Alex dan duduk menghadap Alex denga tatapan bingung.
"Tak, aku tak tau apapun, dia hanya mengatakan bahwa ia akan datang lagi setelah pekerjaannya selesai. Pesanku pun bahkan tak ia balas"
"Coba kau telfon dia, aku menjadi sedikit khawatir dengannya"
Zeline mengangguk dan segera menelfon Jun, namun tak sekalipun panggilannya terangkat. Zeline menatap Alex dan menggeleng lirih. Alex pun mencoba hal yang sama, namun juga tak mendapatkan respon apapun.
Sejujurnya Alex telah menaruh curiga pada Jun sejak di kantin kantor, namun Alex lebih memilih tak menanyakannya dan menunggu Jun dengan terbuka bercerita padanya. Namun lagi-lagi begini, Jun terlalu sering menutupi masalahnya dan tak mau berbagi keluh kesah padanya.
"Sebaiknya kau tidur Ze, kau harus banyak istirahat, Dad memintaku melihat kondisimu"
Zeline mengangguk
"Sebenarnya aku bahkan telah sembuh total, kalian terlalu berlebihan, aku hanya demam"
gerutu Zeline memanyunkan bibirnya
Alex terkekeh dan mengusap gemas puncak kepalanya.
***
Jun mengerang saat merasakan matanya tersorot cahaya terang yang masuk melewati ventilasi udara. Matanya mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang menyapa netra hitam miliknya.
Jun berusaha menggerakkan tubuhnya yang terasa remuk, matanya menatap sekeliling dan kesadarannya seketika terkumpul sempurna. Jun dengan spontan bangkit dari tidurnya dan kembali menatap pada seluruh penjuru ruangan. Ia menatap ke arah selimut yang menutupi pinggang hingga kakinya, lalu menyibakkan nya dengan kasar.
"F*CK!" umpat Jun kesal, dengan segera ia mencari pakaiannya dan bergegas memakainya, namun baru saja ia mengenakan gesper miliknya dan berusaha menggenakan kemejanya, pintu kamar mandi terbuka dan menampakkan Lauren yang hanya mengenakan bathrobe sebatas paha dengan belahan dada yang terbuka lebar.
"Hai sayang, kau sudah bangun"
ucap Lauren mendekat ke arah Jun lalu membelai dada Jun seduktif.
Jun menatap nyalang pada Lauren saat melihat banyaknya bercak merah di tubuh wanita itu, belum lagi dengan kondisinya yang bangun tanpa sehelai benangpun, Jun menjadi geram dan tanpa di duga Jun merangsek maju dan mencekik leher Lauren erat hingga nampak Lauren yang mulai kehilangan nafas.
"DASAR ******! APA YANG KAU CAMPURKAN PADA MINUMANKU!"
"KAU SUNGGUH MENJIJIKKAN!!"
__ADS_1
"BERHENTI MENGGANGGUKU!"
"AMBIL SEMUA HARTA AYAHKU! AKU TAK PERDULI!"
Lauren terkekeh di tengah dirinya yang dalam keadaan terpojok.
"Harta aku bisa mendapatkannya dengan mudah sayang, namun yang ku inginkan hanya dirimu" ucap Lauren serak karena Jun yang semakin menekan jarinya mencekik. Namun tak urung membuat Lauren membelai wajah tampan Jun alih-alih untuk menyerah.
Jun melepas tangannya pada leher Lauren dan mendorongnya jatuh tersungkur. Lauren terbatuk dan berusaha menghirup udara sebanyak-banyaknya. Lalu kembali menatap Jun yang tengah diselimuti kabut amarah.
"Selama dua hari kita bercinta dengan kasar, dan kau sangat menikmatinya sayang, bahkan kau mendesah nikmat berkali-kali" Lauren tersenyum kemenangan menceritakan aktifitas ranjang mereka yang sungguh luar biasa. Sementara Jun mengepalkan tangannya hingga terlihat jari-jarinya memutih.
"Kau sungguh GILA!! Memberikan anak tirimu obat perangsang dosis tinggi, dan memperkosanya!!" desis Jun mulai merasakan kegilaan saat berada di dekat ibu tiri gilanya, yang bahkan membuatnya ikut gila!.
Lauren bangkit dari posisinya dan perlahan mendekat ke arah Jun, tak ada rasa takut di matanya bahwa mungkin saja anak tirinya itu akan membunuhnya, karena ia tau Jun tak akan pernah bisa membunuhnya, Jun terlalu pengecut untuk hal seperti itu!.
"Hahaha mana ada aku memaksamu sayang, kita sama-sama merasakan kenikmatan, kita bercinta dengan nafsu yang menggelora, bahkan aku masih ingat ekspresi wajahmu saat kau mencapai kepuasan" seringai tampak jelas terbit di wajah Lauren
'Plaakk'
Jun menampar keras pipi Lauren hingga terlihat sudut bibirnya yang mengeluarkan darah. Ia sudah mencapai batas menghadapi ibu tirinya itu. Ia bahkan sampai menggunakan kekerasan pada wanita yang sebelumnya tak pernah ia lakukan. Didikan mendiang ibunya yang pernah berpesan untuk tak pernah mengangkat tangan pada wanita. Karena pada hakekatnya wanita itu haruslah dilindungi, bukan untuk disakiti.
Lauren tertegun memegang pipinya yang berdenyut nyeri, lalu menatap Jun tak percaya.
"Jangan pernah berani mengganggu hidupku! secepatnya akan ku buat seluruh warisan ayah jatuh padaku dan menendangmu keluar dari rumah ini!" hardik Jun dengan mata nyalang, dan setelah itu berlalu meninggalkan Lauren yang masih berdiri mematung.
"Tuan muda, sara..
"Aku pergi" ucap Jun memotong ucapan Elena.
Elena memandang sedih kepergian tuan mudanya.
"Semoga, kebahagiaan sesungguhnya segera menghampiri anda tuan muda"
____________
**Haloo semua, maap ya sekarang author suka jarang update, update 2-3 hari sekali..☹️
Doakan saja semoga author bisa update teratur lagi~
__ADS_1
Makasih buat semua huhuhu**~