
Zeline terus saja diam tak mengeluarkan sepatah katapun sejak ciuman maut itu berakhir. Otaknya seketika hilang kendali dan menjadi konslet. Yang ia ingat, wanita yang menyebut dirinya ibu dari lelaki di sampingnya kini itu pergi meninggalkan mereka dengan wajah kesal setelah ciuman mereka berhenti, lalu Jun menariknya menuju parkiran dan duduk di dalam mobil. Masih belum ada pergerakan lain, mereka masih berada di tempat parkir. Saling diam, merasa canggung.
Jun berdeham berusaha menetralkan suasana, lalu memulai percakapan dengan ungkapan maaf.
"Maaf, jika aku bertindak kurang ajar padamu tadi" sesalnya. Namun Zeline masih betah berdiam diri tak menanggapi ucapan Jun. Pikirannya masih berkelana pada adegan ciuman itu, ciuman keduanya namun kali ini lebih panas dan menggelora dari sebelumnya. Jantungnya bahkan berdetak lebih kencang dari sebelumnya.
"Bisakah kita pulang sekarang?"
Jun hanya mengangguk dan segera melajukan mobil menuju kantor. Hanya sunyi yang membentang dari kedua manusia yang duduk tenang berdampingan dalam satu atap mobil. Suara klakson, mesin mobil, juga ramainya pusat kota menjadi penghilang kesunyian yang ada.
Setibanya mereka di basement perusahaan, Jun tak langsung turun dari mobil Zeline. Ia mematikan mesin mobil dan diam duduk bersandar sebelum ia mengusik kesunyian dengan ucapannya.
"Terimakasih dan maaf untuk hari ini...
Aku akan membawa ini untuk mengirimkannya ke kediaman Mr.Robert" ujarnya datar keluar dari mobil dengan menenteng dua paper bag berisikan kue.
Saat Jun hendak melangkah mendekati mobil sport miliknya, Jun mendengar suara pintu mobil terbuka dan tertutup kembali. Dirinya menoleh dan mendapati Zeline yang turun dari mobil dan mendekat ke arahnya. Jun menghentikan langkahnya dan menatap lurus pada Zeline yang mendekat.
Bukan ucapan terimakasih telah menemani atau apapun, justru yang pertama ia terima adalah tendangan bebas yang mengenai tulang keringnya lagi! yang kesekian kali hari ini! juga, makian. "Dasar pria mesum!" yang ia dapatkan.
Zeline berlari memasuki mobilnya dan melaju pergi meninggalkan Jun yang masih berlutut mengusap-usap tulang keringnya yang terasa nyeri setelah 3x dalam sehari ini mendapat serangan. Jun mencebikkan bibirnya dan mendengus 'Gadis bar-bar'
Zeline dengan segera melajukan mobilnya menuju apartemen, pikirannya saat ini tengah kacau dan dirinya butuh relaksasi, ya. Mungkin ia akan berendam dengan ditemani aromaterapi. Sedangkan Jun sesegera mungkin melaju menuju kediaman Robert untuk menyerahkan kue dan juga mengembalikan blackcard milik Mrs.Clare.
***
"Ayolah tidurrr..... kenapa aku tak dapat tertidur! dan kenapa kejadian bodoh itu terus berputar di kepalaku!" kesal Zeline pada dirinya sendiri. Semenjak dua jam yang lalu ia terus saja hanya berguling di atas ranjang dan sesekali menjerit kesal atau wajahnya memerah padam, juga tiba-tiba membodoh-bodohkan diri sendiri.
"Kenapa aku hanya diam saja dan, dan. Akkhhhh... sungguh memalukan! bagaimana jika esok aku bertemu dengannya lagi.. mau ku taruh mana wajahku" rengek Zeline bermonolog.
07.30 AM
Calling
"*Bisakah kau memberikan tumpangan Love, aku sungguh tak ada tenaga untuk menyetir"
"Kau sakit? apa perlu ku panggilkan dokter untukmu?"
"Tak perlu"
"......
"Oke, ku tunggu*"
Zeline melangkah menuju basement gedung apartemennya setelah menerima pesan singkat dari Velove yang menyatakan bahwa dirinya telah berada di basement. Zeline melangkah memasuki mobil milik Velove dan bersandar memasang sabuk pengamannya.
Velove mengernyitkan dahinya heran saat melihat wujud Zeline yang sungguh mengerikan bagi perempuan. Wajahnya pucat dengan kantung mata yang menebal, sungguh itu mengerikan namun entah kenapa Zeline tetap terlihat cantik seperti biasanya.
__ADS_1
"Ada apa dengan wajahmu? kau tak tidur semalaman? kenapa kantung mata mu begitu mengerikan?" heran Velove
"Lebih tepatnya aku tak dapat tertidur, jadi biarkan aku tertidur sejenak selama perjalanan Love" pinta Zeline
"Oke, baiklah"
***
Brraaaakkkk
Suara gebrakan meja membuat Zeline yang baru saja terlelap di balik kubikel mejanya berjengit terperanjat 'Sial' batinnya.
Zeline pergi melewati lorong menuju kamar mandi, sepertinya dirinya butuh air segar untuk membasuh wajahnya. Zeline menatap pantulan dirinya di cermin 'Mengerikan' Zeline terkekeh dan menatap benda mungil yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Sebentar lagi waktu jam makan siang tiba, ia akan sedikit mencuri jam kerjanya untuk bersantai. Ah, sebaiknya dirinya membeli secangkir kopi dan makan siang sekarang lalu memakannya di rooftop.
'Nikmat' itu yang tengah Zeline rasakan. Ia duduk bersandar pada dinding yang terhalang sinar matahari, menikmati makan siangnya dengan tenang, tanpa ada keramaian. Belum lama ia menghabiskan makan siangnya, dan kini menikmati secangkir kopi miliknya. Namun suara terlontar begitu saja dari seorang pria yang sungguh tak ingin ia temui untuk beberapa saat kedepan atau lebih tepatnya ia belum sanggup untuk berhadapan langsung dengannya.
"Kau disini?"
Zeline berjengit terkejut lalu dengan perlahan menoleh pada asal suara tersebut, berharap semoga bukan lelaki yang mengisi pikirannya semalaman suntuk. Namun naas, keinginannya harus pupus, karena memang Jun lah yang ada di sini, di rooftop, berdua dengannya.
"Ka-kau sendiri sedang apa disini" gugup Zeline mengalihkan pandangannya.
"Aku sering kemari jika sedang merasa butuh waktu sendiri" jujurnya
"Ku lihat kau telah menghabiskan makan siangmu padahal jam makan siang baru saja berjalan, kau membolos kerja?"
"A-aku, ya, aku sedikit mencuri jam kerja dan pergi kemari, aku lelah. Mereka memperlakukanku dan memberi pekerjaan yang tak seharusnya dilimpahkan padaku, aku yang mengerjakannya, mereka yang mendapat pujian dan bonus" dengus Zeline
"Kau saja yang bodoh karena mau diperintah oleh mereka"
Zeline mencebikkan bibirnya kesal
"Kau ini sungguh menyebalkan"
Sunyi, lagi-lagi mereka merasa canggung ketika bersama.
"Kalau begitu aku pergi dulu" pamit Zeline berlari kecil meninggalkan Jun yang berdiri mematung memandang jalanan dari atas sini.
07.45 PM
"Awas kau..
"Heii, sial! jangan menembaki pasukanku!
"Kau juga!
"Minggir!
__ADS_1
"Ku bunuh kau
"Ccckkk
"Kauuuu..
Zeline diam mendengar dan menatap kedua kakaknya yang tengah ribut di depannya karena bermain game online, Sedangkan dirinya memilih duduk di belakang, lebih tepatnya di atas sofa dengan setoples camilan kesukaannya.
Mereka hanya bertiga di rumah karena Robert dan Clare yang tak dapat pulang lebih awal karena sedang berada di luar kota.
Setelah makan malam mereka memutuskan untuk bermain game online di ruang tengah. Hanya Alex dan Jared lebih tepatnya, Zeline lebih memilih menjadi penonton.
Tiba-tiba terlintas di benaknya sebuah pertanyaan. Dengan ragu Zeline bertanya pada kedua kakaknya.
"Kak..
"Kakak"
"Apa" jawab mereka kompak
"Apakah lelaki dan wanita berciuman itu hal wajar walaupun mereka bukan pasangan kekasih?" tanyanya
"Kenapa kau bertanya seperti itu?" tanya Alex
"Tak apa, lalu bagaimana? apakah wajar?"
"Mungkin bagi beberapa orang mereka menganggapnya hal wajar , atau mungkin hanya sebagai sapaan atau main-main? entahlah" jawab Jared
"Ta-tapi bu-bukan ciuman singkat, tapi ci-ciuman yang seperti itu" cicit Zeline
"Seperti itu bagaimana?" tanya Alex
"Ya seperti itu"
"Kenapa kau bertanya seperti itu? katakan pada kakak, apa maksud dari pertanyaanmu!" tanya Alex yang masih fokus dengan game online-nya.
Zeline pun akhirnya bercerita secara detail saat tiba-tiba saja dirinya dicium oleh sekretaris daddy-nya dengan wajah yang memerah namun ia tutup menggunakan bantal sofa.
Alex dan Jared seketika menghentikan permainan game mereka.
"B*jingan kau Jun! berani-beraninya dia menyentuh princess ku! akan ku habisi dia!" geram Alex yang tiba-tiba bangkit dengan wajah penuh amarah.
__________
Terimakasih sudah membaca ❤️
Jangan lupa Like, komen , vote ya ciwi-ciwikuu 🥰🙈🙈
__ADS_1
like dan komen kalian sungguh bikin aku terharu dan bikin aku semangat nulis.. 🥰
tengkyuuu bye bye....