
Zeline menjatuhkan dirinya ke atas ranjang miliknya. Kelopak matanya mengerjap beberapa kali menatap langit-langit kamarnya yang gelap.
'Huufftt...'
"Bodoh kau Ze, bisa-bisanya kau diam saja menerima pelecehan dari pria menyebalkan itu! Aakkhhhh.. dia membohongiku! kenapa aku bisa sebodoh itu! kenapa, kenapa aku membiarkannya begitu saja.. kenapa juga aku menuruti semua perkataannya! Akkhhh ini membuatku gila!" monolog Zeline memaki dirinya sendiri.Membenamkan wajahnya pada bantal dan memukul dan menendang ke segala arah. Meluapkan segala emosi yang menderanya.
"Aku butuh mandi dan tidur! ya! benar"
Dengan segera, Zeline meraih handuknya dan bergegas menuju kamar mandi.
Apartemen Jun
"Jangan Jun, jika kau hanya mempermainkannya jangan mendekatinya! atau akan ku pastikan kau menyesal" ambigu Alex menoleh menatap Jun yang juga menatapnya.
Jun mengalihkan pandangannya pada Alex dan memejamkan matanya sejenak.
"Aku hanya sedang tak mengerti diriku sendiri Zack, gadis bar-bar itu seakan memikatku terlalu dalam, padahal kami jarang sekali bertemu, sekali bertemu kami pasti akan ribut" kekeh Jun mengangkat sebelah sudut bibirnya ke samping.
"Aku hanya ingin mengingatkanmu karena kau adalah temanku, jika kau serius ingin menjalin hubungan dengannya, aku akan mendukungmu. Namun jika kau hanya ingin main-main saja, lebih baik segera menyingkir!" peringat Alex serius pada Jun
Jun menatap Alex dengan raut wajah tak senang. Jun mendengus dan berdecih tanpa mau menjawab atau membalas peringatan yang Alex layangkan padanya.
Alex mendengus, memilih bangkit dan menepuk pundak Jun
"Pikirkan lagi bagaimana keinginanmu tentangnya, aku pulang dulu"
Alex berlalu meninggalkan Jun yang masih setia bersandar pada sofa.
Message
"Tak usah menjemputku, aku pergi sekarang, kau tetap di apartemen Ze"
"Aku sudah di jalan, dan sebentar lagi sampai. Tunggulah sebentar"
"Baiklah, cepat"
Tak lama kemudian, terlihat Rover Range putih yang melaju mendekat dan berhenti tepat di samping Alex. Dengan segera Alex memasuki mobil itu dan melesat pergi bersama Jared.
.....
Alex mendorong pintu apartemen Zeline dan melangkah memasuki ruang tengah, 'Sepi' Alex berkeliling dan tak menemukan Zeline.
"Kau benar mengantarnya hingga apartemen kan?" tanya Alex pada Jared
"Tentu saja, mungkin saja ia ada di kamar" ucap Jared.
Alex dan Jared pun bergegas menuju kamar Zeline, dan seketika mereka bernafas lega. Zeline terlihat tengah tertidur pulas dengan memeluk sebuah bantal. Jared terlihat santai, bersandar pada sisi pintu dengan kedua tangannya yang bersedekap.
__ADS_1
Alex berjalan mendekat, meraih selimut yang berada di ujung ranjang, lalu menyelimuti seluruh tubuh Zeline hingga tersisa kepalanya. Alex memandang wajah adik kesayangannya itu sebelum mengecup kening Zeline dan berlalu meninggalkannya.
.......
Jun memijit pelipisnya yang terasa berdenyut.
Jun melangkah menuju balkon, dan milih tidur terlentang menatap langit malam beralaskan lantai dengan berbantalkan sebelah lengannya.
"Ibu, bantu aku menyelesaikan semua masalahku Bu, aku merindukanmu"
07.30 AM
Jun masih terus terduduk di kursi yang tersedia di lobi perusahaan sembari meneguk kopi yang sempat ia beli. Menanti seseorang yang memang ia tunggu sedari tadi. Ia harus segera meluruskan permasalahan yang menjerat mereka.
Jun terus mengabaikan sapaan para karyawan dan memilih fokus pada pintu masuk perusahaan, menunggu seseorang yang ia tunggu kehadirannya. Penantian membuahkan hasil, itulah yang Jun rasakan saat ini.
Zeline, seorang yang ia tunggu sedari tadi akhirnya menampakkan diri. Dengan tenang, Jun menghampiri Zeline yang terus berjalan dengan sesekali menyapa para karyawan lain. Namun saat tatapan mereka bertemu, terlihat tubuh Zeline yang seketika menegang. Belum sampai Jun melangkah mendekat, Zeline terlebih dahulu melangkah pergi menghindar.
Dan itulah yang terjadi beberapa hari ini, Zeline terus saja menghindar saat melihat Jun, walaupun posisi mereka sangat jauh.
Beberapa hari berlalu, Jun yang mulai geram akhirnya memutuskan akan mengejar Zeline walaupun gadis itu terus menghindar, bersembunyi.
Dan tibalah jam istirahat, Jun berjalan menuju kantin kantor seorang diri karena Alex dan Jared yang sedang berada di luar kota. Sedangkan dirinya juga tak perlu menemani Mr.Robert makan siang bersama Client.
Jun mengedarkan pandangannya ke penjuru kantin, dan apa yang ia cari keberadaannya tertangkap oleh netra matanya. Dengan segera, Jun mengambil makan siangnya dan melangkah mendekat menuju salah satu meja.
Dengan perlahan Zeline menolehkan kepalanya untuk melihat siapa yang berbicara. Zeline hanya mampu menelan salivanya dan terdiam. Sementara Velove berkata dengan canggung.
"Te-tentu saja Mr.Jun, silahkan duduk" perkataan yang terlontar begitu saja, namun dengan nada canggung yang bingung.
"Si-silahkan duduk di, emmm..
"Aku akan duduk di sini" potong Jun yang langsung duduk di samping Velove tepat di hadapan Zeline.
Zeline bergerak gelisah dengan menatap ke sembarang arah tanpa mau menatap atau sekedar melirik dari sudut matanya.
"A-aku sudah selesai, aku akan pergi terlebih dahulu" ucap Zeline seraya bangkit dari duduknya.
"Tetaplah disini, ada yang ingin ku bicarakan denganmu" tahan Jun yang menggenggam erat pergelangan tangan Zeline.
"Bisakah anda tinggalkan kami" pinta Jun pada Velove.
Zeline menatap tajam pada Velove agar tak meninggalkannya, namun Velove seakan tak mengindahkan larangannya dan bergegas membereskan alat makannya dan pergi menjauh.
"Apa yang ingin anda bicarakan Mr.Jun" ketus Zeline menatap malas pada Jun.
"Duduklah" katanya selembut mungkin
__ADS_1
"Tak perlu berbasa-basi!"
"Aku bilang duduk, atau kau ingin ku cium saat ini juga?" tantang Jun.
Dengan kesal Zeline kembali duduk tanpa mau menatap Jun. Seakan pemandangan di sekitarnya lebih indah dari pada di hadapannya.
"Kenapa kau terus menghindari ku".
"Saya tak merasa menghindari anda"
Jun memejamkan mata sejenak mendengar perkataan Zeline.
"Baiklah, sekarang ada yang ingin ku katakan padamu, tolong dengarkan aku. Dan berhentilah bersikap formal saat bersamaku seperti ini"
"Maaf atas kelakuan ku saat itu...
"Aku tak bermaksud, ahh entah kenapa aku menjadi seperti itu saat bersamamu, genggaman tanganmu mengingatkanku akan genggaman hangat ibuku" senyum miris terlihat jelas di wajah Jun
Zeline mengerjapkan matanya beberapa kali saat mendengar penuturan Jun. 'Apakah dirinya salah dengar?'
Tangan Jun yang semula menggenggam bagian pergelangan, kini turun dan menggenggam jemari tangan Zeline dan menatapnya.
"13 tahun lalu, ibuku meninggal. Dia meninggalkanku untuk selama lamanya" Jun menatap Zeline tanpa senyum, hanya wajah datar tak terbaca.
"Aku turut berduka cita, la-lalu siapa wanita cantik yang berkata bahwa dia ibumu?"
"Ibu tiri ku"
"Oh, oke. Jadi.. bisakah kau melepas tanganmu? banyak orang yang sedari tadi menatap kita" lirih Zeline dengan gurat tak nyaman.
__________
**Halo gaes, hehe maapin ya baru update sekarang 🙈 author bener-bener sibuk.
baru bisa up.. mana sedikit lagi 😤
Jadi, taqoballahu minna wa minkum taqobal ya kariim.. Shiyamana wa Shiyamakum..
Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1441 H..🙏🏻🙏🏻🙏🏻
Mon maap lahir batin..
Maapin Author yang suka tebar janji tapi ga di penuhin 😭😭🙏**
Jangan lupa like ya gaes , vote ❤️
Makasih Ya semuanya yang udah kasih suport dengan bentuk apapun... aku padamu
__ADS_1