Barcelona I Love You

Barcelona I Love You
Chapter 16


__ADS_3

09.20 AM


"Dad, dimana Jun? tidak biasanya dia tak ada di mejanya" tanya Alex sesaat setelah memasuki ruangan Robert


"Dia meminta cuti untuk 2 hari kedepan"


....Alex mulai berfikir


"Pasti alasannya karena wanita itu" gumam Alex


"Apa yang kau katakan?" tanya Robert


"Tidak ada Dad. Ada apa Dad memanggilku kemari"


"Tolong wakilkan Dad untuk bertemu investor asing, lusa. Dad tidak bisa datang karena rapat koordinasi perusahaan cabang yang dipercepat"


"Baiklah Dad, aku dan Jared akan mengurus masalah investor asing"


"Oke, Dad percayakan pada kalian Son"


....


"Bagaimana kabar adik bungsumu? anak itu sungguh tak pernah mau sekedar memberikan kabar pada Dad atau Mom jika tidak di telfon lebih dulu"


"Dad kan tau bagaimana sifat Zeze" ujar Alex terkekeh


"Anak itu benar-benar mengkhawatirkan, benar tak terjadi sesuatu yang buruk padanya bukan?" selidik Robert


Alex menghela nafas berat dan menyandarkan tubuhnya pada sofa di ruangan Robert.


"Entahlah Dad, aku juga tak tau ini baik atau buruk"


Robert melangkah mendekati sofa dan duduk berhadapan dengan putra sulungnya itu.


"Apa maksudmu? apakah keputusan yang dad ambil untuk adik kecilmu itu salah?" tanya Robert yang mulai gelisah


"Sebenarnya tak salah jika Dad meminta Ze untuk sedikit merasakan jerih payah, menurutku itu bagus, namun masalahnya.." jeda Alex


"Dad tahu bukan bagaimana cantik dan menggemaskannya princess kita itu?" tanya Alex yang di jawapi anggukan oleh Robert


"Disitulah permasalahannya Dad"


Robert mengernyitkan dahi tak paham


"Maksudmu?"


"Princess kita itu membuat banyak pegawai di perusahaan kita tertarik, dan membuat banyak para karyawan wanita menjadi iri"


Robert tertawa mendengar ucapan putra sulungnya itu, memang benar putri bungsunya itu memang cantik, jadi hal wajar jika banyak wanita yang iri padanya.

__ADS_1


"Lalu masalahnya?"


"Dad juga tahu bukan bahwa aku ini tampan?" ujar Alex percaya diri.


Robert menatap datar wajah putra sulungnya


"Langsung saja intinya"


Alex mencebikkan bibirnya


"Pernah tanpa sengaja saat aku dan Zeze sedang bersama di basement ada yang memotret kami sedang berpelukan, lalu menyebarkan gosip bahwa Ze berusaha menggodaku, saat itu basement sudah sepi, karena waktu pulang kerja telah berlalu lama. tapi entah siapa yang memergoki kami"


....


"Ze juga mengatakan, bahwa pernah ada yang mengancamnya, namun tak pernah mau mengatakan siapa orangnya"


Robert memijit pelipisnya


"Apakah sebaiknya Dad hentikan ini semua dan mengumumkan bahwa Zeline putri Dad sekarang?"


"Mungkin itu pilihan tepat Dad, tetapi jika melihat Zeze yang gigih, ingin menyelesaikan tugas yang Dad berikan, sepertinya kita harus menundanya"


"Baiklah, tapi tetap pantau adikmu itu, Dad tak ingin putri kecil Dad kenapa-napa"


"Baiklah Dad"


Beberapa hari berubah menjadi Minggu yang sungguh berat bagi Zeline, ada saja hal yang membuatnya menjadi lelah, sangat-sangat lelah. Mulai dari Misya yang memperlakukannya bak seorang pesuruh, membuatnya mengerjakan tugas yang bukan bagiannya, menyebarkan gosip tak benar tentang dirinya, atau bahkan memarahinya di depan umum karena kesalah kecil yang sebenarnya tak perlu di besar-besarkan.


Disaat gosip mulai mereda, secara tiba-tiba saja ada hal lain atau gosip lama yang muncul kembali, membuat Zeline semakin banyak mendapatkan cibiran dari para pegawai terutama kaum hawa.


Tak sedikit memang yang lebih mempercayai Zeline dan membelanya, namun seakan mereka para penyebar gosip tak benar menyudahi penyebaran gosip tak benar, mereka terkadang memilih lanjut mengolok dan memfitnah Zeline.


Terkadang Velove sampai datang ke divisi Zeline hanya untuk sekedar menceramahi para karyawan yang menghina sahabatnya. Namun Zeline seringkali menarik Velove menjauh agar tak berbicara yang macam-macam.


Zeline sudah mulai terbiasa mendengar cibiran para pegawai, namun beda halnya dengan Velove. Ia mulai berang jika mendengar seorang pegawai yang membicarakan Zeline secara terang-terangan ataupun berbisik. Menurutnya sama saja! sama-sama membuat telinganya sakit.


"Ingin sekali rasanya ku buat mereka semua tak bisa berbicara" geram Velove


"Hey, sudahlah.. lebih baik bantu aku untuk mengerjakan laporanku, kau tau aku bahkan sampai kena tegur Mr.Matteo 3×"


...


"Sepertinya dia juga termakan oleh gosip tentangku, bahkan dia juga sempat memandang remeh padaku" ujarnya lesu


"Kenapa? kau menyukainya?"


"Iya, sebenarnya hanya terkesan, dengan sikap manisnya. Tapi itu dulu"


"Pria sepertinya tak pantas mendapatkan bidadari sepertimu" kekeh Velove lalu mulai menyuap makanannya.

__ADS_1


"Kau ini sung..."


"Bisa kami bergabung?" sela Alex yang nampak menjulang tinggi berdiri di samping kursi Velove yang tampak kosong.


"Kantin sedang penuh, tak ada lagi kursi kosong" jelasnya


Velove dan Zeline mengedarkan pandangannya ke penjuru kantin. Hanya ada 1 kata mendeskripsikannya 'Ramai'


Velove menatap ragu wajah Alex juga Jared dan Jun yang tampak memasang wajah datar, lalu melirik Zeline yang seakan memilih diam tak terlihat.


"Te-tentu saja Mr.Zack" jawab Velove terbata


Alex duduk tepat di samping Velove dan di susul Jared, Jun berdecih dan menghela nafas. Tak mungkin jika ia ikut bergabung duduk di samping Jared, karena bangku telah penuh, terpaksa ia harus duduk di samping Zeline.


Zeline mendengus kesal dan menatap Velove untuk pindah dan duduk di sebelahnya, namun saat hendak berdiri, tangannya dicekal oleh Alex yang melarangnya untuk berpindah tempat.


Ini memang rencana Alex untuk membuat Jun meminta maaf pada Zeline karena pernah membentaknya dan mengatai Zeline seorang penggoda waktu itu. Lebih tepatnya waktu lalu yang sudah sangat lama.


Setelah Jun selesai dari izin cutinya, Alex secara tiba-tiba mendatangi meja kerjanya dan mengomelinya habis-habisan karena masalah di lobi itu.


Awalnya Jun mencoba berdalih dan acuh, namun setelah Alex semakin menekannya dan menceritakan akan gosip yang merugikan bagi Zeline karena masalah itu, Jun pun memilih mengikuti kemauan Alex. Karena jika dipikir-pikir ia memanglah salah telah meluapkan emosi pada orang yang salah waktu itu.


Namun 1 hal yang tidak Jun pahami, kenapa Alex seperti bersikeras memintanya meminta maaf pada Zeline yang notabenenya hanya seorang pegawai biasa, tak seperti biasanya. Aneh.


Hening berlangsung di meja makan kantin itu, namun berbeda dengan meja-meja yang lainnya, terdengar mereka mulai berbisik-bisik riuh.


Zeline terus saja mendengus kesal tanpa mau melanjutkan makan siangnya, Ia hanya mengaduk-aduk jusnya tanpa mau meminumnya. Moodnya sungguh hilang tak bersisa.


"Kenapa kau tak memakan makananmu?" tanya Alex spontan


Zeline mengangkat kepalanya dan menatap lekat pada Alex dan menaikkan sebelah alisnya.


"Ahh, tiba-tiba saja nafsu makan saya hilang Mr.Zack" ujarnya tersenyum terpaksa


Zack diam tak melanjutkan percakapannya. Velove terus sibuk dengan ponselnya, sama halnya dengan Jared. Zack menatap Jun yang masih saja diam tak perduli, memilih menghabiskan makan siangnya.


Dengan gemas, Alex menendang tulang kering Jun, Jun memekik tertahan dan dengan refleks tangannya bergerak untuk menyentuh kakinya yang diterjang Alex.


Belum sampai tangannya hingga bawah meja, tanpa sengaja Jun menyenggol gelas air minumnya.


__________


Terimakasih sudah membaca ❤️


Jangan lupa Like, komen , vote ya ciwi-ciwikuu 🥰🙈🙈


like dan komen kalian sungguh bikin aku terharu dan bikin aku semangat nulis.. 🥰


tengkyuuu bye bye....

__ADS_1


__ADS_2