
Jun mengusap bibir Zeline yang basah dengan ibu jarinya.
Jun kembali terkekeh lalu memeluk Zeline dan membenamkan wajahnya pada ceruk leher Zeline. Masih sama dengan posisinya yang berdiri tepat di sebelah cap mobil dimana Zeline duduk.
"Ka-kau tak apa" tanyanya lirih, masih dengan wajah yang memerah setelah ciuman tadi.
"Tak apa, aku hanya ingin memelukmu" ucapnya lirih.
Zeline yang awalnya hanya diam, mulai mengulurkan tangannya untuk balik memeluk tubuh yang kini tengah memeluknya.
'Hangat dan nyaman' itu yang Zeline rasakan.
Senyumnya muncul, entah kenapa moodnya sungguh bagus malam ini. Jun yang merasakan pelukan balasan dari Zeline ikut tersenyum di balik ceruk leher Zeline. Jun pun mengeratkan pelukannya dengan sesekali mengelus punggung Zeline teratur.
"Jadi sekarang kita berpacaran?" tanya Jun tanpa mau mengubah posisinya.
"A-apa katamu"
"Apa...'Cup' sekarang kita berpacaran" kecup Jun ringan di ceruk leher Zeline di sela perkataannya.
Zeline mengeratkan genggaman tangannya pada kaos Jun, lalu berpindah pada dada bidang Jun mendorongnya pelan. Jun menatap Zeline dengan raut wajah tak terbaca.
"Kenapa?" tanya Jun namun hanya di jawab oleh gelengan kepala.
"Kau tak mau menjadi kekasihku?"
"Apa kau mencintaiku? hingga mengajakku untuk menjalin sebuah hubungan"
Jun diam terpaku mencerna ucapan Zeline, benar apa katanya. Apakah dirinya mencintai gadis di hadapannya? tidak, dirinya hanya merasa nyaman dan ingin sesuatu tentang gadis di hadapannya. Tapi untuk cinta? apakah bisa dirinya memberikannya. Hatinya bahkan telah mati untuk sekedar memberikan rasa sayang pada wanita. Hanya tubuhnya yang berkamuflase menunjukkan sedikit perasaan simpatik, bukan berarti hatinya juga.
Jun memalingkan wajahnya dengan beranjak menjauh tanpa mau menjawab pertanyaan Zeline.
Zeline yang melihat perubahan Jun mengulurkan tangannya meraih samping wajah Jun dan membawanya untuk bertatapan langsung dengannya.
"Tatap mataku dan katakan bahwa kau mencintaiku"
Jun meraih tangan Zeline yang berada di wajahnya, lalu menariknya untuk ia genggam.
Jun memandang lekat pada Zeline.
"Ajari aku untuk kembali merasakan jatuh cinta yang sesungguhnya" ucap Jun dengan nada memohon, seakan dirinya sudah berada pada jalan buntu yang tak mampu membuatnya keluar dari kubangan masa lalu.
"Maka, ajari pula aku untuk jatuh cinta padamu" balas Zeline dengan tatapan sendu. Dengan berani, Zeline meraih tengkuk Jun dan mulai mencium dan melum*t bibir Jun terlebih dahulu. Kali ini, ia yang akan memimpin.
11.35 PM
"Masuklah, jangan lupa membersihkan diri sebelum tidur" ucap Jun sembari merapikan anak rambut pada pelipis Zeline.
"Kau yakin tak ingin mampir terlebih dulu?"
"Tidak, masuklah"
__ADS_1
"Oke, Night Jun"
"Night too Ze, terimakasih untuk hari ini" ucapnya sembari merapikan anak rambut pada pelipis Zeline, lalu mengecup singkat keningnya.
"Masuklah, udara semakin dingin"
Zeline menganggukan kepalanya dan melangkah memasuki apartemennya.
"Bye Jun" ucapnya lagi sembari melambaikan tangan sesaat sebelum pintu apartemen miliknya yang benar-benar tertutup.
Zeline menghembuskan nafasnya berat, ia cukup merasa lelah, bukan karena acara kencan tadi, namun dengan pekerjaan kantornya yang menumpuk.
Saat hendak meletakkan tas miliknya, Zeline teringat akan jaket baseball yang Jun pinjamkan padanya, dan sekarang jaket itu terbawa bersamanya.
"Mungkin akan ku cuci terlebih dulu sebelum ku kembalikan padanya" monolog Zeline.
07.45 AM
"Bagaimana kencan semalam?" goda Velove dengan tiba-tiba saat berada di samping Zeline yang sedang menyeduh kopi di pantry kantor.
"Kencan yang mana" ucap Zeline pura-pura tak tau.
Velove berdecih dan mencubit gemas lengan Zeline. Zeline hanya terkekeh dengan tingkah sahabatnya itu.
"Jadi bagaimana?"
"Ya, seperti itu"
"Seperti itu bagaimana?"
Velove membulatkan matanya tak percaya.
"Ka-kau serius?"
"Apa aku pernah berbohong padamu?" kesal Zeline saat melihat ekspresi tak percaya sahabatnya itu.
"Lalu kau menerimanya?"
"Entahlah, aku tak tau apakan perkataannya dan perkataanku semalam itu membuat kami resmi berpacaran" pikir Zeline
"Jadi?"
"Ya.. aku tak tau" ucap Zeline melangkah pergi meninggalkan pantry
"Oke baiklah, intinya kalian kini menjalin hubungan tanpa status?" ucap Velove kembali bertanya.
"Kau ini, berhentilah mengintrogasi ku! bagaimana jika ada yang dengar" ucap Zeline kesal dengan memanyunkan bibirnya.
'haha'
"Oke, maaf, maaf... Oh, apakah kau tau bahwa Lucy akan menjadi model iklan dari salah satu produk perusahaan?"
__ADS_1
Zeline mengernyitkan dahinya
"Kau bercanda?"
"Tentu saja tidak!"
"Oh, Astaga! Lucy akan menjadi model kontrak dari produk yang akan kita rilis? Astaga.. aku sungguh tak sabar menantikannya!" pekik Zeline kegirangan.
"Tapi.. kenapa Lucy tak memberitahukannya padaku? dasar orang itu! pasti dia lupa memberi tau sahabatnya yang cantik ini" gerutu Zeline yang disambut tawa oleh Velove.
Kantin Kantor ..
"Duduklah di sini" ucap Jun sesaat setelah dirinya menahan pergelangan tangan Zeline yang akan melewatinya.
Velove yang berada tepat di samping Zeline pun dengan senang hati duduk bersama dengan ketiga lelaki tampan yang sebenarnya sedikit aneh dan konyol. Pikir Velove.
Zeline pun mau tak mau duduk berhadapan dengan Jun. Walaupun hubungan mereka yang sebenarnya belumlah pasti, tapi tetap saja membuatnya gugup.
"Kenapa suasana menjadi canggung begini?" celetuk Jared memecahkan suasana hening pada meja mereka. berbeda lagi dengan meja-meja yang lain, tampak mereka mulai bergosip saat tiba-tiba saja seorang Jun menahan lengan Zeline dan memintanya langsung untuk duduk bersamanya.
"Kudengar semalam kau pergi berkencan Ze?" ucap Velove memprovokasi.
Zeline menatap tajam Kearah Velove dengan sudut matanya. Sungguh! kedua kakaknya tak ada yang tau tentang kencan itu! bagaimana jika kedua kakaknya akan menjadi bringas dan melukai Jun? sama halnya dengan para lelaki yang pernah memintanya untuk sekedar pergi berkencan atau menonton bioskop.
Jared dan Alex yang mendengar pun lantas menatap tajam ke arah Zeline. Sedangkan Jun masih memasang wajah datarnya.
"Wah nona Zeline, siapa pria beruntung yang dapat berkencan dengan anda!" ucap Alex penuh penekanan
Zeline menelan ludahnya susah payah saat melihat tatapan membunuh kakak sulungnya itu.
"Apa yang kau bicarakan love, haha .. siapa yang berkencan" elak Zeline tanpa mau memandang salah satu dari mereka.
"Oh, benarkah?" goda Velove
"Hey love, siapa juga yang berkencan denganku? kau ini ada ada saja" bohong Zeline.
Namun gelagat tak jujur yang Zeline biasa perlihatkan tentu saja dapat terbaca oleh ketiga manusia itu.
Namun tidak dengan manusia satu ini.
Jun yang mendengar sempat terkejut dan berfikir, kenapa Zeline tak mau mengakuinya? apa memang seburuk itu dirinya hingga Zeline tak mau mengakuinya?. Sungguh di sudut hati Jun merasakan perasaan aneh saat Zeline tak mengakui bahwa ia memang berkencan, dan itu bersama dirinya.
Jun mendengus dingin dan memilih kembali menyantap makanannya tanpa mau menyauti obrolan atau apapun.
__________
**Jangan lupa like ya gaes , vote ❤️
Makasih Ya semuanya yang udah kasih suport dengan bentuk apapun... aku padamu
Makasih juga sama yang suka komen..
__ADS_1
Aku seneng loh 🤭
lop lop lop ❤️❤️❤️**