
Zeline meraih sebuah buku pada rak buku bertingkat di ujung sebelah televisi apartemennya. Setelah ia makan, mandi dan kemudian kembali berbaring dan berguling tanpa tau apa yang akan ia kerjakan lagi, akhirnya pilihannya jatuh untuk membaca sebuah buku, yang mungkin telah ia baca belulang kali. Kisah seorang lelaki tampan yang jatuh cinta pada Gadis bisu.
Zeline menghela nafas panjang pada pertigaan jalan membaca bukunya saat mendengar suara bel apartemennya berbunyi. Sejenak ia berhenti dari langkahnya dan berbalik menatap jam dinding. Pukul dua belas siang! apakah itu Jun? ini waktu jam makan siang? mungkin saja!
Zeline bergegas menuju pintu apartemennya, segera ia merapikan tampilannya sebelum membuka pintu apartemennya. Namun saat membuka pintu, Zeline sama sekali tak menemukan siapapun. Zeline melangkah keluar dan menengok ke kanan dan ke kiri untuk memastikan siapa yang menekan bel apartemennya, namun tak ada siapapun di sepanjang lorong.
Dahinya mengernyit heran saat mendapati sebuket bunga mawar hitam yang tergeletak tepat di depan pintu apartemennya, yang hampir saja terinjak olehnya. Zeline meraih sebuket mawar hitam itu dan kembali menatap pada lorong apartemen, dan masih saja tak ada orang.
Zeline mengedikkan bahu acuh dan memilih kembali masuk dan menutup pintu.
Ia mendudukkan dirinya pada sofa dan menatap pada buket bunga ditangannya. Saat matanya menangkap secarik kertas, Zeline meraihnya dan membacanya, mungkin ia akan tau siapakah yang mengirim buket bunga ini untuknya. Namun bukan ucapan atau nama dari sang pengirim, isi dari kartu itu adalah kata-kata ancaman lagi seperti yang selama ini ia dapat dari pesan di ponselnya.
Zeline menjatuhkan buket bunga itu sesaat setelah membacanya. Siapa sebenarnya yang melakukan hal ini hingga mengancamnya, bahkan sampai mengetahui tempat tinggalnya. Zeline cukup acuh saat menerima ancaman berbentuk pesan singkat di ponsel, namun menurutnya ini sudahlah tidak wajar.
Siapa sebenarnya yang mengancamnya untuk menjauhi kekasihnya. Apa? memang kenapa! menurutnya jika orang itu adalah Misya tak mungkin juga Misya sampai mengejarnya dan mengancamnya hingga seperti ini.
Zeline mengusap wajahnya lelah.
"Lebih baik aku istirahat saja di kamar"
gumam Zeline berlalu memasuki kamarnya.
***
"Jun, bisakah kau pulang sayang? ibu merindukanmu.."
"Apakah perlu ibu juga mengundang kekasihmu datang,sayang"
"Sebaiknya jangan tolak permintaan ibu, kau paham maksudku bukan, jadi kutunggu malam ini"
Jun meremas ponselnya hingga jari-jari tangan terlihat memutih. Ia kesal bukan main saat mendapati notifikasi pesan di ponselnya. Ia sungguh benci dengan ibu tirinya itu. Harus bagaimana lagi dirinya mengatakan dan mengancam ibu tirinya yang bahkan tak takut di penjara itu. Jun memijat pelipisnya dan mendesah lelah.
"Jun"
"Hey
"Jun!!
"Oh, sorry ada apa?"
"Ada apa denganmu!"
"Tak ada, aku hanya berencana pulang lebih awal, mungkin setelah jadwal makan siang Mr.Robert selesai"
"Kau sedang ada masalah?"
__ADS_1
"Tak ada Zack! berhentilah" ucap Jun kesal
"Oke, lalu bagaimana dengan Zeline? apakah dia sudah lebih baik?"
"Ya, dia sudah jauh lebih sehat"
"Syukurlah"
"Dimana Jared?"
"Jared? .. dia sedang ku beri sedikit tugas untuk memuluskan aksiku.. lusa aku akan melamar Eve" ucap Alex dengan senyum mengembangnya.
"Good luck" ucap Jun sembari bangkit dari duduknya, menepuk pundak Alex dan berlalu meninggalkannya duduk sendiri menikmati makanan siangnya. Alex menghela nafas berat, Jun memang tak pernah berubah. Selalu datang dan pergi sesukanya.
01.25 PM
Jun menghentikan mobilnya di pinggir taman kota. Ia menyandarkan kepalanya pada stir mobil, seakan beban di kepalanya nampak sangat berat hingga terlihat terlalu berat bahkan hanya untuk ia sandarkan.
Ia perlu menenangkan pikirannya sebelum ia menuju rumah di mana ibu tirinya berada, atau lebih tepatnya rumah mewah di mana ia sedari dalam kandungan tinggal bersama kedua orangtuanya, Rumah yang penuh dengan kenangan, rumah tempatnya kembali, namun kini, rumah itu sudah bukan lagi untuk tempat kembali. Karena baginya, rumah itu kini bagaikan neraka.
Jun menghela nafas berat dan memukul stir mobil kencang sesaat sebelum dirinya memilih untuk segera melaju membelah pusat kota dan pergi menuju rumah tempatnya berpulang dulu'.
"Tuan muda, akhirnya anda pulang juga" ucap pak tua Sam penjaga setia kediaman keluarganya.
Jun tersenyum tipis dan menatap pak tua Sam setelah menutup pintu mobilnya.
"Kabar saya sungguh baik, bagaimana kabar tuan muda sendiri? rumah ini sungguh semakin sunyi setelah Tuan Lewind tiada, dan disusul tuan muda yang memilih pergi, anda sungguh menjadi lelaki tampan seperti mendiang tuan Lewind, semoga kebahagiaan selalu bersamamu"
"Kabarku baik pak tua! aku akan masuk terlebih dahulu"
"Silahkan tuan muda"
Jun berjalan melewati sedikit taman yang memang mendiang ayahnya khusus membuatkannya untuk mendiang sang ibunda. Mata elangnya mengedarkan pandangan keseluruh halaman rumah mewah itu. Tak banyak yang berubah, hanya warna cat yang lebih jelas, nampak sekali tak lama baru saja di cat. Dadanya terasa sesak seiring dengan langkah kakinya yang berjalan mendekat ke arah pintu utama.
Jun memejamkan matanya sejenak sebelum ia menekan bel pintu rumah mewah itu. Dan tak lama kemudian terlihat seorang wanita tua yang sangat ia kenal, istri dari pak tua Sam. Elena.
"Hai Elena, lama tak jumpa" ucap Jun dengan senyuman tipis.
Mata Elena berkaca-kaca melihat tuan mudanya pulang ke rumah, setelah sekian tahun tak pernah kembali, dan kini tuan mudanya telah berubah menjadi pria gagah dan tampan.
Tangan keriputnya meraih sebelah tangan Jun untuk ia genggam.
"Kenapa tuan muda tak pernah pulang, saya sungguh mengkhawatirkan tuan muda"
"Kau sungguh berlebihan Elena" ucapnya mengejek dirinya sendiri.
__ADS_1
"Masuk tuan muda, duduklah, atau anda ingin langsung beristirahat? akan ku buatkan soup jagung kesukaan anda"
"Elena, kau terlalu berlebihan, aku hanya mampir"
"Siapa yang datang?"
Jun menoleh kearah suara dan mendapati sang ibu tirinya yang tengah berjalan mendekat. Jun memasang wajah datarnya dan memilih menatap kelain arah dan mengabaikan ibu tirinya itu.
"Halo sayang, akhirnya kamu mengunjungi ibumu ini" ucap Lauren menggoda, mendudukkan dirinya tepat di samping Jun dan menyelipkan tangannya untuk memeluk dan mengusap-usap dada Jun seduktif.
"Apa kau sungguh tak merindukan ibumu ini?"
Jun bergidik ngeri dan menghempaskan tangan Lauren paksa dari tubuhnya. Menjijikkan!
Jun bahkan masih enggan untuk menatap wajah Lauren.
"Menjauhkan dariku!" desis Jun geram berusaha bangkit namun dicekal oleh Lauren.
Lauren terkekeh sembari menahan Jun untuk tetap duduk di sampingnya.
"Menurutlah sayang, atau kau ingin kekasihmu...?
"Ahh, kekasih, putra tampanku ternyata memiliki seorang kekasih" ucap Lauren penuh makna
Jun menatap tajam pada Lauren dan mendorongnya kuat hingga hampir saja jatuh terbentur meja. Lauren menatap geram pada Jun, dan detik berikutnya kembali menatap Jun dengan tatapan memuja.
Lauren bangkit dan berdiri tepat di hadapan Jun, dan dengan tak tahu malu. Lauren mendorong Jun untuk bersandar dan dirinya yang mencondongkan tubuhnya dengan salah satu kakinya yang berada di sela paha Jun.
Lauren mendekatkan wajahnya pada ceruk Jun dan mengecupnya ringan, tangannya bergerak mengusap dada bidang Jun hingga perut, dan dengan sigap Jun menggenggam erat tangan Lauren sebelum tangan kotor itu menyentuh lebih jauh tubuhnya.
Jun terus menggenggam kuat tangan Lauren sembari memejamkan matanya penuh amarah. Lauren memekik saat tangannya terasa sakit.
"Akkhh, kau menyakitiku sayang"
"Kubilang menjauhlah dariku!" geram Jun
"Tidak akan, lagi pula.. aku tau.. kau juga menyukai BDSM bukan" senyum kemenangan terbit di wajah Lauren
"KU BILANG HENTIKAN!"
__________
Terimakasih sudah membaca~
jangan lupa LIKE DAN LAIN-lain ya gaisss...
__ADS_1
bye bye ... maaciww ♥️♥️