
Keterpakuan keduanya membuat pemandangan intim itu menjadi sedikit terjeda, namun Zeline yang telah kembali pulih kesadarannya dari keterpakuan sementara atas kejadian sekilas mata ini dengan spontan berusaha mendorong Jun yang berada tepat di atas tubuhnya.
Jun yang sadar sepenuhnya juga mulai berusaha bangkit, bibirnya sedikit memangut bibir Zeline tanpa sadar sebelum terlepas, namun ada hal yang membuat wajah Zeline semakin memerah menahan amarah juga malu. Karena di saat Jun bangkit secara bersamaan tangan Jun yang berada di atas payudara Zeline dengan reflek menekan dan juga sedikit meremas payudaranya. Membuat Zeline memekik dan secara cepat bangkit mendudukkan diri dengan kedua tangannya yang menyilang tepat di depan dadanya.
Sementara Jun yang berhasil bangkit menjadi terkejut juga linglung dengan apa yang baru saja ia lakukan. 'Shit' umpat Jun dalam hati ketika kesadaran telah menguasainya.
Jun terus mengumpat dengan mempertahankan wajah datarnya, ia memejamkan mata sejenak, mungkin setelah ini ia akan di anggap sebagai lelaki mesum yang tampan.
"Jerk you" maki Zeline dengan suara keras. Jun yang diam membatu semakin menjadi serba salah dan terpaku di hadapan para karyawan yang tengah menonton mereka, dan itu menjadi semakin ramai saja.
"Ak..." ucap Jun pada akhirnya namun terpotong oleh suara Matteo yang menginterupsi "Ada apa ini" tanya Matteo yang tak mengerti lalu menatap kearah Zeline dan mendekatinya.
"Apa yang terjadi, ada apa dengan dirimu, baru ku tinggal sebentar kau sudah seperti ini" tanya Matteo setelah melihat penampilan Zeline yang berantakan dengan noda kopi pada pakaiannya.
"Sa...saya tak apa, hanya insiden kecil yang tak di sengaja" ujar Zeline sedikit tergagap karena merasa malu dengan dirinya yang menjadi tontonan karena insiden memalukan ini. Tak ingin menjadi semakin rumit dan mempermalukan dirinya sendiri, Zeline berusaha memasang wajah datar dan memungut barangnya yang terjatuh lalu dengan segera berpamitan dan berlalu.
Belum sampai beberapa langkah sebelah lengan Zeline terasa di cekal oleh seseorang, Zeline pun lantas berbalik dan menatap manik orang yang mencekal lengannya.
"Sorry but not sorry" ucap Jun datar namun dengan tatapan mata yang tajam. Jun melepas genggaman tangannya pada lengan Zeline dan berlalu lebih dulu, meninggalkan Zeline yang tak percaya akan ungkapan maaf yang bukan permintaan maaf!.
Zeline menahan kesal dan segera pergi meninggalkan kerumunan yang tampak mulai bising, juga Matteo yang masih tak mengerti apa yang telah terjadi.
***
Jun memasuki toilet dan mulai melepas kancing kemejanya satu-persatu lalu menanggalkan kemejanya yang telah kotor.
Ia menatap pantulan di cermin toilet dengan kedua tangannya yang bertumpu pada pinggir wastafel. Bahu lebar tegap, dada bidang hingga perut sixpack bak pahatan terpantul jelas pada cermin kaca toilet.
__ADS_1
Netra hitam legam itu menatap bibir sexy pada pantulan cermin di hadapannya. Jemari lelaki itu tanpa sadar bergerak menyentuh dan mengusap pelan permukaan bibir miliknya tanpa perintah. Rekaman kejadian saat di lobi seakan berputar bak kaset di dalam otak dan pikirannya. Wajahnya memanas dan memerah mengingat kejadian itu. Jun berdeham menetralkan ekspresi juga perasaannya. Sesegera mungkin menghalau semua pikiran-pikiran yang tak perlu di pikiran dan mulai mengenakan kemeja baru juga merapikan diri sekali lagi sebelum ia memilih kembali bekerja dan berpikir tak pernah terjadi apapun. Semua normal.
08.00 PM - FFC
Suara ketikan keyboard menguar di sunyinya ruangan luas ini, beradu dengan detik jam yang menampakan suara lantang nya. Udara yang semakin dingin mulai menusuk ke sela-sela tulang rusuk, terasa letih yang telah menghampiri dan mengganggu namun ditepis oleh rasa lega. Zeline menatap benda kecil yang melingkar di pergelangan tangannya 'pukul 8 malam' batinnya.
Akhirnya ia bisa bernafas lega, seluruh pekerjaannya telah usai, ini mungkin lebih cepat dari dugaannya.
Ia sempat ragu dengan banyaknya pekerjaan yang dilimpahkan padanya sedari pagi hingga Zeline memutuskan harus lembur.
Bayangan kejadian siang tadi saat di lobi cukup mengganggu konsentrasinya selama bekerja. Bahkan otak cantiknya sempat tak dapat berfikir selama sepersekian menit. Sungguh buruk pikirannya. Sangat buruk.
Ia terus aja teringat dengan kejadian siang tadi , bukan tentang yang lain, namun tentang ciuman itu. Ciuman pertama baginya,
'oh sungguh Jun adalah lelaki beruntung yang mendapatkannya' pikir Zeline.
"Kau baru pulang" Suara seorang lelaki mengentikan langkahnya memasuki mobilnya. Zeline menengok kebelakang dan menemukan Alex yang berdiri tegap menatapnya heran. Zeline yang lelah memaksakan senyum manisnya lalu melangkah mendekati kakaknya dan memeluknya manja.
"Aku sungguh lelah hari ini, aku terpaksa lembur karena pekerjaanku yang tak ada habisnya" adu Zeline yang masih nyaman memeluk erat tubuh kakaknya, lalu mendongakkan kepalanya menatap Alex menampilkan mimik wajah memelasnya.
Alex yang gemas mencubit sebelah pipi adiknya dengan satu tangannya yang mendekap erat tubuh adik kesayangannya.
"Anggap saja kamu sedang pemanasan sebelum kamu benar-benar dibebani dengan tanggung jawab yang lebih berat dan harus bekerja lebih keras dibandingkan dengan para pegawaimu" nasehat Alex dengan senyum.
Zeline mendengus "Kenapa bukan kakak saja yang menggantikan posisi daddy" tanya Zeline dengan bibirnya yang mengerucut.
Alex hanya terkekeh dan mencubit hidung mancung adiknya "itu hak mu, kamulah pewaris tunggal FFC" terang Alex namun mendapat cibiran Zeline
__ADS_1
"Kakak itu juga pewaris FFC, bukan hanya Zeze saja" kesal Zeline
"Kamu ini, sudahlah kakak tak tega jika harus adu mulut dengan adik manisku ini"
Zeline tertawa kecil mendengar celoteh Alex
"Want to have dinner with me princess" tanya Alex sembari mengulurkan tangannya bak seorang pangeran
"With pleasure" balas Zeline sembari memegang kedua ujung rok sebatas atas lutut dengan sedikit membungkuk anggun lalu menerima uluran tangan Alex. Keduanya tertawa lepas setelah kelakuan absurd mereka.
Tanpa mereka sadari Emma tengah mengepalkan tangannya dengan kesal, rasa bencinya menguap setelah melihat pemandangan yang ia lihat dengan netra matanya di ujung basement. Emma tak dapat mendengar dengan jelas apa yang mereka bicarakan, kecuali suara tawa yang menguar jelas di basement yang sepi. Hanya melihat apa yang tengah mereka lakukan, lebih tepatnya apa yang Zeline lakukan. Dan yang dapat Emma tangkap hanyalah satu hal
'Zeline yang tengah mencoba merayu atasannya' atasan yang sangat ia suka.
__________
Terimakasih sudah membaca ❤️
jangan lupa tinggalkan jejak jika kalian suka, cukup klik like, fav, komen, rating 5 dan vote 😚
like dan komen kalian sungguh bikin aku terharu dan bikin aku semangat nulis.. 🥰
dan jika kalian berkenan silahkan mampir di ceritaku yang lain ...
'Endless love' & 'Jadi, dia atau siapa'
tengkyuuu
__ADS_1
bye bye..