Barcelona I Love You

Barcelona I Love You
Chapter 26


__ADS_3

"Jadi.. bisakah kau melepas tanganmu?"


Jun melepas genggaman tangannya dengan sedikit rasa tidak rela.


"Tak perlu perduli tentang pendapat orang lain"


Zeline memutar bola matanya jengah.


"Cepatlah katakan apa yang ingin anda katakan!"


"Aku telah mengatakannya sedari tadi, kemana saja kau ini?" kesal Jun


"Oke.. Baiklah ku maafkan! sekarang, bisakah aku pergi?" tanya Zeline yang mulai beranjak dari kursinya, namun lagi-lagi pergelangan serasa di tahan seseorang.


"Kau ada waktu sepulang kerja? aku ingin mengajakmu, ya pergi mengunjungi karnaval atau sebagainya?"


"Kau mencoba menyuap ku dan berdamai denganku dengan cara membawaku jalan-jalan seperti anak kecil?" tatap Zeline dengan mengernyitkan dahi


"Katakan saja kau mau atau tidak!" kesal Jun melepaskan genggamannya pada pergelangan tangan Zeline.


"70 Pine Street - Wall Street, Willx tower! tepat pukul 8!. Ku tunggu di pintu lobi" ujarnya berlalu meninggalkan Jun yang masih terduduk di meja kantin.


Jun hanya diam sembari terus memperhatikan langkah Zeline yang kian menjauh tak terlihat.


'Akhirnya, ia mengatakannya' hembusan nafas lega lirih terdengar setelah ucapan ajakan yang sebenarnya 'Kencan' tersampaikan. Beruntung juga bahwa ajakannya tak mendapatkan penolakan seperti pikirannya yang lalu-lalu.


_____


Zeline terus memegang dadanya yang berdetak kencang. Bukan maksud apapun saat dirinya pergi berlalu begitu saja saat ajakan itu, hanya saja dirinya sudah tak mampu menahan gejolak aneh yang menderanya. Ada rasa bahagia yang meluap juga rasa malu dan gelisah yang menjadi satu. Ia sungguh tak ingin mempermalukan dirinya dengan terlihat mudah di rayu hanya dengan ajakan jalan menghabiskan waktu ke tempat karnaval atau apapun itu.


"Ze"


"Zeline"


"Hey!"


"Oh, kenapa?"


Velove berdecih dan menatap malas sahabatnya yang baru saja ia sadarkan dari lamunan yang membuat Zeline terus mematung menatap tak jelas pada sudut ruang terbuka kantor.


"Kenapa kau melamun? sebelum itu, katakan padaku, apa yang tadi kalian bicarakan" selidik Velove


"Tak ada love, hanya ajakan untuk mencari udara segar malam nanti" ujarnya santai sembari melangkah menjauh.


Velove menghela nafas berat dan menyusul, menyamakan langkahnya dengan Zeline.


"Kencan?"

__ADS_1


Zeline menghentikan langkahnya dan menatap sahabatnya.


"Kencan? mana mungkin! pria menyebalkan itu hanya sekedar mengajakku mengunjungi karnaval dan mungkin makan malam!"


gerutu Zeline, melanjutkan langkahnya.


Velove memutar bola matanya jengah


"Yang benar saja kau ini Ze! itu namanya kencan! kau seperti tak pernah berkencan saja!" pekik Velove tertahan.


"Apa kau lupa? bahwa aku memang tak pernah berkencan? jika seorang pria mendekati sekali saja! besok atau beberapa hari kemudian ia akan menjauh entah kenapa!" kesal Zeline sembari memasuki lift.


Velove terus mengikuti langkah Zeline hingga memasuki lift. Memang benar apa kata sahabatnya itu, lebih tepatnya, Daddy dan juga kedua kakak overprotektif Zeline yang sampai menyewa mata-mata untuk terus memantau Zeline kemanapun ia pergi. Juga menjaga agar tak sekalipun ada lelaki yang mampu mendekatinya.


Namun untuk kali ini sungguh berbeda, karena tak lagi ada mata-mata yang terus membuntuti kemampuan Zeline pergi. Entahlah, aku tak mengerti cara pemikiran keluarga Findley.


Velove tersenyum lebar yang di sambut tatapan malas Zeline


"Umm, oke baiklah.. jadi.. ini kencan pertamamu?" goda Velove


"Stop it Love"


"Baiklah, semoga kencanmu menyenangkan!" pekik Velove saat Zeline melangkah keluar dari dalam lift.


"Diamlah!" Hardik Zeline dengan kekehan sesaat sebelum pintu lift kembali tertutup dan memisahkan mereka.


Zeline terus tersenyum kecil hingga menuju kubikel mejanya, namun saat berada tepat di depan kubikel mejanya, senyum yang sebelumnya menghias wajah cantiknya, kini mulai luntur saat melihat berkas yang telah ia selesaikan entah kenapa berserakan di atas meja kerjanya dengan tumpahan kopi yang menyebar dan membasahi seluruh berkas miliknya.


Zeline mengedarkan pandangan menyapu seluruh ruangan divisi yang kosong. Jam istirahat belum usai, hanya ada dirinya di sini.


'Siapa yang melakukan hal menjijikkan seperti ini padanya!'


Dengan kesal Zeline membersihkan mejanya dan mulai mengerjakan lagi pekerjaannya yang seharusnya telah ia selesaikan!


07.00 PM


Zeline berlari memasuki gedung apartemennya. Karena pekerjaan yang harus ia kerjakan lagi dari awal membuatnya pulang terlambat. Kurang dari satu jam! dari jadwal yang ia janjikan pada pria menyebalkan itu.


Dengan terburu-buru, Zeline menuju kamar mandi membersihkan diri, dengan berbalut kimono kini ia berkutat di hadapan cermin. Tak perlu riasan tebal, hanya make up natural.


Kini ia membuka lemari pakaiannya, dan pilihannya jatuh pada overall dress selutut berwarna maroon dengan inner rajut turtle neck lengan panjang berwarna broken white.


Zeline meraih jam tangan berwarna peach berlogo T&Co dan membuatnya melingkar sempurna pada pergelangan tangannya.


'Kurang 15 menit dari jam yang ia janjikan'


Zeline kembali menjadi kebingungan karena terburu-buru. Dengan gusar, Zeline kembali menatap pantulan tubuhnya dari cermin. Rambut tergerai bebas, dress selutut dengan Sepatu slip on berwana broken white, begitu juga dengan tas kecil yang ia bawa. Menurutnya sudah cukup penampilannya malam ini. ' Ini hanya jalan-jalan malam biasa! bukan kencan!'

__ADS_1


Zeline mencoba mengatur nafasnya yang mulai menipis, seiring detak jantungnya yang berdetak tak karuan.


Dengan cepat ia menuju lantai satu dari gedung apartemennya menuju lobi.


Langkahnya melaju menuju sofa yang memang di sediakan di lobi, belum sempat ia menuju sofa, terlihat kedua orangtuanya yang berjalan menuju ke arahnya.


"Mom, Dad, untuk apa kemari?" tanya Zeline


"Apa sekarang jika orangtua berkunjung ke apartemen anaknya itu perlu sebuah alasan?" ucap Clare balik bertanya


"Bukan begitu Mom"


"Kamu ini tak ingat untuk pulang kerumah! Mom terus merindukanmu, apa perlu dad harus terus mengingatkanmu untuk pulang?" tegur Robert.


"Bukan begitu Dad, hanya saja Ze ak..


"Selamat malam Mr.Robert , Mrs.Clare" Sela Jun yang tiba-tiba muncul entah dari mana.


"Oh, halo Jun, sedang apa kau kemari?" tanya Robert


" Saya kemari menjemputnya untuk mengajaknya jalan-jalan" ucap Jun tersenyum dengan tangannya yang tiba-tiba menggandeng tangan Zeline erat.


Zeline menatap tak percaya pada jemari tangannya yang dikaitkan dengan jemari Jun menjadi satu. 'Yang benar saja! saat ini! di hadapan mom and dad!'


Tak beda jauh dengan Zeline, Robert dan Clare juga menatap tak percaya pada Jun yang dengan berani bertindak menyentuh putri kesayangan mereka, juga mengajaknya kencan?


"Akan kemana kalian?" tanya Robert yang mulai berdeham menetralkan perasaan terkejutnya. Ternyata, kini bahkan sekretarisnya menyukai putri kesayangannya.


Sudut hati terdalamnya merasa tak rela, bahwa kini gadis kecilnya memang telah beranjak dewasa.


"Kami hanya akan sekedar pergi jalan-jalan dan makan malam" ujarnya setenang mungkin, karena entah kenapa, jantung Jun tiba-tiba berdetak tak karuan, semacam ada perasaan tertekan yang menekannya.


"Jangan pulang terlalu malam, tak baik bagi wanita" Ucap Clare lembut


"Baik Mrs, kalau begitu kami permisi" pamit Jun seraya terus menggandeng tangan Zeline hingga keluar dari lobi menuju mobil Jun.


.....


"Sayang, aku merasa tak rela melihat putri kecil kita kini telah tumbuh dewasa, dan sekarang akan pergi berkencan untuk pertama kalinya" ucap Robert sendu dengan kelopak matanya yang tampak menahan air matanya mengalir.


Clare tersenyum dan memukul pelan bahu suaminya itu.


"Kau ini"


__________


**Jangan lupa like ya gaes , vote ❤️

__ADS_1


Makasih Ya semuanya yang udah kasih suport dengan bentuk apapun... aku padamu


lop lop lop ❤️❤️❤️**


__ADS_2