Barcelona I Love You

Barcelona I Love You
Chapter 38


__ADS_3

Jun terus saja mengusap wajahnya kasar selama dalam perjalanan kembali ke apartemennya. Tanpa perduli tentang aturan kecepatan maksimum dalam berkendara, Jun terus melesat membelah kota hingga sampai pada basement gedung di mana ia tinggal.


Jun menghempaskan pintu apartemennya kasar hingga terdengar keras. Tanpa basa-basi ia langsung melepaskan seluruh pakaiannya dan menyalakan shower deras. Jun terus menggosok tubuhnya kuat hingga terlihat kulitnya yang memerah akibat gosokan yang terlalu kuat. Ia merasa jijik dengan tubuhnya sendiri, tubuh yang telah wanita gila itu sentuh sesuka hati dengan membuat dirinya diantara nyata dan khayalan.


Flashback on


"*Cepat katakan apa maumu dengan menyuruhku kemari"


"Tak ada, hanya.. aku akan membiarkanmu memilikinya, aku ingin kita berdamai"


"Apa yang kau rencanakan" selidik Jun


"Oh ayolah sayang, ibumu ini hanya ingin berdamai dengan anak lelaki kesayangannya" ucap Lauren dengan senyum misterius.


"Aku muak dengan semua akting mu! Aku pergi"


"Tunggu! duduklah dulu, kau baru saja sampai dan langsung ingin pergi?" Lauren menahan pergelangan tangan Jun dan kembali mendudukannya. Jun membuang muka malas dan memilih menatap ke arah lain.


"Akan ku buatkan kopi untukmu, aku juga akan meminta Elena memasak makanan kesukaanmu"


Lauren kembali ke ruang tengah dengan tangannya yang membawa nampan berisikan 2 cangkir kopi, dengan salah satu dari kopi itu telah di beri obat perangsang dosis tinggi oleh Lauren. Dan Lauren juga meminta Elena untuk pergi berbelanja bersama Sam agar tak mengganggu rencan yang ia susun.


"Setidaknya minumlah dulu, jika kau memang tak ingin makan malam bersamaku" ucap Lauren dengan nada sedih


Dengan malas Jun meraih cangkir kopi itu dan menandaskan nya hingga tak bersisa, namun di detik-detik berikutnya, Jun mulai merasakan panas dan rasa tak nyaman di area-area tertentu tubuhnya. Sedangkan Lauren tersenyum kemenangan.


"Ada apa denganmu Jun? kau sakit?" tanya Lauren pura-pura cemas. Tangannya bergerak menyentuh dan meraba tubuh Jun.


"Singkirkan tanganmu dariku!" desis Jun ditengah-tengah kesadarannya yang menipis


"Ayo kubantu kau berbaring" Ucap Lauren tersirat. Dengan tertatih, Lauren membopong tubuh Jun menuju kamarnya. Rencananya sungguh berhasil, ia akan menikmati rencananya ini dengan kepuasan.


Flashback **off***


Setelah cukup lama ia mengguyur tubuhnya dan dengan sekuat tenaga berusaha menghilangkan bekas wanita gila itu di tubuhnya. Untuk pertama kalinya, ia merasa ingin menyerah, dirinya merasa menjadi lelaki lemah. Jun melangkah keluar dari kamar mandi, masih menggunakan bathrobe, Jun menjatuhkan dirinya di atas ranjang dan menyembunyikan wajahnya pada bantal bantal yang tertata rapi. Ia lelah, dirinya sungguh lelah didera rasa takut dan trauma yang masih menderanya.


***


"Dia masih tak membalas pesan atau mengangkat panggilan darimu?"


Menghela nafas berat dan mengalihkan pandangannya kearah taman kecil di area kantin. Sudah 2 hari ini ia masuk kantor, namun tak kunjung juga dirinya bertemu atau sekedar berpapasan dengan kekasihnya. Dan yang lebih mengejutkan lagi, Jun sampai kini bahkan belum juga terlihat berangkat bekerja. Padahal seharusnya ia sudah mulai bekerja hari ini.


"Dia bahkan tak menepati janjinya untuk kembali menemaniku waktu lalu"


"Apa sekarang kau sungguh mencintainya? benar-benar mencintainya?"

__ADS_1


"Bagaimana aku tak sungguh sangat terjatuh pada cintanya hingga sedalam-dalamnya jika sikapnya yang sungguh manis dan sangat hangat padaku"


"Aku bahkan mulai merasa takut kehilangannya"


"Apa Alex juga tak memberitahumu apapun terkait Jun sebelum ia berangkat menuju Swiss kemarin?"


"Tak ada, kakak bahkan menanyakan kabar Jun padaku"


"Kau sudah mencoba mengunjungi apartemennya?"


Zeline menatap Velove dengan tatapan tertegun sejenak sebelum akhirnya menyuarakan pembenaran akan gagasan yang baru saja Velove lontarkan.


"Kau benar, kenapa aku tak mencoba mengunjungi apartemennya" rutuk Zeline pada dirinya sendiri.


Velove tersenyum sembari menatap sahabatnya itu.


"Perlu ku temani?"


"Tidak terimakasih. Terimakasih juga untuk saranmu"


17.45 PM


Zeline menghembuskan nafas panjang sebelum menekan bel pintu apartemen di hadapannya. Ia ragu, haruskah? namun jika tak ia coba, ia tak akan tau bagaimana keadaan kekasihnya. Ataupun setidaknya ia tau, jika Jun ada di apartemennya atau tidak.


Tiga kali dirinya menekan tombol bel pintu itu dengan jarak yang cukup lama. Namun tak sekalipun ada respon apapun dari arah dalam.


Dengan ragu, Akhirnya Zeline memasukkan kombinasi kode pintu apartemen Jun. Zeline kembali menghembuskan nafas panjang sebelum akhirnya ia meraih gagang pintu dan membukanya.


Gelap, minim cahaya. itu yang Zeline lihat saat melangkah masuk.


"Jun"


"Jun..


"Kau di rumah?"


"Jun"


Ucap Zeline memanggil, berusaha mendapatkan respon dari seseorang yang mungkin berada di sini. Sembari langkahnya bergerak maju dan berkeliling, mencoba mencari seseorang yang ia rindukan. Benar-benar ia rindukan.


Langkahnya terhenti saat tepat di depan pintu kamar Jun. Dengan perlahan ia meraih kenop pintu dan membukanya.


"Jun"


Zeline tertegun melihat Jun yang tergeletak di lantai dengan kondisi yang...

__ADS_1


Sungguh hati Zeline terasa sakit melihat kekasihnya yang mengabaikan janjinya, tak memberi kabar dirinya, menghilang begitu saja, terlihat terkapar tak sadarkan diri di atas lantai dengan botol-botol alkohol yang berserakan begitu banyak. Bahkan Zeline harus menutup hidungnya akibat bau alkohol yang menyengat.


Zeline mendekat dan berlutut dihadapan Jun, tangannya terulur berusaha membangunkan Jun. Namun, di detik selanjutnya ia tertegun. Badan Jun terasa panas, dengan panik Zeline terus berusaha menarik kesadaran Jun.


"Jun!.. bangunlah, kenapa kau sampai seperti ini!


"Jun! bangun! jangan membuatku khawatir!


"Hiks..


"Jun! kau bahkan melupakan janjimu untuk menemaniku, bahkan tak memberiku kabar! dan sekarang, kau malah seperti ini...Hiks..


Zeline terus mengguncangkan tubuh Jun dengan air mata yang terus mengalir di kedua matanya. Zeline meraih ponselnya dan menelpon nomor darurat agar segera mengirimkan ambulance menuju apartemen Jun. Ia sungguh tak ingin Jun kenapa-kenapa.


19.20 PM


"Silahkan duduk" Seorang dokter pria paruh baya mempersilahkannya duduk berhadapan dengannya.


"Terimakasih"


"Begini, peradangan lambung tuan Jun ternyata cukup parah dikarenakan efek dari banyaknya minuman alkohol yang ia minum, bahkan dengan perut kosong."


"Gastritis bisa menjadi semakin parah jika pasien terus mengonsumsi alkohol, jadi saya sarankan agar pasien sebisa mungkin menghindari meminum alkohol"


"Baik dokter"


"Sebisa mungkin hindari alkohol, makan-makan minyak berlebih, terlalu asam atau makanan pedas, juga sebisa mungkin jangan buat pasien terlalu stress"


"Untuk sementara waktu, pasien jangan mengonsumsi makanan yang terlalu kasar agar lebih cepat pulih, sementara makan makanan halus seperti bubur atau sup"


"Baik dok, terimakasih banyak, saya permisi"


Zeline menutup pintu kamar rawat inap Jun, lalu mendekat ke arah brankar dimana kekasihnya kini terbaring lemah dengan selang infus yang terpasan pada punggung tangannya.


Zeline mendudukkan dirinya tepat di kursi samping Jun. Tangannya meraih sebelah tangan Jun untuk ia genggam, berusaha menyalurkan kehangatan lewati sentuhan lembut tangannya.


"Hey"


"Ada masalah apa hingga kau seperti ini"


"Aku merindukanmu, cepatlah bangun dan sembuh"


ucap Zeline lirih dengan air mata yang kembali mengalir.


"Jika kau ada masalah ceritakan padaku, sebisa mungkin akan ku bantu.. hikss.. jangan seperti ini"

__ADS_1


"Kau membuatku khawatir Jun"


"Jangan seperti ini..hiks"


__ADS_2