Barcelona I Love You

Barcelona I Love You
Chapter 12


__ADS_3

Jared menyerahkan amplop berwarna coklat pada Alex. Amplop yang berisikan segala informasi tentang wanita idamannya, wanita yang membawa kabur hatinya.


"Kau memang yang paling bisa ku andalkan" puji Alex pada Jared yang masih setia bersikap profesional


"Berhentilah bersikap formal" liriknya pada Jared


"Pulanglah denganku, kau belum bertemu dengan Zeze bukan? ayo kita ke tempatnya. Aku tau kau merindukan adik cerewetmu itu" ujar Alex tersenyum.


Jared mengernyitkan dahinya


"Dia pulang? sejak kapan?"


"2 bulan yang lalu? entahlah, sepertinya" ucap Alex sembari berfikir


"Kau pasti akan lebih terkejut dengan apa yang Daddy lakukan padanya, jadi ayo kita berkumpul, sudah lama kita tak berkumpul" lanjut Alex dan Jared hanya mengangguk setuju.


***


Sejak pagi dirinya memasuki kantor, Zeline merasa risih dengan tatapan mencemooh padanya. Ia sungguh tak tahu-menahu apapun. Zeline masih berusaha untuk tetap tersenyum dengan semua karyawan walaupun dibalas dengan tatapan aneh. Zeline berlalu dengan cepat menuju meja kerjanya dan menyapa beberapa karyawan satu divisinya dan mulai melakukan pekerjaannya.


11.50 AM


"Ze.." Velove mendekat ke arah meja kerjanya dan menarik sebelah lengan Zeline


"Biarkan aku membereskan mejaku sebentar love"


"Cepatlah, ada yang ingin ku katakan padamu" bisik Velove pada Zeline


"Oke, ayo"


Dengan terburu Velove menarik Zeline menuju lorong dan mengajaknya menuju tangga darurat. Velove tanpa jeda langsung memberondong Zeline dengan ribuan pertanyaan yang membuatnya mengernyitkan dahi heran.


"Bukankah sudah ku katakan untuk tak terlihat dekat dengan para Most wanted juga kakakmu Ze?" ujar Velove dengan wajah kecewa


"Apa maksudmu love?" tanya Zeline heran


"Lihatlah ini" ucap Velove sembari memperlihatkan ponselnya dengan beberapa foto yang di ambil dari jarak jauh.


Zeline terpaku sesaat dan menatap bingung Velove "ba... bagaimana bisa i..ini" ujar Zeline gugup tak melanjutkan ucapannya.


"Harusnya aku yang bertanya seperti itu Ze, aku tak masalah jika memang kau ingin identitasmu terbongkar, tapi aku yakin untuk saat ini kau tak ingin semua terbongkar, jadi jelaskan padaku" ucap Velove penuh penekanan

__ADS_1


Zeline mengusap wajahnya dan menghembuskan nafas berat.


"Jangan memasang wajah seperti itu, kau terlalu mencemaskan ku hingga menakutiku love"


Zeline kembali melirik kan matanya pada sebuah foto pada ponsel yang menampakkan beberapa foto dirinya dengan Alex.


"Kau tau Minggu lalu aku sempat lembur, dan aku pulang lebih larut, tanpa ku duga ternyata kak Alex juga baru saja pulang. Basement tampak sepi saat itu, jadi... kau tau, aku sangat merindukan kakak, tanpa pikir panjang" jujur Zeline


"Oke baiklah, lalu sekarang apa? kau akan mengatakan yang sebenarnya pada semua orang?" tanya Velove


"Tidak, masa magang ku bahkan belum selesai, aku tak ingin di anggap remeh daddy"


"Baiklah jika itu maumu, tapi ingat! jika terjadi sesuatu, sekecil apapun itu, katakan padaku!"


"Iya, oke jangan khawatir love" ucap Zeline menghibur


"Tapi aku heran, siapa yang memfotoku , aku yakin sudah tak ada pegawai yang berada di kantor waktu itu" heran Zeline


"Aku juga tak tau Ze, dan ya. Jangan dengarkan apapun semua ucapan dan tuduhan buruk padamu,. abaikan mereka" peringat Velove


Zeline terkekeh memegang perutnya


"Love, dia itu kakakku, gosip itu jelas saja bohong, untuk apa aku harus mendengarkan ucapan yang sama sekali tak benar itu"


"Terimakasih sudah mengkhawatirkan ku, kau memang sahabat terbaikku. Jadi sekarang, ayo makan, aku lapar" ucap Zeline manja dan bergelayut pada lengan Velove.


***


Zeline terus berusaha bersikap normal seperti biasa, walaupun banyak dari para karyawan yang memilih termakan gosip tak benar yang mungkin terlihat nyata karena bukti foto itu. Sedangkan Velove sesekali mencuri lirikan pada Zeline untuk memastikan bahwa sahabatnya tak memasukkan ucapan atau kata-kata buruk yang terlontar untuknya. Sesekali Velove menatap tajam pada para karyawan yang berbicara buruk tentang Zeline dan notabenenya, mereka juga termasuk bawahan Velove walaupun berbeda divisi.


"Aku akan pergi ke toilet"


"Akan ku antar" ucap Velove yang juga bangkit dari duduknya


"Tak perlu, aku hanya sebentar"


"Kau yakin"


"1000% yakin" jawab Zeline meyakinkan Velove


"Baiklah, cepat"

__ADS_1


Zeline merapikan pakaiannya dan meraih gagang pintu toilet, namun saat akan ia buka, Zeline mengurungkan niatnya. Sesaat dirinya samar mendengar percakapan para karyawan yang semakin jelas membicarakan dan menghina dirinya begitu buruk. Toilet benar-benar menjadi tempat favorit untuk menjelek-jelekkan orang.


"Sungguh anak magang itu tak tau malu"


"Apakah kau tau, dia bahkan juga menggoda Mr.Jun! berpura-pura jatuh dan mencari kesempatan"


"Dasar wanita penggoda, mungkin saja dirinya bisa menjadi pegawai masa percobaan dengan cara tidur dengan salah satu petinggi perusahaan"


"Menjijikkan, tak hanya Mr.Zack dan Mr.Jun, bahkan Mr.Matteo juga ikut menjadi incarannya! Apakah dirinya memang semurahan itu?" sahut salah satu dari mereka.


Zeline masih terus mematung di balik salah satu bilik toilet. Ia berusaha mengabaikan semua makian yang tertuju padanya, namun apa bisa dibuat. Zeline yang nyatanya berucap bahwa ucapan tak benar tak seharusnya di perhatikan dan harus di abaikan malah menjadi sebaliknya, semua tak semudah mengucapkannya.


Perasaannya terasa sakit mendengar olokan para karyawan padanya. Ia berusaha meredam isakannya di balik bilik toilet. Zeline berusaha menghapus air matanya dan menetralkan nafas serta wajahnya agar tak ada yang menyadari bahwa dirinya baru saja menangis. Ia memastikan bahwa tak ada orang yang sedang berada di toilet sebelum dirinya keluar dari balik bilik. Zeline menatap pantulan dirinya di cermin dan berusaha tersenyum. Ia kuat.


Zeline melangkah keluar dari toilet dan mendapati Velove yang tengah berdiri di depan toilet dengan tersenyum. Zeline membalas senyuman Velove dan meraih lengannya lalu mengajaknya menuju rooftop.


Velove dan Zeline menghela nafas berat setelah menaiki beberapa anak tangga menuju rooftop. Saling memandang lalu tertawa lepas. Tak ada perkataan lucu atau tingkah lucu. Hanya helaan nafas juga memandang satu sama lain secara bersamaan dengan menampakkan wajah kelelahan setelah sedikit berolahraga menaiki tangga mampu membuat mereka tertawa lepas dan meringankan beban pikiran mereka.


"Sudah lebih baik?" tanya Velove tanpa memandang Zeline yang sama dengan dirinya, nampak melebarkan pandangannya pada hiruk pikuk kota New York di atas gedung FFC.


"Ya, jauh lebih baik"


"Jangan dengarkan apapun ucapan mereka, mereka hanya iri padamu"


"Ya, aku tau, beginilah susahnya menjadi wanita cantik" ucap Zeline mendramatisir. Velove otomatis menoleh dan menampakan ekspresi terkejut lalu memutar bola matanya jengah.


"Apa?"


"Salah apa aku di kehidupan ku sebelumnya hingga mempunyai sahabat sepertimu" cerca Velove


__________


Terimakasih sudah membaca ❤️


jangan lupa tinggalkan jejak jika kalian suka, cukup klik like, fav, komen, rating 5 dan vote 😚


like dan komen kalian sungguh bikin aku terharu dan bikin aku semangat nulis.. 🥰


dan jika kalian berkenan silahkan mampir di ceritaku yang lain ...


'Endless love' & 'Jadi, dia atau siapa'

__ADS_1


tengkyuuu


bye bye..


__ADS_2