
"Sebenarnya, apa hubunganmu dengan Mrs.Clare?"
"Uhhh, ummm itu, aku, maksudku... tunggu dulu, untuk apa kamu menanyakannya? itu semua bukan urusanmu" ketusnya berusaha menutupi detak jantungnya yang berdegup kencang karena berusaha mengalihkan pembicaraan. Ia sungguh tak pandai berbohong, sepertinya.
"Sudahlah, tak ada gunanya ku bertanya padamu, cepat habiskan makananmu"
"Sudah, ayo pergi, bagaimana jika kita pergi ke pusat perbelanjaan? bukankah ini masih belum jam pulang kantor?"
"Hey..
"bagaimana? oh atau kita pergi ke taman? atau tempat hiburan?"
"Denga..
"Oh oh bukankah ada festival makanan di taman kota? ayo kita pergi ke sana"
"Kau..
"Ayo cepat" ucap Zeline tak sabar tanpa tau bahwa dirinya telah memotong perkataan yang akan Jun katakan dari tadi. Jun mengusap wajahnya, sungguh merepotkan.
Zeline kembali menarik lengan Jun dengan satu tangannya membawa dua paper bag berisikan kue kesukaan semua orang di rumah. Jun hanya pasrah saat Zeline kembali menarik lengannya, anggap saja ini sebagai refreshing. Sudah lama juga dirinya tak berkeliling kota, mungkin ini juga bukan hal buruk, ia juga harus mulai menikmati hidup dan waktu luangnya.
***
"Jangan menyusahkan ku! ingat itu"
Peringat Jun pada Zeline sesampainya mereka di tempat acara festival. Zeline mengangguk mantab dan mulai melangkah menyusuri jalan setapak di mana terlihat sisi kanan dan kirinya yang penuh dengan stand makanan.
"Aku ingin sosis bakar yang besar itu" tunjuk Zeline pada sebuah stand yang menyediakan berbagai macam sosis bakar dan semacamnya.
Jun ikut menoleh dan menatap stand itu
__ADS_1
"Untuk apa kau katakan padaku? jika ingin pergi, beli sendiri!" ketus Jun
"Dasar kau ini pria tak peka! ah kau bahkan tak berperasaan" kesal Zeline berlalu meninggalkan Jun yang masih duduk pada bangku yang disediakan pihak pengelola festival.
"Dia yang ingin, kenapa juga aku harus tau, jika ingin, beli saja langsung" gumam Jun sembari menatap ponselnya.
Zeline kembali dengan membawa dua tusuk sosis dengan ukuran jumbo. Zeline menyodorkan satu tusuk sosis itu pada Jun yang masih sibuk dengan ponselnya. Jun menatap Zeline dan kembali menatap sosis yang disodorkan padanya.
"Kau makan saja, aku tak ingin"
"Baiklah, padahal sosis ini lezat" komentar Ze singkat, lalu mulai melahap sosis bakar itu.
Jun terus saja menatap bagaimana cara gadis di hadapannya itu memakan sosis yang bahkan tak mampu masuk sepenuhnya pada mulutnya. Lelehan mayonaise yang keluar dari mulutnya dan dengan cepat lidah gadis itu menghapus lelehan itu pada sudut bibirnya. Entah kenapa pikiran Jun melayang pada hal yang tidak-tidak. Bagaimana jika sosis itu ia ganti dengan si Juniornya. Oh sial!!
Hanya memikirkannya saja membuat juniornya mulai bangkit. Bahkan para wanita j*lang saja tak mampu membuatnya bangkit secepat ini.
Dengan segera Jun menghalau segala sesuatu yang saat ini tengah ia pikirkan. Ia berdeham dan menetralkan dirinya, dan sesekali melirik pada Zeline yang baru saja menghabiskan dua tusuk sosis bakar jumbo itu.
Entah kemana pikiran warasnya, tiba-tiba saja tangan Jun terulur, ibu jarinya mengusap sudut bibir Zeline yang terdapat sisa saus, dan dengan santainya, Jun menjilat ibu jarinya yang terkena saus, dihadapan Zeline.
Semua kejadian itu tak luput dari perhatian seorang wanita yang berdiri tak jauh dari tempat duduk mereka, wanita itu menggeram kesal melihat itu semua. Tidak, ia tak akan membiarkannya. Ia akan menyingkirkan semua gadis yang berusaha mendekati Jun, tak terkecuali!
Wanita itu mendekat dengan memasang senyum palsunya. Tangannya meraih pundak Jun dan menyentuhnya seduktif. Jantung Jun terkejut saat dengan tiba-tiba sebuah tangan menyentuh pundak dan punggungnya. Itu semua membuatnya risih, dengan cepat Jun menoleh dan mendapati Ibu tirinya dengan senyum menjijikkannya.
"Kau kemari sayang? tak biasanya kau menyukai tempat ramai seperti ini" ucap wanita itu. Jun menepis kasar tangan wanita yang pernah menorehkan trauma padanya itu. Sedangkan Zeline hanya menatap polos tak paham pada mereka berdua.
"Oh, halo perkenalkan saya adalah ibu Jun" sambungnya saat menatap Zeline dan mengulurkan tangannya.
"Oh, halo bibi, senang bertemu dengan anda" Ucap Zeline seramah mungkin dan akan menerima uluran tangan wanita itu, namun tangan Jun lebih dulu menepis tangan wanita itu dan menarik Zeline agar mendekat padanya.
"Pergi dari hadapanku sekarang!" tekan Jun dengan suara yang sama sekali tak ramah.
__ADS_1
"Ibu merindukanmu sayang"
"Pergi!"
"Dan siapa gadis ini? apa dia salah satu mainanmu? atau hanya pelampiasan semata?" remeh nya.
"Kau seharusnya tak perlu mencari pelampiasan lainnya Jun"
...
"Kau bisa menjadikanku mainanmu! aku pasti akan sangat menurut padamu" bisiknya menggoda tepat pada telinga Jun.
Wajah Jun merah padam akan amarah yang menguasainya. Ingin sekali rasanya ia mencekik wanita gila di hadapannya saat ini juga. "Jaga bicaramu!" hardik Jun tajam
"Lalu siapakah gadis ini?" tanyanya lagi sembari memandang Zeline dari ujung kepala hingga kaki.
Zeline masih diam terpaku dan tak ada niatan ingin ikut menjawab atau apapun itu. Namun saat pertanyaan sama terulang lagi ia akan menjawabnya, namun Jun lebih dulu menjawabnya.
"Dia kekasihku! jadi jangan coba mengusiknya, pergi dari hadapanku sekarang juga!" ucap Jun menahan amarah yang berada di puncaknya, sementara lengannya memeluk pinggang Zeline erat. Saat Zeline akan mengeluarkan suara, Jun dengan sengaja meremas pinggang Zeline. Akhirnya Zeline pun memilih untuk tetap diam.
"Apa buktinya bahwa gadis ini kekasihmu Jun" tantang Lauren
Seketika tangan Jun yang semula berada di pinggang Zeline berpindah ke tengkuk Zeline dan menariknya mendekat. 'Bantu aku dan maafkan aku' ucap Jun lirih sebelum dengan cepat Jun mendaratkan ciuman pada bibir Zeline, ciuman yang awalnya ringan kini berubah menjadi lumatan. Zeline yang baru merasakan ciuman seperti saat ini tentu saja kewalahan dengan aksi Jun yang seakan akan melahap bibirnya hingga habis. Tangan Zeline mencengkeram erat pinggang Jun dan yang satunya mencengkeram kerah bajunya.
Jun terus merapatkan tubuh mereka hingga benar-benar menempel, tak perduli saat ini mereka sedang berada di tempat umum yang ramai. Jun terus menerus ******* dan menggigit kecil bibir Zeline yang mulai membengkak karenanya, lidahnya membelai lembut bibir Zeline dan terus menggoda masuk dan memperdalam ciuman mereka, saling bertukar Saliva hingga ia merasakan Zeline yang berusaha terus menahan nafas dan kini telah kehabisan stok oksigen.
__________
Terimakasih sudah membaca ❤️
Jangan lupa Like, komen , vote ya ciwi-ciwikuu 🥰🙈🙈
__ADS_1
like dan komen kalian sungguh bikin aku terharu dan bikin aku semangat nulis.. 🥰
tengkyuuu bye bye....