
Zeline menuruni tangga menuju meja makan untuk sarapan, sedangkan Alex sudah memulai sarapannya ditemani secangkir kopi dan roti selai kacang bersama dengan daddy-nya. Zeline yang baru datang langsung menduduki kursi di sebelah kakaknya Alex dan mulai mengolesi roti dengan selai nanas lalu menyuapkannya ke mulut.
"Bagaimana pekerjaanmu di kantor Ze" tanya Robert memulai percakapan di meja makan dengan anaknya.
"Apa yang mau Daddy dengar, pekerjaan kantorku masih berjalan dengan semestinya, hanya saja.." Zeline mengedikkan bahu tak melanjutkan ucapannya
"Hanya saja?" ulang Robert dengan menaikkan sebelah alisnya.
"Hanya saja, banyak sekali karyawan wanita yang menyebalkan, mereka suka sekali menyuruhku, membuatku terlihat seperti pembantu, kalo ngomong ketus, sinis. Terlihat jelas mereka tak menyukaiku" adu Zeline dengan menggebu di sela dirinya yang sedang mengunyah makanannya.
"Telan dulu makananmu" ketus Alex melihat kelakuan adiknya itu, sedangkan Zeline malah menjulurkan lidahnya tanda mengejek pernyataan kakaknya.
"Mereka tak melakukan hal diluar nalar yang berlebihan padamu bukan Ze" selidik Robert menatap Zeline serius
"Enggak dad untuk sekarang, Zeze ga tau untuk kedepannya, semoga saja tidak akan terjadi" ungkap Zeline melanjutkan sarapannya
"Jika terjadi sesuatu, katakan langsung pada Daddy atau kakakmu" ucap Robert sembari mengakhiri sarapannya.
"Daddy berangkat" lalu pergi meninggalkan meja makan. Zeline dan Alex hanya mengangguk.
"Kenapa mommy tak ikut sarapan, kemana mommy?" tanya Zeline tersadar bahwa mommy-nya tak ada di meja makan
"Mommy ada urusan penting di London, pagi-pagi sekali mommy berangkat, kau masih sibuk tidur seperti lembu"
Zeline mencebikkan bibirnya malas.
"Kakak sungguh menyebalkan"
Alex tersenyum "Ingin berangkat bersamaku tidak" tanya Alex
"Tak usah, aku membawa mobil, kakak duluan saja" balas Zeline menatap Alex sekilas
"Oke, Kakak duluan" Alex beranjak dari kursinya dan menghampiri Zeline lalu mencium kening Zeline dan berlalu meninggalkan Zeline.
Zeline hanya tersenyum dan melambaikan tangan pada Alex, lalu ikut beranjak dari kursinya dan menuju kamar mengambil beberapa barangnya dan berlalu menuju garasi rumah, memasuki mobilnya dan ikut menyusul kakak juga daddy-nya ke kantor.
__ADS_1
_____
Sebenarnya di kantor tidak ada yang tahu bahwa Alex adalah anak keluarga Findley kecuali beberapa petinggi perusahaan, Jun sahabatnya serta Velove. Bahkan sekretarisnya juga tak mengetahui fakta itu, karena bagi Alex tak peduli di anak keluarga Findley atau bukan yang terpenting adalah dia menjabat sebagai direktur karena memang dengan seluruh kemampuan yang dimiliki, bukan sekedar karena dia adalah anak dari pemilik perusahaan. Sahamnya di perusahaan memang tak sebanyak saham Zeline, jika Robert memiliki 35% Zeline memiliki 24% sedangkan dirinya memiliki 21% namun dirinya tetaplah termasuk salah satu jajaran pemegang saham tertinggi di perusahaan.
Sesampainya di kantor, Zeline segera melangkah menuju ruang kerjanya dan menyapa beberapa karyawan yang ia temui di jalan. Baru saja ia duduk, Misha ketua divisi datang dan memberikannya beberapa berkas yang harus dirinya kerjakan, bahkan ada beberapa email masuk berisi laporan yang harus segera ia kerjakan karena deadline.
Dirinya masih dalam masa magang tetapi pekerjaannya sungguh seperti pekerjaan para senior dengan gaji tinggi. Zeline hanya mampu memijit pelipisnya.
Zeline mendengus pasrah setelah ketua divisi itu pergi. Matanya berusaha fokus pada beberapa berkas di hadapannya. Sepertinya hari ini dirinya harus lembur
'Fighting' ucapnya dalam hati menyemangati dirinya sendiri.
11.30 AM
Zeline masih terlihat fokus pada berkas-berkas juga laporan yang nampak berlimpah di atas meja kerjanya, hingga bahkan dirinya tak sadar bahwa jam telah menunjukkan waktu istirahat makan siang.
Layar ponsel Zeline menyala dan menampakkan sebuah notifikasi pesan, barulah Zeline meraih ponsel dan juga melirik jam pada sudut layar ponselnya. Zeline pun m mendesah lelah
Message
"*Ze, sudah makan siang? datanglah ke ruangan kakak, kakak membelikan makanan kesukaan mu"
"Jangan mulai Ze, cepatlah"
"hehe, iya iya kak, bagaimana jika ada yang curiga"
"Bawa saja laporan keuangan bulan lalu"
"As your wish Mr.Zack*"
Zeline meraih ponselnya dan mengirimkan pesan pada Velove.
"Love, maaf aku tak bisa menemanimu makan siang, kakak mengajakku makan siang bersama"
Setelah beberapa saat pesan terkirim, Velove membalas pesan Zeline dengan jawaban singkat 'oke'
__ADS_1
Zeline teringat sesuatu dan kembali mengirim pesan pada Velove tentang di mana letak ruangan kakaknya, karena jujur saja Zeline masih belum mengetahui di mana ruangan kakaknya, bahkan ruangan daddy-nya Zeline ragu, akankah masih sama di tempat itu seperti saat terakhir kali dirinya berkunjung ke perusahaan dan itu sudah lama sekali.
Sesaat setelah Zeline keluar dari lift dirinya mendapati pintu ruang kerja kayaknya. Namun sebelum memasuki ruang kakaknya, perhatian Zeline teralih pada seorang wanita sexy yang nampak tengah duduk berkutat di depan komputernya dan Zeline tebak Ia pasti adalah sekretaris kakaknya.
'Hmmm lumayan untuk ukuran bodinya' gumam Zeline.
Zeline melangkah mendekati meja yang iya prediksi sebagai sekretaris kakaknya itu dan mulai menanyakan apakah kakaknya itu ada di ruangannya atau tidak, lalu memberitahukan maksud tujuannya datang, Zeline berusaha terus tersenyum ramah namun siapa sangka bahwa Emma nama sekretaris kakaknya itu memandangnya remeh dan beranggapan bahwa Zeline adalah salah satu dari wanita yang ingin mendekati atasannya itu dengan beralasan ingin bertemu tapi mempunyai maksud tujuannya lain, yaitu menggoda dan merayu atasannya tersebut, karena dirinya tak mendengar atasannya itu meminta laporan keuangan bulan lalu padanya.
Zeline yang mendengar ucapan emma memejamkan mata sejenak dan mendengus lelah. Zeline masih berusaha menjelaskan dan mencari alasan yang tepat, tetapi sepertinya sekertaris kakaknya itu tak mau perduli dan percaya ucapannya, lalu dengan tiba-tiba merebut berkas yang ada di tangan Zeline dan melenggang pergi menuju depan pintu ruangan kakaknya lalu mengetuk masuk pintu ruangan atasannya dan meninggalkan Zeline yang masih tak percaya dengan kelakuan sekretaris kakaknya itu.
Emma memasuki ruangan dan menginterupsi kegiatan Alex yang tengah memindai beberapa berkas. Emma pun memberanikan diri melangkah mendekati meja atasannya tersebut dan bertanya apakah atasannya tersebut meminta laporan keuangan bulan lalu. Alex mengernyitkan dahi dan berkata tidak lalu Emma pun memberitahukan bahwa tadi ada seorang karyawan biasa yang berusaha menipunya agar dapat menemui atasannya tersebut dan mengatakan bahwa Alex membutuhkan laporan tersebut. Alex hanya menyimak dan terus fokus dengan lembaran kertas yang tampak penting itu.
Emma yang sempat melihat ke arah sofa dan meja di sudut ruangan Alex yang yang penuh dengan makanan pun berucap "apakah Mr.Zack ingin saya temani makan siang" Alex yang tengah berfokus pada berkas-berkasnya mendongak dan menatap Emma dengan mengernyitkan dahi. Emma hanya tersenyum dan menunjuk arah meja di sudut ruangan yang terlihat tersedia banyak makanan. "Bukankah itu semua terlalu banyak untuk anda makan sendirian" ujar Emma berani.
Alex yang menyadari maksud Emma pun membenarkan posisi duduknya dan bersandar pada kursi
"Oh, itu aku akan makan siang dengan Ze.. " putus Alex yang tiba-tiba tersadar dengan apa yang akan ia ucapkan Dan teringat dengan Zeline yang ia pinta untuk datang ke ruangannya dengan membawa laporan keuangan bulan lalu sebagai alasan dengan wajah terkejut
"Dimana wanita yang tadi mengantarkan laporan keuangan itu" tunjuk Alex pada laporan yang dibawa Emma. Emma yang heran hanya mengatakan bahwa wanita itu tadi berada diluar, tak tahu jika sekarang. Alex pun segera bangkit dari kursinya dan mengambil laporan dari tangan Emma dan melangkah keluar mencari keberadaan Zeline, berlalu meninggalkan Emma yang tampak masih bingung dengan situasi sekarang. Sedangkan Zeline telah kembali ke ruangannya dan hanya mendengus kesal ketika mengingat kelakuan sekretaris kakaknya tadi.
Ruang kerjanya tampak sepi tak berpenghuni, para karyawan yang lain tengah menikmati waktu makan siang yang mereka nanti, sedangkan dirinya kini tengah duduk bersandar dan menatap langit-langit kantornya serta sedikit memutar mutar kursinya dengan penat, gagal makan siang dengan kakaknya juga melihat bahwa pekerjaannya pun belum sepenuhnya selesai, Zeline menghembuskan nafas berat dengan mata terpejam.
"Kau tak makan siang?" Seru seseorang dengan suara baritonnya
__________
Terimakasih sudah membaca ❤️
jangan lupa tinggalkan jejak jika kalian suka, cukup klik like, fav, komen, rating 5 dan vote 😚
like dan komen kalian sungguh bikin aku terharu dan bikin aku semangat nulis.. 🥰
dan jika kalian berkenan silahkan mampir di ceritaku yang lain ...
'Endless love' & 'Jadi, dia atau siapa'
__ADS_1
tengkyuuu
bye bye..