
"Kau tak makan siang?" Seru seseorang dengan suara baritonnya. Tampak seorang lelaki mendekat ke arah Zeline. Zeline berdiri dan sedikit merapikan rambutnya yang tampak berantakan. Seorang lelaki tampak menjulang tinggi berdiri di hadapannya dengan setelan jas mahalnya, lelaki itu tampak manis dengan senyumnya. Zeline pun tersenyum kikuk
"Oh, aku.. maksud saya, saya akan pergi sebentar lagi" gugup Zeline seraya menahan senyum yang tampak kikuk di bibirnya. Entah apa yang membuat Zeline tiba-tiba gugup, atau mungkin karena lelaki di hadapannya saat ini adalah atasannya, salah seorang manajer, Mr.Matteo . hanya itu yang ku tahu tentang nya.
"Santai saja tak perlu gugup" kekeh Matteo melihat respon Zeline yang menurutnya lucu
"Ba..baik Mr.Matteo' gagap Zeline
"Bisa temani saya makan siang di luar" pinta Matteo dengan harap
"Tapi Mr.Matteo, saya..."
"Tiada penolakan, ayo" potong Matteo lalu memberikan isyarat agar Zeline mengikutinya berjalan keluar menuju tempat parkir. Matteo membukakan pintu kursi sebelah kemudi dan memberi isyarat untuk Zeline segera masuk, Zeline tersenyum tipis lalu memasuki mobil.
"Terimakasih" ucap Zeline lembut
"Anything for you dear" balas Matteo tiba-tiba membuat Zeline menjadi salah tingkah.
"Ah, benar, hampir saja aku melupakannya" desah Matteo di sela perjalanan mereka.
"Kita belum berkenalan secara resmi, bukan begitu nona Zeline" ucap Matteo sesekali melirik Zeline.
Zeline tersenyum kikuk "Perkenalkan nama saya Zeline Alexandra Fin.." ucap Zeline mengawali namun terhenti sejenak "Zeline Alexandra" ulang Zeline tersenyum lalu mengulurkan tangannya.
Netra mata Matteo tampak memincing disertai senyuman lalu mengembalikan tatapan matanya pada jalan.
"Maafkan aku, aku tak bisa menerima uluran tangan indahmu, kau tau aku sedang menyetir" Matteo menjeda ucapannya
"Jangan tersinggung, aku hanya takut aku akan kehilangan kendali ketika menggenggam tangan mu" jujur Matteo dengan terkekeh
Zeline lantas menarik kembali uluran tangannya dengan malu, ia sempat merutuki kelakuannya dan tak terpikirkan sebelumnya bahwa Matteo tak akan bisa menjabat tangannya karena sedang menyetir, namun ucapan Matteo selanjutnya membuat Zeline ingin menyembunyikan wajahnya yang pasti tampak memerah.
"Matteo Fernandez, kau bisa memanggilku Teo"
"Baik Mr.Teo"
__ADS_1
"Tak perlu terlalu formal, panggil saja Teo jika kita berada diluar kantor. Kau ingin makan sesuatu" tanya Teo di akhir
"Tidak ada, saya bukan tipe pemilih Mr"
"Bukankah sudah kukatakan, jangan terlalu formal, panggil aku Teo"
"Baiklah Te..o" ucap Zeline pelan dengan sedikit lirih, sedangkan Teo terkekeh melihat tingkah Zeline.
"Oke baiklah, kita akan makan di resto ujung jalan itu, makanan di sana sungguh lezat"
Ponsel Zeline bergetar ketika notifikasi pesan masuk. Ia mengangkat ponsel di genggaman tangannya lalu membaca sekilas notifikasi tersebut dan membuka pesan dari kakaknya. Zeline terkekeh ketika membaca pesan singkat kakaknya yang sempat melupakannya dan membuatnya diusir oleh sekertaris gila kakaknya itu.
Zeline lantas memberitahukan pada Alex bahwa dirinya sedang keluar makan siang dengan seseorang. Alex tak memperpanjang masalah dan hanya menghela nafas berat, rencananya untuk makan siang bersama adik kesayangannya gagal karena ulahnya sendiri.
Beginilah sulitnya jika identitas harus di sembunyikan, untuk makan siang bersama saja harus mencari cara dan sembunyi - sembunyi.
Siapa yang akan menghabiskan makanan sebanyak itu. Alex hanya menghela nafas untuk kesekian kalinya dan akhirnya Alex memutuskan untuk mengirim pesan pada Jun agar datang ke ruangannya dan mengajaknya makan siang bersama.
"Siapa?" tanya Teo
Teo yang selesai memarkirkan mobil, memandang Zeline dan merasa gemas dengan sikap lugunya.
"Terimakasih karena memilih makan siang bersamaku"
Teo pun turun dari mobil dan membukakan pintu bagi Zeline, dengan senang hati Zeline turun dari mobil dan tersenyum
"Terimakasih kembali"
Zeline dan Teo menghabiskan waktu makan siang mereka dengan mengobrol dan bercerita banyak hal, sifat Zeline yang menyenangkan membuat Teo senang mengobrol dengan Zeline, dan juga sifat Zeline yang terkadang lugu membuat Teo semakin gemas dengan Zeline.
Baru beberapa jam mereka kenal dan dekat namun Zeline sudah membuatnya nyaman juga mulai menaruh perasaan lebih pada gadis cantik itu, namun yang sebenarnya adalah Zeline telah mencuri perhatian Teo sesaat setelah Zeline bekerja, mungkin saja bukan hanya Teo yang merasakan perasaan itu, mungkin juga banyak karyawan lain yang merasakan hal yang sama.
***
Jun menatap datar makanan dimeja, tanpa kata lagi ia langsung memakan makanan di hadapannya tanpa menunggu Zack memberi izin dan apapun itu. Zack hanya mendesah lega setidaknya ada Jun yang selalu menemaninya makan siang bersama walau terkadang harus dengan sedikit paksaan.
__ADS_1
Seusai menyantap makanan, mereka sedikit berbincang tentang beberapa hal penting yang memang harus mereka bicarakan.
"Thanks" ucap Jun lalu di balas anggukan oleh Alex. Jun berlalu meninggalkan ruangan Alex dan menatap jam yang melingkar pada pergelangan tangannya, masih ada waktu sebelum waktu makan siang usai.
Jun memutuskan mampir ke cafe seberang kantor untuk membeli kopi yang mungkin akan sedikit menyegarkan pikirannya sebelum kembali bekerja.
Jun melangkah memasuki lobi, sesaat ponsel miliknya bergetar dan dengan santai Jun menatap ponselnya menggunakan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya tengah membawa segelas kopi miliknya.
Tanpa Jun duga beberapa langkah tepat di depannya ada Zeline yang tengah sedikit membungkuk meraih ponselnya yang tak sengaja terjatuh.
Jun yang terlalu fokus dengan ponsel miliknya tanpa sadar menabrak Zeline yang mulai bangkit. Zeline yang terkejut dan terdorong akan jatuh, lantas secara reflek menarik lengan Jun sebagai pegangan, namun naas Jun yang juga sama tak siap akhirnya ikut limbung badan jatuh menindih di atas tubuh Zeline.
Segelas kopi itu terpaksa harus tumpah, lalu ponsel Zeline yang terpaksa harus jatuh kembali, juga ponsel Jun yang ikut menjadi korban tak sadar antara kedua belah pihak.
Namun yang lebih membuat mereka syok adalah keadaan mereka yang menjadi tontonan, para pegawai yang tengah lalu lalang terpaksa berhenti dan memastikan pemandangan tak biasa ini.
Kedua bola mata Jun juga Zeline tampak membulat sempurna dengan keadaan mereka saat ini, karena posisi mereka yang sungguh intim. Bagaimana tidak, sebelah kaki Jun berada di antara kedua kaki Zeline, dan juga sebelah tangan Jun yang tampak bertengger di atas dada Zeline. Juga jangan lupakan bibir Jun yang mendarat tepat di bibir Zeline.
Beberapa detik mereka berdua terpaku saling mencerna, membuat semua pasang mata menatap tanpa berkedip dengan rona merah yang samar di kedua pipi mereka yang melihat. Posisi mereka yang tengah seperti bercumbu membuat beberapa pasang mata ikut panas karena cemburu juga iri. Iri dengan Zeline ataupun dengan Jun.
__________
Terimakasih sudah membaca ❤️
jangan lupa tinggalkan jejak jika kalian suka, cukup klik like, fav, komen, rating 5 dan vote 😚
like dan komen kalian sungguh bikin aku terharu dan bikin aku semangat nulis.. 🥰
dan jika kalian berkenan silahkan mampir di ceritaku yang lain ...
'Endless love' & 'Jadi, dia atau siapa'
tengkyuuu
bye bye..
__ADS_1