
Zeline mengerjapkan matanya dan melirik ke arah jam digital di atas nakas.
Jam masih menunjukkan pukul 05.00 pagi, masih ada banyak waktu untuknya tidur kembali. Zeline tersadar akan hal lain saat tangannya menyentuh sebuah tangan yang melingkar pada perutnya, menyalurkan pelukan hangat dari arah belakangnya. Zeline tersenyum kecil dan membalikkan tubuhnya menghadap seseorang yang telah menemaninya juga memberikan perasaan nyaman dan terlindungi dengan pelukannya.
Semalam Zeline sungguh merasa tak nyaman dan tenang untuk tidur sendiri, dan alhasil akhirnya dirinya meminta Jun untuk tidur bersamanya, dalam artian tidur yang sebenarnya. Satu ranjang dengan sebuah pelukan yang mampu membuatnya tidur nyenyak.
Dan kini, jari lentiknya terulur menyentuh mulai dari dahi hingga tepat di bibir Jun. Tiba-tiba saja pipinya bersemu merah. Matanya masih saja memandang kagum pada wajah di depannya.
"Apakah wajahku memang setampan itu?" ucap Jun serak khas bangun tidur beradu dengan suara AC yang memecah kesunyian. Tangannya terulur menggenggam tangan Zeline yang masih betah berada di wajahnya dan menggenggamnya, berusaha menyalurkan kehangatan lewat genggaman tangannya tanpa membuka mata.
"Ka.. kau sudah bangun?" ucap Zeline terkejut
'Cuup'
Jun memajukan wajahnya dan mengecup bibir Zeline singkat, lalu membuka matanya.
"Morning sweet heart"
"Mo..mo.. morning Jun" ucap Zeline terbata
"Pukul berapa sekarang?"
"Masih pukul lima lebih empat menit"
"Tidurlah lagi, ingat kata dokter bukan, bahwa kau harus banyak-banyak beristirahat"
Jemari tangannya mengusap pelan pipi Zeline lalu beralih pada pinggang Zeline dan menariknya mendekat, merapat pada tubuhnya. Kepala Zeline terlihat menjadikan tangan Jun sebagai bantalan dan menyembunyikan kepalanya pada ceruk lehernya yang membuat Jun menciumi gemas puncak kepala kekasihnya itu.
"Aku sudah sembuh" gumam Zeline dalam ceruk Jun yang pasti dapat Jun dengar.
Jun menarik kepalanya dan memberikan jarak pada mereka, Zeline menatap Jun dengan tatapan bertanya.
"Benarkah? jika begitu, bisakah a
ku mendapatkan sebuah ciuman selamat pagi?" goda Jun dengan mendorong bahu Zeline dan membuat kekasihnya kini terlentang dan dirinya yang berada di atas dan menggurung Zeline di bawahnya.
"Ta.. tap.. tapi ak..
'Cuup'
Jun mengecup singkat bibir Zeline dan membungkam kata yang akan Zeline ucapkan. Hanya kecupan ringan, namun mampu membuat Zeline bersemu merah.
Jun kembali mengecup bibir lalu mengecup seluruh wajah Zeline yang membuat Zeline terkekeh geli.
'Cuup'
Jun kembali mengecup bibir Zeline dan berlanjut dengan melum*t bibir Zeline lembut, namun semakin lama Jun semakin merasa bernafsu untuk terus melum*t rakus bibir Zeline. Bibir dan lidah mereka saling bertautan dan saling melum*at bertukar Saliva hingga Jun merasakan bahwa kekasihnya telah kehabisan nafas.
"Ju.."
__ADS_1
'Cuup'
"Jun! hen..
'Cuup'
'Akkhhhhh'
Ringis Jun kesakitan saat merasakan cubitan di pinggangnya yang sebenarnya tak lah sakit, hanya sedikit mempunyai niat untuk bersandiwara.
Zeline memanyunkan bibirnya kesal, bibirnya terasa kebas karena ulah kekasihnya itu. Dan kini, kekasihnya malah berpura-pura kesakitan seperti seorang korban yang teraniaya! padahal menurutnya cubitannya tak lah kencang.
"Kenapa tanganmu ini sungguh suka sekali menganiayaku, hmm" ucap Jun meraih tangan Zeline dan mengecup punggung tangannya.
"Kau ya..yang lebih dulu memulai!"
"Memulai bagaimana?" goda Jun
"....
"Ayo katakan, bagaimana aku memulainya?"
....
"Yakin? bukan kau duluan yang memulainya?"
Jun mendekatkan tubuhnya dan merengkuh Zeline untuk merapatkan diri dengannya. Menenggelamkan wajahnya pada tengkuk Zeline dan mengecupnya ringan.
"Lalu siapa yang menyentuh wajahku tadi? apa ada hewan yang merayap pada wajahku?" pekik Jun seolah-olah terkejut
"Mu.. mungkin saja!"
"Cckkk.. pasti karena kau jarang membersihkan kamarmu hingga ada hewan yang menetap di kamarmu ini, sungguh di sayangkan" ucap Jun di buat-buat
"Tidak! yang benar saja! kau mengatakan bahwa aku jorok?" pekik Zeline tak terima, bangkit dari tidurnya dan berbalik menatap kesal ke arah kekasihnya yang dengan santainya berbaring santai menopang kepala dengan lengannya. Menampakkan tubuh atas telanjangnya yang sungguh menggoda, dihiasi pula dengan perut sixpack.
"Bukan aku yang mengatakan"
"Kau sungguh menyebalkan" pekik Zeline sembari memukuli Jun menggunakan bantal.
"He..
"Hey!"
"Menyebabkan!"
"Ze.."
"Kau sungguh menyebalkan"
__ADS_1
"Ze.. Zeline"
"Kau sungguh pria yang mengesalkan!"
"Sayang.."
"Hey, hentikan, tanganmu bisa saja terluka" ucap Jun sembari menghentikan pergerakan tangan Zeline yang terus bergerak memukulinya.
"Baiklah, maaf bila aku menyebalkan. Kemari, tidurlah lagi, kau harus banyak beristirahat"
"Tapi ini sudah pagi, lagi pula kita akan berangkat bekerja satu setengah jam lagi"
Jun bangkit dari tidurnya, dan mendudukkan diri menghadap Zeline, lalu menggenggam tangannya.
"Apa kau lupa, apa pesan dokter padamu? kau harus beristirahat, setidaknya untuk dua hari kedepan"
"Tapi aku sudah tak apa, aku tak sakit lagi! sentuh saja dahi ku! pasti tak terasa panas lagi!" protes Zeline memanyunkan bibirnya.
Jun menghela nafas berat dan merengkuh tubuh Zeline dan membaringkan mereka berdua. Zeline terus berusaha melepaskan belitan tangan Jun pada tubuhnya, namun berakhir dengan peluknya yang semakin erat.
Zeline menatap tepat pada netra Jun dan memohon untuk dilepaskan, namun hanya diabaikan oleh Jun yang kembali terpejam. Akhirnya mau tak mau Zeline pun pasrah dan mulai menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Jun dan membalas pelukannya. Tak lama kemudian, Zeline pun kembali tertidur.
***
Jun membuka matanya saat lama tak merasakan pergerakan dari Zeline, itu artinya kekasihnya kembali terlelap dan terbuai akan dunia mimpi. Jun melonggarkan pelukannya dan memandang wajah cantik kekasihnya, lalu mengecup ringan keningnya sebelum ia dengan perlahan beranjak dari ranjang.
Jun berlalu menuju kamar mandi dan membersihkan diri, ia akan mandi terlebih dulu dan kembali ke apartemennya nanti untuk berganti pakaian sebelum berangkat menuju kantor.
Setelah selesai, Jun kembali mengenakan pakaiannya kemarin dan menuju pantry minimalis Zeline. Setidaknya, ia akan membuatkan sarapan untuk kekasihnya sebelum ia tinggal tanpa sempat berpamitan.
Jun menulis sebuah memo kecil yang ia letakkan pada nampan yang berisi sarapan dan juga obat yang harus Zeline makan ketika ia bangun nantinya. Sebelum pergi, Jun kembali mengecup kening Zeline dan berpamitan dengan lirih, semoga ucapannya tersampaikan melewati mimpi yang kini tengah Zeline arungi.
"Aku berangkat bekerja sweet heart, jangan sakit lagi"
08.15 AM
Zeline membuka matanya perlahan saat merasakan sinar matahari yang menusuk netranya. Beberapa klai ia mengerjapkan matanya menyesuaikan banyaknya cahaya yang melewati netra miliknya. Zeline terduduk saat mengingat bahwa seharusnya ia terjaga, namun ia malah tertidur, dan lihatlah kini ia menatap kesamping arah nakas dan terdapat nampan berisikan sarapan untuknya, juga sebuah memo
"Makanlah sarapanmu, jangan lupakan obatmu! aku akan mengunjungimu lagi nanti setelah aku pulang dari kantor.. Love you sweet heart.. Your Charming Prince - Jun"
Zeline tersenyum manis, sungguh Jun adalah lelaki yang penuh dengan pesona juga sifat tak terduga.
__________
*Hai hai..
jangan lupa like dan segala ****-bengeknya ya gaiss
oke sekian, maaciww udah baca 🤤🤤🤤**
__ADS_1