
"Hati-hati saat meminumnya, jangan sampai tanganmu tergelincir dan kembali menyiram tubuhmu dengan air panas"
"Kau kira aku ceroboh sepertimu?"
"Bisa jadi"
"Aku ingin pulang, aku ingin mandi"
"Mandilah di sini, kau bisa menggunakan kamar mandi yang ada di kamarku"
"Bagaimana dengan baju? Tak nyaman menggunakan baju kerja seperti ini terus"
"Pakai saja bajuku"
"Apa kau gila? Yang benar saja!"
"Jika kau ingin mengenakan bajumu lagi silahkan, atau jika kau mau tak memakai apapun juga tak masalah" ucap Jun santai dengan sudut bibirnya yang terangkat ke samping.
"Dasar mesum!! Aku akan pulang!"
Saat Zeline memutuskan untuk bangkit dan berlalu, secara licik Jun berpura-pura merasa kesakitan dan mengibas-ngibaskan bajunya dan merintih kesakitan, seakan luka bakarnya semakin parah karena tertutup kaos putih miliknya.
Zeline yang mendengar rintihan Jun mau tak mau berbaik dan mulai khawatir, bagaimanapun dirinya lah yang membuat Jun menjadi seperti itu.
"Apa, mana? bagian mana yang sakit"
"Ssshhh sepertinya obat salep tadi sudah hilang dan harus kembali mengoleskannya" dusta Jun
"Itu pasti karena salepnya menempel pada kaosmu! buka saja kaosmu lalu oles lagi lukamu dengan salep, dimana salepnya?"
"Di kamar" rintih Jun.
Zeline bergegas mencarinya di kamar Jun, sedangkan Jun terkekeh geli melihat kekhawatiran gadis bar-bar itu. Jun melepas kaosnya dan melemparnya asal, dada Jun memang tak lagi terlihat Semerah saat pertama kali tersiram, namun masih saja tetap terlihat walaupun samar.
Sebenarnya obat salep itu sangatlah manjur, karena Jun sudah tak merasakan sakit atau nyeri lagi, hanya saja sedikit mengerjai gadis bar-bar itu tak masalah bukan.
Zeline kembali dengan membawa obat salepnya. Ketika netranya menangkap rona merah luka bakar pada dada Jun, dengan cekatan Zeline membuka tutup salep itu dan mulai mengoleskan salep itu pada dada Jun.
Jun menatap Zeline yang tepat berada di depannya. Tangan mungilnya yang mengoleskan salep. Sentuhan lembut, wajah cantiknya, netranya yang bersinar membuat Jun semakin ingin memperhatikannya.
Tubuhnya berfokus pada sentuhan lembut yang membuatnya tergoda, apalagi dengan harum lembut Zeline yang menyeruak langsung ke Indra penciuman, membuat Jun junior yang ada di bawah sana terbangun dari tidurnya.
Jun bukanlah lelaki munafik yang tak punya nafsu, di hadapannya kini ada seorang gadis cantik yang sangat menggoda, apalagi mereka hanya berdua di dalam apartemennya!
langit bahkan mulai menunjukkan eksistensi malam yang menggelora.
__ADS_1
Mata elangnya terus menatap dan mengamati setiap inci tubuh gadis di hadapannya, sentuhan itu membuatnya semakin gila!.
Wajahnya semakin mendekat ke arah bahu gadis cantik di depannya, wangi shampoo gadis itu bahkan masih tercium harum.
Zeline tertegun saat merasakan gelagat aneh Jun yang seakan mulai merapatkan diri dengannya, apalagi saat tanpa sengaja netra matanya menatap sesuatu yang mulai bangkit di antara sela kaki lelaki di hadapannya.
Dengan cepat Zeline memundurkan tubuhnya dan menatap mata Jun.
Dan dengan cepat, kedua tangan Jun merengkuhku Zeline untuk duduk dipangkuannya tepat di atas kedua pahanya. Tangannya bergerak meraih tengkuk Zeline dan melum*t bibir Zeline rakus. Sementara sebelah tangannya mulai mengelus paha mulus Zeline dan dengan pelan menyingkap rok mini Zeline agar semakin naik. Kedua kaki Jun mulai menekuk dan tubuhnya sedikit bersandar pada sofa di belakangnya, satu tangannya terus mengeratkan pelukannya pada punggung Zeline seakan tak ingin terpisah. tubuh mereka benar-benar menempel.
Zeline yang awalnya memberontak akhirnya pasrah, karena percuma saja, tenaganya jauh lebih kecil dibanding Jun. Tangannya mencengkram erat kedua pundak polos Jun.
Bibirnya sudah terasa bengkak, namun Jun belum juga mau melepaskan ciuman itu.
"Jun..nmmmm"
Zeline berusaha melepaskan ciumannya, namun sesaat saja ia melepaskan ciuman untuk menghirup oksigen, Jun kembali menciumnya.
Aahhhh'
Satu desahan lolos saat tangan nakal Jun meremas bongkahan pantat Zeline di balik rok yang masih ia kenakan.
Dengan berani, Jun mulai menyusup masuk ke dalam blouse Zeline, menyentuh langsung punggung mulus Zeline.
Zeline yang tenaganya seakan terkuras hanya bisa pasrah dan berharap ini cepat berakhir, bisa-bisanya dirinya terlena dengan ciuman lelaki menyebalkan ini.
Jun menatap wajah Zeline yang memerah dengan netra matanya yang menampakan hasrat. Jun tersenyum lalu menatap bibir Zeline yang membengkak, ibu jarinya terulur mengusap bibir Zeline, lalu mengecup bibirnya sekilas.
Jun mengangkat Zeline untuk beranjak dari pangkuannya dan mendudukkannya di sofa, lalu merapikan anak rambut Zeline kebelakang telinga.
"Tunggu disini sebentar, aku tak lama" ucapnya lembut dan berlalu meninggalkan Zeline yang masih diam tak bergeming.
Jun melangkah membuka pintu apartemen miliknya, ia sebenarnya kesal karena siapapun orang yang menekan tombol bel apartemen, telah mengganggu aktivitasnya. Aktivitas yang menyenangkan.
Jun membuka pintu apartemen miliknya yang masih bertelanjang dada, Jun mendengus kesal saat mendapati Alex dan Jared yang berada di depan pintu apartemennya.
"Untuk apa kau kemari?
"Pergilah" usir Jun kembali menutup pintunya.
Alex menahan pergerakan pintu itu dan menerobos masuk bersama Jared. Jun hanya mampu mengacak-acak rambutnya, dan menghela nafas berat.
Alex dan Jared berjalan tergesa menuju ruang tengah apartemen Jun, seperti akan memastikan sesuatu, sedangkan Jun masih setia dibelakang mereka.
"Apa yang kau lakukan disini!" hardik Alex pada Zeline dengan raut wajah marah.
__ADS_1
Tubuh Zeline seketika menegang, matanya menatap terkejut kearah kedua kakaknya.
Alex berbalik dan menatap nyalang pada Jun.
"Memang apa urusannya denganmu, dia disini atau tidak? dia disini karena ingin membantuku"
"Lalu ada apa dengan penampilanya yang berantakan? dan kau bertelanjang dada seperti itu?" hardik Alex
"Ka- Mr.Zack maaf , saya yang menyuruhnya bertelanjang dada karena harus mengoleskan obat salepnya. Penampilan saya yang seperti ini karena, sa-saya tadi tanpa sengaja tersandung dan terjatuh" dustanya
"Pulanglah, terimakasih telah merawat teman saya!" ucap Zack dengan nada ketus
"Jared, antarkan nona Zeline pulang"
Jun menatap Zeline yang mulai pergi meninggalkan apartemennya. lalu duduk dan bersandar pada sofa.
Alex berusaha meredam emosinya yang meluap setelah mengetahui adik kesayangannya yang terjebak dalam apartemen sahabatnya. Belum lagi menemukannya dengan penampilan yang berantakan!, Alex bukanlah lelaki polos yang tak mengerti apa yang telah sahabatnya perbuat pada adik kecilnya!. Ia marah, sungguh! Alex takut jika nantinya adiknya lah yang akan terluka.
"Ada yang ingin kau jelaskan?" tanya Alex dingin.
"Apa yang perlu ku jelaskan!"
Buugggg
satu kepalan tangan mendarat di sebelah bahu Jun. Jun meringis dan menendang Alex yang berada tak jauh di depannya.
Alex ikut terduduk dan menyandarkan kepalanya pada sofa.
"Jangan Jun, jika kau hanya mempermainkannya jangan mendekatinya! atau akan ku pastikan kau menyesal" ambigu Alex menoleh menatap Jun yang juga menatapnya.
***
"Apa yang dia lakukan padamu selama kau di apartemennya" selidik Jared, namun Zeline masih terus diam tak menanggapi pertanyaan Jared. Zeline lebih memilih menatap kosong keluar jendela dan menulikan pendengarannya.
'Bodoh!' seharusnya ia melawan saat dengan beraninya lelaki mesum itu mencium dan menggerayanginya!
Zeline terus merutuki dirinya hingga sampai di apartemen miliknya.
"Masuklah, kakak akan ketempatmu nanti"
Zeline mengangguk, lalu Jared mengecup singkat dahi Zeline, sebelum Zeline turun dari mobil dan melangkah pergi.
__________
**Jangan lupa like ya gaes , vote ❤️
__ADS_1
Makasih Ya semuanya yang udah kasih suport dengan bentuk apapun... aku padamu
jaga kesehatan ya semua ❤️❤️**