
Zeline mengerjapkan matanya beberapa kali sembari menyesuaikan cahaya yang menusuk tajam pada kornea matanya. Bau disenfektan yang menyengat serta aroma pahit dari obat-obatan turut menyapa Indra penciumannya.
"Kau sudah sadar"
Zeline menoleh pelan pada asal suara yang menyapa Indra pendengarannya. Zeline tersenyum tipis.
"Aku haus, tolong ambilkan aku segelas air" pinta Zeline.
"Tunggu sebentar, aku lupa membelinya, aku segera kembali"
Zeline mengangguk lirih, menghela nafas berat. Matanya mengerjap beberapa kali menatap plafon putih rumah sakit.
Dan akhirnya ia tumbang juga, ini salahnya karena terlalu memforsir diri dan tak mempedulikan kesehatan sendiri. Ia sungguh benci aroma rumah sakit.
"Sayang!" pekik suara yang sangat Zeline kenal. Dengan refleks Zeline pun menolehkan kepalanya ke arah suara, dan mendapati sang daddy yang terlihat mengatur nafas yang tersengal. Bisa Zeline tebak, bahwa sang daddy pasti berlari menuju kemari. Tak lama kemudian muncul pula ketiga lelaki posesifnya, siapa lagi jika bukan Mom, Kak Alex dan Jared.
Saat mengetahui sang putri semata wayangnya jatuh pingsan dan dilarikan ke Rumah Sakit, tanpa pikir panjang Robert menghubungi sang istri dan kedua putranya untuk segera menuju Rumah Sakit dimana putri kecilnya dirawat. Robert merasa risau bahkan sejak mengetahui putrinya tak enak badan, namun kerisauannya berujung pada kecemasan berlebih berkat kabar pingsannya sang putri.
'Seharusnya ia yang mendampingi langsung sang putri untuk menemui dokter! bukan meminta sekretarisnya itu, ah tidak, bukan! tetapi kekasih! ya kekasih dari putrinya'
Robert terus saja merapalkan kalimat itu seperti membaca mantra.
Walaupun ia terkesan menjadi orangtua yang tak banyak respon dan cuek namun Robert jugalah orangtua! Seorang Dad dari putri cantiknya, putri semata wayangnya. Saat mengetahui bahwa anaknya sakit, pastilah ia khawatir.
"Honey, kau tak apa? bagian mana yang terasa sakit? bagaimana perasaanmu? apa kau mual? apa kepalamu terasa pusing? kau kedinginan? apa? kau ingin sesuatu?" cerocos sang daddy bak kereta melintas yang tak dapat ia sela. Sembari sebelah tangannya mengusap dahi Zeline dan sebelahnya lagi menggenggam tangannya.
"Dad!"
"Iya, mana yang sakit"
"Zeze tak apa dad. Ze hanya ingin minum, Jun sedang membelikannya" lirih Zeline dengan bibir dan raut wajah pucat nya.
"Ini pasti karena kau terlalu kelelahan, jangan terlalu sering lembur Ze, kakak tau kau sering lembur!" tegur Alex
"Lihatlah tubuhmu yang kurus seperti mayat hidup! tak ada bagus-bagusnya" cibir Jared
Zeline mencebikkan bibirnya dan memejamkan matanya sejenak, lalu merasakan sapuan lembut di dahinya. Dan ketika ia membuka matanya terlihat sang mommy yang duduk di sisi brankar dan menatapnya sendu.
"Mom tau, Zeze bukan anak yang lemah, tetapi harus Ze tau, bahwa tak seharusnya kamu memaksakan tubuhmu sendiri"
"Iya mo..
"Ah, maaf, apakah saya mengganggu"
Suara bariton itu menginterupsi kelima orang di sisi brankar
"Oh, Jun! kemarilah" sapa Clare tersenyum. Jun mengangguk dan berjalan mendekat kearah Zeline sesaat setelah Clare memberikan ruang pada Jun untuk mendekat pada putrinya.
"Duduklah, kau harus minum obatmu" ucap Jun meletakkan botol air mineral dan membantu Zeline untuk duduk, tangannya meraih botol air mineral dan membuka tutupnya, lalu menyodorkan pada bibir Zeline, menginterupsi untuk segera meminumnya.
__ADS_1
Tak lupa Jun juga ikut menyerahkan beberapa biji obat yang harus Zeline minum.
"Kau bisa minum obat bukan?" tanya Jun memastikan
"Tentu bisa! kau kira aku ini anak kecil" gerutu Zeline dengan suara yang masih lirih dan serak.
"Terimakasih banyak Jun" ucap Mrs.Clare
"Maaf' terimakasih untuk apa Mrs.Clare"
"Terimakasih karena telah membawa dan menemani Zeline di sini"
"Anda terlalu berlebihan Mrs. Ini juga adalah tanggung jawab saya sebagai kekasih Zeline"
Terang Jun tersenyum tipis sebelum kembali mengutarakan pertanyaan yang terus ia pendam.
"Sebelumnya maaf jika saya terkesan tak sopan Mrs.Clare` sebenarnya apa hubungan anda dengan kekasih saya Zeline?"
Mendadak ruang itu menjadi hening, dan raut wajah semua orangpun menjadi datar. Mereka menjadi bisu dengan pertanyaan yang Jun lontarkan. Sesaat Jun mengernyitkan dahi heran dengan respon semua orang. Namun Jun kembali menepiskan pikiran yang tak perlu ia pikirkan.
Jun masih tetap menatap Clare dalam diam, dan tak lama pun akhirnya Clare tersenyum dan mengulurkan tangannya mengusap puncak kepala Jun.
"Aku ingin memberitahu mu, tetapi sepertinya itu bukanlah hak ku untuk memberitahumu"
"Sayang!" ucap Robert kesal
"Jangan menyentuh lelaki lain seperti itu!" ucap Robert tak terima dengan apa yang istrinya itu telah lakukan.
"Kau itu ada-ada saja!"
Clare tersenyum dan beranjak, lalu menggenggam tangan Jun
"Tolong jaga Zeline dengan baik, aku percayakan dia padamu. Ku beri kalian ruang untuk mengobrol"
Jun mengangguk patuh, Clare pun beralih pada putri kecilnya dan mengusap lembut pipinya.
"Bicarakan dengan baik-baik, langsung beri kabar pada kami jika terjadi sesuatu, kami akan pulang terlebih dahulu"
Zeline mengangguk dan melambaikan tangannya sesaat setelah mereka berlalu meninggalkan Zeline dan Jun berdua.
Zeline melirikan matanya hati-hati pada Jun, lalu mengalihkan pandangannya saat menangkap Jun yang juga tengah menatapnya.
"Jadi, bisakah kau menjelaskannya padaku?"
"Aku ragu untuk mengatakannya padamu, aku hanya takut jika aku memberitahukannya padamu, kau akan menjauhiku" jelas Zeline dengan wajah tertunduk lesu
Jun mendudukkan dirinya tepat di samping Zeline dan meraih wajah Zeline dengan kedua tangannya di kedua sisi.
"Hey, tatap mataku, aku tak akan meninggalkanmu apapun yang terjadi, percayalah padaku"
__ADS_1
"Aku tetap belum mau mengatakannya, aku hanya masih ingin seperti ini saja, bisakah?" tanya Zeline dengan tatapan memohon.
"Aku tau kamu bukanlah orang yang tak paham, ku yakin kau pasti tau, tetapi biarlah seperti ini" lanjutnya dengan menelusupkan tubuhnya untuk lebih mendekatkan pada Jun dan memeluknya erat.
Jun menghela nafas berat dan tersenyum tipis, tangannya balas memeluk erat tubuh kekasihnya yang masih terasa hangat.
"Baiklah, tetapi berjanjilah padaku untuk cepat sembuh, dan perbanyaklah makan! aku tak suka mempunyai kekasih yang kurus"
Zeline terkekeh geli lalu mendongakkan kepalanya menatap wajah Jun yang masih memeluknya erat.
Jun balik menatap Zeline dan mengecup bibir Zeline singkat.
"Aku akan menyuapimu makan, aku membelikanmu bubur tadi"
Jun melepaskan pelukannya dan meraih bubur yang ia beli lalu menyuapkannya pada Zeline
"Makanlah, buka mulutmu, setelah ini akan ku panggilkan dokter untuk memeriksa mu"
***
Jun memdudukan dirinya pada sofa di ruang tengah apartemen Zeline dan diikuti dengan Zeline yang dengan tiba-tiba berbaring dengan menjadikan pada Jun sebagai bantalan.
Setelah dokter memperbolehkan Zeline untuk rawat jalan karena Zeline juga yang tak menyukai Rumah Sakit pun akhirnya pulang dengan ditemani oleh Jun.
Selama di perjalanan, Zeline pun mengirimkan pesan pada kakak dan sang daddy bahwa ia telah pulang dan memiliki kembali ke apartemennya.
"Tidurlah di kamar, kenapa disini" tegur Jun
"Temani aku, jangan pulang"
"Tentu, sekarang cepatlah berganti baju dan segera tidur, aku ada di sini, panggil saja aku jika kau butuh sesuatu"
Zeline bangkit dari posisinya, mengangguk dan berlalu meninggalkan Jun. Setelah membersihkan dirinya dan berganti baju tidur panjang. Zeline segera membaringkan tubuhnya pada ranjangnya, namun karena merasa tak nyaman Zeline beranjak dan mendekat ke arah pintu.
"Jun!" panggil Zeline saat melihat Jun yang menyandarkan kepalanya pada bantalan sofa.
"Kau butuh sesuatu?" tanya Jun yang dijawab anggukan oleh Zeline
"Bisakah kau menemaniku tidur di kamarku?"
__________
**Yuhu.. maap baru update. hehe
Jangan lupa Like,komen dll ya gaes...
Makasih buat yang udah baca , like, vote, komen dan lain-lain
Lop yu pul 😥😁🥰**
__ADS_1