
Dan lagi, dia memang salah karena mengabaikan peringatan awal untuk tak mendekati para most wanted. Namun bagi Zeline memang apa salahnya?
Bukankah menjalin suatu hubungan bukan kesalahan? apalagi mereka sama-sama sedang tak menjalin hubungan dengan orang lain.
Semakin meluasnya berita kencan antara dirinya dengan Jun menyebar, semakin secara terang-terangan pula para karyawan yang tak menyukainya membencinya.
Namun tak sedikit pula yang mendukungnya dengan tulus, lagi pula, mau di lihat dari segi manapun, mereka memanglah pasangan yang serasi dari segi penampilan.
Namun, berita kencan itu seakan menjadi titik awal dimulainya rumor buruk tentang Zeline yang berhembus kencang.
Seakan mimpi buruk kembali menerpanya. Zeline hanya mampu pura-pura tak mendengar apapun dan memilih acuh dengan seluruh cemooh yang mengarah padanya. Apalagi dengan beredarnya fotonya yang tengah memeluk Alex saat di basement semakin memperburuk situasi.
Alex sendiri menjadi pusing dengan masalah ini, bagaimana tidak. Bahkan Jun sempat curiga padanya karena masalah ini, namun entah kenapa akhirnya Jun memilih tak ambil pusing, dan Alex sungguh merasa bersyukur karena tak perlu lagi membuat satu kebohongan yang akan menambah daftar kebohongannya.
"Kau sungguh tak marah padaku karena.. emm... memeluk kekasih..mu?" tanya Alex berhati-hati
"Sudahlah tak perlu kau bahas, lagipula kau sendiri yang mengatakan bahwa kau tak memiliki hubungan khusus dengannya, juga ku lihat dia dekat dengan orangtuamu"
"Kau mencurigai ku?"
"Apa?"
"Perkataanmu seolah mencurigai ku dengan ungkapan orangtuaku dekat dengannya, seolah kami ini dekat karena memang memiliki affair.. ya kau tau maksud kata affair yang ini"
"Responmu terlalu berlebih, kau semakin membuatku curiga!" selidik Jun menyipitkan matanya
"Berhentilah menatapku seperti itu!" ucap Alex melempar bantal sofa yang mengenai wajah tampan Jun.
Jun tersenyum samar mulai bangkit dari duduknya, memilih beranjak dari tempatnya berdiri dan berjalan perlahan mendekat ke arah kaca besar yang terpasang hampir di sebagian luas sisi dinding yang menghadap perkotaan. Ingatannya kembali mengorek masa lalu, dimana seorang bocah lelaki berusia 6 tahun dengan gembira berjalan menggenggam tali yang mengikat sebuah balon bertuliskan happy birthday bersama wanita cantik yang terus memandanginya dengan sayang.
Ia merindukan sosok wanita cantik itu. Ia sungguh merindukannya, sangat.
"Apa yang kau pikirkan"
"Wanita tercantik dalam hidupku"
"Ingin ku temani untuk mengunjunginya?" tawar Alex yang dijawab dengan gelengan tolakan dari Jun sahabatnya.
***
Zeline mengernyitkan dahinya heran saat ia membaca pesan singkat yang masuk ke ponselnya entah siapa pengirimnya. Dan entah ke sekian kali dirinya mendapatkan pesan-pesan yang berisikan ancaman-ancaman singkat pada ponselnya. Namun Zeline lebih memilih mengacuhkannya.
Pikirannya terasa lelah, ia merasa semakin lama, semakin ia mencapai puncak kesepakatan dengan Daddy-nya masalah semakin bermunculan.
Zeline bahkan mulai terbiasa melihat kubikel mejanya yang berantakan dan mendapati laporan-laporan yang baru saja ia kerjakan menjadi hilang,rusak,sobek bahkan hingga file dalam komputernya yang mendadak hilang tak berjejak. Untung saja ia menjadi lebih antisipasi dengan selalu membawa flashdisk dan mencopy seluruh pekerjaannya. Dan kini, bertambah dengan pesan-pesan ancaman yang telah ia dapat sekitar 2 bulan yang lalu, semenjak dirinya dekat dengan Jun.
Pesan ancaman itu selalu sama, menyuruhnya untuk meninggalkan dan menjauh dari 'Jun' entah apa sebenarnya yang orang itu pikirkan dengan menyuruhnya menjauh dari Jun yang sekarang notabennya adalah kekasih Zeline.
Siapa?
__ADS_1
Sebenarnya siapa yang mengancamnya?
Apakah itu Misya?
Apa kubikel mejanya yang berantakan dan berkas-berkas yang rusak hilang juga ulahnya?
Misya memang pernah mengancamnya bahkan dengan kekerasan.
Ancamannya waktu itu sungguh tak main-main.
Zeline memijat pelipisnya dan menghembuskan nafas berat, badannya sungguh terasa letih, sejak semalam ia merasakan tak enak badan. Namun pagi tadi ia memaksakan diri untuk berangkat.
"Lebih baik aku izin untuk pulang lebih awal" gumam Zeline mengemasi barang-barangnya dan merapikan kubikel mejanya.
*Message
"Love.. aku akan pulang lebih awal, aku merasa tak enak badan, maaf tak bisa menemanimu berbelanja, padahal aku sudah berjanji"
.....
"Tak apa, tak perlu khawatir kan aku, apa perlu ku antar kau pulang?"
"Tak perlu, thanks Love"
"Oke, Take Care Ze, Get well soon*"
***
Zeline menyandarkan kepalanya pada dinding lift yang seakan ikut menopang tubuhnya yang terasa lemas.
Saat lift berdenting dan menampakan angka satu Zeline mengangkat kepalanya dan bersiap untuk keluar dari lift sesaat pintu lift terbuka, namun saat dirinya akan keluar dari lift nampak sang Daddy dan Jun yang tengah berjalan menuju ke arah lift.
Zeline tersenyum dan menyapa formal sang Daddy sekilas.
"Kenapa wajahmu terlihat sangat pucat, apakah kamu sakit?" tanya Robert yang terlihat sedikit cemas.
Zeline menundukkan kepalanya singkat lalu menatap sang Daddy.
"Saya hanya sedikit tak enak badan Mr.Robert, saya izin untuk pulang lebih awal"
Robert mendekat dan menyentuh dahi Zeline dengan punggung tangannya.
"Badanmu terasa panas, lebih baik untukmu segera pergi menemui dokter, Jun tolong antarkan nona Zeline bertemu dokter dan setelah itu antarkan dia untuk pulang"
Jun yang sedari tadi memilih diam tak bergeming dan hanya menatap cemas pada kekasihnya akhirnya buka suara.
"Mr.Robert pe...
"Antarkan saja nona Zeline Jun. Aku akan pulang setelah ini, pekerjaanmu selesaikan saja besok, tak perlu kembali kekantor lagi" potong Robert menyela ucapan Jun dengan nada tak ingin di bantah.
__ADS_1
"Baik Mr.Robert"
"Cepat pergilah, semoga lekas sembuh" ucap Robert sembari berlalu memasuki lift.
Jun merangkul Zeline mengajaknya pergi berlalu menuju basement, dengan sesekali menatap kearah kekasihnya yang memilih diam dengan wajah lesu.
"Kau kuat untuk berjalan?
"Apa perlu ku gendong kau menuju basement?" ucap Jun khawatir karena beberapa kali Zeline terlihat seperti akan pingsan.
Zeline menatap sekilas Jun dan menggelengkan kepalanya, memilih untuk balik merangkul Jun dan bersandar pada lengannya.
"Tak perlu, seperti ini saja"
Namun baru beberapa langkah mereka berjalan, Zeline jatuh pingsan.
Jun menghembuskan nafas lega karena setidaknya kekasihnya tak sampai jatuh ketanah karena dirinya dengan sigap menopang tubuhnya.
Dengan cepat Jun membopong dan membawa Zeline menuju mobilnya dan menidurkannya pada jog mobil. Sesekali Jun menepuk pipi Zeline untuk meraih kesadaran kekasihnya itu. Namun hanya gumaman tak jelas yang menjadi respon.
"Jangan membuatku cemas Ze" gumam Jun yang mengendarai mobilnya cepat menuju rumah sakit terdekat.
***
"Anda tak perlu cemas tuan, nona Zeline hanya kelelahan, panasnya akan segera turun. Untuk sementara waktu, nona Zeline perlu istirahat total dan untuk tidak terlalu stress"
"Baik dokter"
"Ini resep dari saya, dan setelah nona bangun tolong untuk segera di minum, saya permisi"
"Baik, terimakasih Dok"
Jun mendekat kearah brankar dimana kekasihnya masih memejamkan matanya dengan lelap. Jun mendudukkan dirinya pada pinggir brankar dan memandang wajah kekasihnya yang terlihat pucat. Tangannya terulur mengusap pipi Zeline dan merapikan beberapa anak rambut Zeline yang berantakan.
"Cepatlah bangun dan sembuh, jangan membuatku khawatir seperti ini Ze"
__________
**Halo semua ðŸ¤
maapin Author ya, baru up setelah seminggu? ga update..
Author bener-bener ga bisa update karena masalah kesehatan 😠hiks.. lebay 🙄
Oke jadi Author akan mulai update lagi mulai hari ini, jadi buat kalian yang masih setia nunggu ya... ditunggu kelanjutannya ya cinta..
lop yu semua 😘
jangan lupa like dan segala *****-bengeknya 😆
__ADS_1
bye bye..
salam cinta author tukang PHP**