
"Katakan padaku, bagaimana awal mulanya" tanya Alex sedikit malas. Namun sama sekali tak ada yang mau menjawab pertanyaannya.
"Kau pasti ingin menggoda temanku bukan?" tanya Jun menatap Zeline sinis dan mencemooh. Zeline mengepalkan tangannya dan terkekeh remeh "Not your business!" hardik Zeline yang bangkit dari duduknya dan melangkah pergi meninggalkan Jun dan Alex yang masih diam tak berkutik.
Alex yang melihat adik kesayangannya marah dan melangkah pergi dengan emosi menjadi bingung dan segera bangkit menyusulnya, namun dengan segera Jun menahan lengan Alex "biarkan dia pergi" acuh Jun memilih menikmati makanannya. Alex menatap Jun lalu kembali terduduk, ia harus mengikuti sandiwara atasan dan bawahan ini, sungguh merepotkan. Alex pun mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan singkat pada Zeline untuk menunggunya selesai sarapan dan pulang bersama, namun Zeline berkata bahwa dirinya kini telah memesan taksi untuk pulang dan berpesan pada Alex untuk mengajari temannya itu lebih bersikap lembut terhadap wanita. Alex yang membacanya pun terkekeh lalu mengantongi badannya dan menatap Jun .
"Tak seperti biasanya kau menanggapi wanita hingga seperti itu" selidik Alex melipat kedua tangannya di depan dada dengan bersandar.
"Tak ada yang berbeda, semua sama"
"Kau sungguh berbeda untuk hari ini, tak biasanya kau banyak berbicara, dan ... kau bahkan merespon segala sikap dan ocehan Zeline"
"Oh, jadi namanya Zeline, untuk apa dia berada di sini bersamamu? bukankah kau.. bagaimana dengan guru itu?" tanya balik Jun
Alex mendengus "mereka dua hal yang berbeda, tanpa sengaja aku bertemu dengan Zeline disini dan mengajaknya sarapan bersama. Dan untuk Eve, tentu saja dia masih menjadi prioritasku" dustanya 'walaupun Zeline juga prioritas utamaku' lanjut Alex dalam hati
"Bagaimana kau bisa mengenalnya, dia hanya karyawan magang bukan"
Alex menyeringai mendengar ucapan sahabatnya itu.
"Bukankah dia terlalu cantik untuk di abaikan? bahkan para karyawan tak henti membicarakan kecantikan juga sikap baiknya"
"Hanya seorang wanita bar-bar" ucap Jun mendengus remeh
"Hmm, benarkah? aku tak yakin, bukankah dia wanita cantik yang menggemaskan"
"Aku bahkan tak yakin dirinya cantik. biasa saja!" elak Jun
"Baiklah, ku harap kau tak akan jatuh cinta padanya, karena jika itu terjadi aku berharap menjadi orang pertama yang akan menghadiahimu dengan hukuman"
"Never!!" ucap Jun ketus
***
Zeline terus saja mengomel tidak jelas di dalam taksi hingga membuat supir taxi mengernyitkan dahinya heran. Zeline sungguh berbicara dan kesal sendiri di kursi penumpang hingga sampai di depan gedung apartemen nya sampai-sampai sopir taksi tak berani menegur atau hanya untuk berkata-kata sepatah kata pun. Zeline yang menyadari bahwa taksi yang ia tumpangi berhenti lantas menengok ke arah sang sopir yang juga sedang menatapnya.
__ADS_1
"Kenapa anda tidak bilang jika sudah sampai" ucap Zelin ketus.
Belum sempat sang sopir berbicara zalim menyodorkan uang dan berkata
"Ambil saja kembaliannya" dan berlalu meninggalkan mobil, namun belum jauh Zeline melangkah pergi, suara berat menginterupsi nya
"nona... nona!! berhenti" ucap sang sopir taksi yang ber lalu menghampirinya
"Apa lagi? Ambil saja kembaliannya" ucapnya yang akan segera kembali melangkah namun dicekal sang sopir taksi.
"Kembalian dari mana nona? uang Anda bahkan kurang" ucap sang sopir sembari memperlihatkan uang yang dibentangkan nya tepat di depan wajahnya cantiknya.
Zeline yang melihatnya terkejut dan mengusir rasa malu yang datang dan segera mengambil kembali uang yang benar dalam dompetnya.
"Maaf, ambil saja semua" ucap Zeline menyodorkan uangnya namun sang sopir menahan tangan Zeline dan memberikannya uang kembalian.
"Tak usah berkata seperti itu nona, saya tahu anda sedang kekurangan uang dan ingin menipu saya dengan membayar nominal yang kurang. saya juga sedang kekurangan uang namun saya selalu jujur dan tak ingin menipu siapapun, terima kasih sudah membayar dengan benar, saya permisi" ucap panjang lebar sang sopir taksi dan pergi meninggalkan Zeline yang mematung di tempatnya.
Zeline menyunggingkan bibirnya sinis dan tertawa terbahak-bahak tanpa memperdulikan sekitar.
Hancur sudah mood-nya hari ini karena sekretaris di daddy-nya itu.
'Jun' iya nama itu. Tidak yang benar adalah pria sialan!. Maki Zeline terus-menerus selama perjalanan menuju lantai apartemennya.
Zeline merebahkan tubuhnya di atas sofa dan berusaha mengembalikan mood nya. Ia menatap langit-langit apartemen dengan tatapan kosong, lalu terlintas diotaknya tentang fakta bahwa pria itu adalah sahabat kakaknya sedari kecil, tetapi kenapa kakaknya sama sekali tak pernah mengenalkannya. Aneh. "Aku tak perduli" gumamnya pada dirinya sendiri dan menggerak-gerakkan tangannya seakan dapat menghalau pikirannya.
***
"Kau tertarik dengan wanita bar-bar itu?" tanya Jun di sela heningnya langkah mereka menuju tempat parkir
"What do you say?" Dahinya mengernyit heran dengan pertanyaan Jun
"Sikapmu seakan berbeda dengannya. Aku bahkan pernah tak sengaja melihatmu memperhatikannya saat berada di kantin waktu lalu, dan sekarang sarapan bersama?" desak Jun menuntut jawaban pasti
Alex memijat pelipisnya lalu menyentuh sebelah pundak Jun. "Jangan percaya dengan semua dugaan yang ada di benakmu, ini tak seperti yang kau pikirkan, akan ada waktunya kau tau. Yang pasti, hatiku hanya milik Eve" Alex menepuk pundak Jun dan memilih berlalu meninggalkan Jun yang masih setia berdiri disamping Ferrari LaFerrari miliknya.
__ADS_1
09.15 AM - FFC
Jared melangkah melalui Emma yang terus saja menatapnya hingga memasuki ruang Alex dan menghilang di balik pintu.
Jared Chayton - 22 y.o
Tangan kanan sekaligus orang kepercayaan juga adik bagi Alex. Jared adalah anak yang Alex selamatkan dari sindikat perbudakan saat dirinya tengah berada di San Diego 7 tahun lalu.
Jared anak yatim piatu yang dijadikan budak oleh seorang mafia karena hutang kedua orang tuanya yang tak dapat ia bayar setelah kedua orang tua dan adiknya meninggal dalam kecelakaan lalu lintas. Pada saat umur Jared menginjak 14 tahun kedua orang tuanya terlilit hutang untuk menopang perusahaan yang bangkrut., namun naas usaha kedua orang tuanya mempertahankan perusahaan ternyata sia-sia karena ada penghianat yang sengaja membuat perusahaan orang tuanya bangkrut. Seluruh aset keluarganya habis tak bersisa, hanya meninggalkan hutang besar yang tak mampu ia bayar. Belum cukup, bahkan dirinya ditinggal sebatang kara tanpa seorang pun yang membantunya bahkan sanak saudara pun dirinya tak punya.
Tak tahan dengan siksaan dari para mafia itu. Jared memilih kabur dengan sekujur tubuh penuh lebam dan luka.
Dirinya berlari menahan rasa sakit dan nyeri pada kaki dan seluruh tubuhnya yang terasa remuk akibat pukulan dan siksaan yang selalu ia dapatkan. Di saat itulah ia bertemu dengan Alex dan meminta pertolongan pada Alex. Alex pun membawa Jared kembali ke New York.
Setelah menjalani perawatan dan pemulihan selama di New York, Alex berencana menyekolahkan Jared kembali dengan bantuan Robert dan Clare yang juga senantiasa memberikan semangat serta kasih sayang pada Jared yang harus menderita di usianya yang masih muda.
Jared yang awalnya menolak untuk kembali bersekolah karena takut membebani akhirnya pasrah oleh desakkan Clare.
Jared bersekolah di mana tempat Zeline sekolah. Jared anak yang cerdas, tak berbeda dengan Zeline. Namun saat Zeline memutuskan untuk berkuliah di Cambridge. Jared lebih memilih berkuliah di new York dan mulai tinggal di apartemen miliknya sendiri hadiah dari Robert.
Jared merasa ia terlalu membebani keluarga Findley dan banyak berhutang budi, namun seluruh anggota keluarga Findley selalu berkata bahwa Jared juga bagian dari keluarga Findley karena bagi Robert juga Clare, dirinya adalah anak kedua mereka, adik bagi Alex dan kakak bagi Zeline
__________
Terimakasih sudah membaca ❤️
jangan lupa tinggalkan jejak jika kalian suka, cukup klik like, fav, komen, rating 5 dan vote 😚
like dan komen kalian sungguh bikin aku terharu dan bikin aku semangat nulis.. 🥰
dan jika kalian berkenan silahkan mampir di ceritaku yang lain ...
'Endless love' & 'Jadi, dia atau siapa'
tengkyuuu
__ADS_1
bye bye..