
Mansion - 08.25 PM
"Bagaimana kencanmu semalam" tanya sang Daddy memulai percakapan di sela waktu menonton bersama keluarga di ruang tengah.
"Dad..." kesal Zeline memanyunkan bibirnya
"Jadi kau benar-benar pergi berkencan?" pekik Jared tak percaya
"Ze pergi berkencan dengan siapa Paman?" tanya Jared dengan tak sabar. Sedangkan Alex hanya diam dan mendengarkan.
"Dengan si Jun" ucap Clare menyambung obrolan sembari membawa sepiring kukis yang baru selesai ia panggang.
"Ha!!" pekik Alex dan Jared bersamaan
"Mom!"
"Kenapa? apa ucapan mom salah?"
"Mom.. please...jangan mengungkitnya"
"Kenapa tak boleh mengungkitnya?" selidik Alex
"Oh! ayolah kak! that is privacy!"
"Jadi sekarang, putri kecil Dad sudah mulai mempunyai batasan privacy dengan keluarga?"
"Oh C'mon dad! jangan memperumit! , hidupku setelan dad buang bahkan juga sudah rumit.. hiks!" ucap Zeline memelas dengan tangis palsu
'Aaaaa..'
"Jangan mencubit! itu sakit! menyebalkan!" kesal Zeline membuang muka pada Jared yang baru saja mencubit lengannya.
"Dasar ratu drama"
"Jika Dad membuangmu, tak mungkin Dad memberimu fasilitas sebanyak itu! Jika aku jadi Dad aku pasti sudah membuatmu bekerja menjadi peternak ayam di desa! dan mengurus kotoran ayam!" sahut Alex
"Hmm, betul apa yang kakakmu katakan, apa perlu, Dad mengirimmu ke tempat sepupu grandpa?"
"Daaaaaaadd! No! Big No!" tolak Zeline dengan ekspresi tak percaya.
"Mom!...." panggil Zeline meminta pertolongan
Clare tersenyum dan terkekeh geli.
"Berhentilah menggodanya, kalian ini!" tegurnya pada suami juga kedua putranya.
"Jadi, semalam pergi kemana saja kalian berdua?" tanyanya
"Ummm, hanya pergi ke Chelsea market untuk membeli sup lobster, lalu membeli pizza dan mengobrol di Brooklyn Bridge. Dan setelah itu dia mengantarkan ku pulang ke apartemen" cerita Zeline dengan leluasa
"Jam berapa kau sampai di apartemen?" tanya Alex
"Sekitar pukul setengah dua belas" senyum canggung menghias wajahnya tiba-tiba. Sungguh! selama ini dirinya tak pernah pulang melewati pukul sepuluh malam, bahkan waktu kuliah dulu, Dad membuat Zeline tinggal di asrama dengan pengawasan ketat.
Semua mata menatap ke arah Zeline dengan tatapan mengerikan. Zeline semakin merasa kikuk dan canggung.
"Oh ayolah, umurku bahkan sudah akan memasuki 22 tahun! bahkan kak Alex dan Jared saja terlalu sering pulang pagi tapi tak pernah mendapat Omelan" gerutu Zeline memanyunkan bibirnya dan memandang kearah jari tangannya yang terlihat bermain-main.
__ADS_1
"Di mata Dad dan kakak-kakak mu, kamu ini masih gadis kecil, sampai kapanpun kamu ini satu-satunya gadis kecil keluarga Findley" Ucap Robert menangkup kedua sisi pipi Zeline.
Zeline memanyunkan bibirnya menatap sang daddy, lalu tangannya terangkat dan mencubit pipi Robert.
"Dad, Ze itu sudah bukan lagi gadis kecil! , Sekarang Ze itu sudah menjadi wanita karir" ucapnya membanggakan diri.
"Begitu? jika seperti itu mulai sekarang, dad akan mulai berhenti mengirimkan uang bulanan padamu" ucapnya beranjak menggandeng sang istri untuk segera pergi menuju kamar mereka.
Zeline menganga tak percaya dengan ucapan sang Daddy, sedangkan Alex dan Jun tertawa keras mendengarnya.
Zeline menatap tajam kedua kakaknya
"Kalian sungguh menyebalkan!"
07.30 AM
Para pegawai di lobi tampak ramai dan riuh saat Lucy sang model yang tengah naik daun itu tengah duduk di sofa lobi dengan sang manager.
"Ayolah Lucy, kita harus segera naik! Direktur telah menunggu!" keluh sang manager
"Tunggu sebentar! aku sedang menunggu teman-teman ku... oh itu mereka!" pekik Lucy bersemangat menghampiri Velove dan Zeline yang baru saja memasuki pintu lobi.
"Lucccyyyyy..!" pekik Zeline tak kalah bersemangatnya.
Mereka berlari kecil lalu mulai saling memeluk erat. Sedangkan Velove tersenyum sembari menatap jengah interaksi kedua sahabatnya itu, mereka sungguh sama-sama heboh!
"Oh astaga! aku sungguh merindukanmu Ze!" ucap Lucy merenggangkan pelukannya.
"Aku bahkan lebih merindukanmu! oh sebelum itu. .. Kenapa kau tak memberitahuku tentang kontrak kerjamu dengan perusahaan ini!" kesal Zeline
"Surprise!" ucapan terkekeh
"Permisi, nona Lucy, anda sudah di tunggu oleh direktur sedari tadi!" sela sang manager
Lucy memutar bola matanya jengah
"Baiklah.. sebentar..
....
"Kita harus makan siang bersama nanti" ucap Lucy pada Zeline dan Velove
"Okey!!" ucap Zeline dan Velove kompak
Lucy tersenyum dan melambaikan tangan menjauh menuju lift khusus. Sedangkan Zeline dan Velove masih berdiri di sudut lobi.
"Bukankah menurutmu manager Lucy yang sekarang terlalu banyak bicara ...
"Dan menyebalkan" ucap Velove dan Zeline bersamaan. Mereka terkekeh geli dengan pemikiran mereka yang seirama.
***
"Hai kak" sapa Lucy sesaat setelah dirinya membuka pintu ruangan Alex lebar-lebar.
Alex yang tengah mengobrol dengan Jun dan Jared pun menoleh kearah suara. Alex mengernyitkan dahi, masalahnya tak ada pesan suara masuk lewat interkom. Alex pun menatap wajah cantik yang tak asing di depan pintu lalu tersenyum.
"Hai Lucy! akhirnya kau datang juga!"
__ADS_1
"Bagaimana kabar kakak? wah.. lama tak bertemu, sepertinya kakak semakin tampan saja!" senyumnya lebar
Alex terkekeh mendekat ke arah Lucy lalu merangkulnya untuk ikut duduk di sofa.
"Hai juga kau pria jadi-jadian" ledek Lucy pada Jared
"Diam kau dasar wanita gila!" balas Jared
"Dasar pria jadi-jadian!"
"Kau!!" hardik Jared
"Hey kalian! , berhentilah ribut" tegur Alex
Lucy menipiskan bibirnya lalu membuang pandangannya. Di saat itulah ia mulai memperhatikan seorang yang memang ada di sini sejak awal.
'Siapa dia? apa dia juga salah seorang pegawai di sini? kenapa dia tampan sekali!' monolognya dalam hati sembari terus menatap wajah tampan Jun.
Lucy menatap Alex sekilas meminta untuk diperkenalkan.
"Kenalkan, Lucy.. dia Jun, dia sekertaris Mr.Robert.
"Dan Jun, perkenalkan dia Lucy, model yang akan menandatangani kontrak dengan perusahaan kita kali ini"
"Hai, Lucy .. senang berkenalan denganmu!" ucap Lucy mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
Jun menatap tangan yang terulur meminta balasan sambutan perkenalkan, namun sayangnya, Jun hanya menatapnya sekilas tanpa mau membalas uluran tangan Lucy.
"Aku pergi dulu" ucapnya dingin melewati Lucy yang masih mengulurkan tangannya.
Alex hanya mampu menepuk jidatnya. Sedangkan Jared memilih acuh tak perduli.
"Maafkan dia Lucy, dia memang seperti itu"
Lucy menarik tangannya dan mencebikkan bibirnya kesal.
"Dia menyebalkan" ucap Lucy yang beranjak dari posisinya dan memilih duduk di sebelah Jared.
"Jangan dekat-dekat denganku dasar wanita gila!" provokator Jared
"Kau juga sama saja!"
"Dasar! semua lelaki memang menyebalkan!"
__________
**Jangan lupa like ya gaes , vote ❤️
Makasih Ya semuanya yang udah kasih suport dengan bentuk apapun... aku padamu
Makasih juga sama yang suka komen..
Aku seneng loh 🤭
lop lop lop ❤️❤️❤️**
Maap ya baru bisa update 🙏
__ADS_1
lop yu gaiss**