
Mamih Bela memberikan alamat kontrakan Bulan pada Kuncoro, Mamih Bela ingin memperkenalkan Bulan pada kedua kakak Bintang.
Kuncoro langsung bergegas ke kontrakan Bulan. Kuncoro begitu tertegun ketika tahu Bulan mengontrak di salah satu gang sempit yang tidak bisa dilewati mobil, terpaksa Kuncoro harus memarkirkan mobilnya jauh dari gang kontrakan Bulan.
Kuncoro mulai memasuki gang Bulan sambil memandang lingkungan sekitar.
"Ya Allah gusti, ini gang sempit banget, cuma pas dibadan Akika, sepertinya Akika harus diet ini."
Kuncoro melihat Bulan yang tengah berjemur dengan Ibunya di depan kontrakan. Kuncoro langsung berlari-lari kecil. Bisa dibayangkan gaya berlari Kuncoro yang manis manja dengan tubuh gemulainya.
"Bul ... Bul Iam coming."
Bulan dan Bu Widya melihat ke arah Kuncoro yang tengan berlari manjalita. Bulan tersenyum melihat tingkah Kuncoro yang berlari sambil meneriaki namanya. Sementara Bu Widya terkejut, Bu Widya terus saja memperhatikan Kuncoro hingga Kuncoro sampai di depannya.
"Alhamdulillah ketemu juga, takut ih kalau nyasar."
"Nyasar juga masih di planet Bumi keles, nggak sampai di Pluto."
"Heh Yey bisa ae." Kuncoro menatap Bu Widya lalu mengambil tangan Bu Widya sambil dicium.
"Ibu, ibu sudah sehat?" tanya Kuncoro. Namun Bu Widya hanya merespon dengan anggukan saja.
"Ibu yey kaya gimana gitu lihat akika?"
"Iya Ibu kaget, ada makhluk astral nyasar," Ledek Bulan sambil terkekeh.
"Dih, kalau ngejek, nggak di korting."
Bulan lalu memperkenalkan Kuncoro pada Bu Widya, Bulan memberi tahu Ibunya jika Kuncoro ini adalah sepupu Tante Amel. Bu Widya merespon dengan anggukan.
"Suk Ro," ucap Ibu pada Kuncoro.
"Makasih Ibu cantik."
Bulan, Bu Widya masuk ke dalam kontrakan, Bulan menyuguhkan air putih dan cemilan kacang rebus yang direbusnya subuh tadi.
"Ada apa? tumben kesini?"
"Akika suruh culik Yey, eh culik yey lagi, haduh mulut pake segala keceplosan." Kuncoro memukul mulutnya sendiri.
"Hah, culik?"
"Bukan, bukan, maksud Akika, Mamih ngingo mulu, kangen sama Yey, yuk main ke rumah Mamih, Mamih nyuruh Akika jemput yey sama Ibu Yey."
"Yang bener ih? masa sih Tante sampe ngigo gitu."
"Ih suer deh, rela disamber janda bahenol." Kuncoro menunjukan jari telunjuk dan tengahnya, menandakan suer.
"Yee, menang banyak itu mah."
Kuncoro tergelak, "Kalau disamber gledek kan lagi nggak hujan, nanti Yey nggak percaya."
"Ayo dong Bulan, please bantu Akika, oh ya, sekalian ngucapin makasih juga kan sama Mamih."
Oh iya Bulan belum mengucapkan terimakasih pada Tante Bela karena kemarin tidak bertemu dengan Tante Bela. Kemarin kan yang menjemput Mas Bintang.
__ADS_1
"Oke deh, saya gantiin baju Ibu dulu yah."
Kuncoro mengangguk sambil tersenyum. Yes misi pertama berhasil. Kuncoro segara mengirim pesan pada Mamih Bela.
Mih, calon menantu ikhlas diculik nih.
...***...
Sesampainya di rumah Bintang, Mamih Bela sudah menyambut di depan rumah, beserta kakak-kakaknya, sementara Bintang malah tidak tahu menahu jika Bulan akan datang ke rumahnya.
Kuncoro dan Bulan membantu memapah Bu Widya untuk didudukan di kursi roda. Bu Widya langsung tersenyum begitu melihat Mamih Bela. Mamih Bela langsung membawa Bu Widya masuk ke dalam rumah.
"Berhasil kan Mih?" Celetuk Kuncoro sambil mengerlingkan matanya.
"Radit, nggak boleh lekong gitu, disini bukan di luar negri." Mbak Pelangi memperingatkan Raditya Kuncoro yang bergaya lekong. Pelangi memang yang paling galak disini.
"Iya iya Mbak," ucap Kuncoro dengan nada Manly.
"Nah, gitu kan ganteng." Kuncoro hanya menanggapi dengan senyuman.
Mereka lalu bersantai ditaman dekat kolam renang. Pelangi dan Lintang berkenalan dengan Bulan.
"Aku tuh kaya sering lihat kamu deh Lan." Pelangi merasa sangat familiar dengan wajah Bulan.
"Iya Mbak, dulu itu kita sering ketemu, kita sering makan dengan Mamih sama Ibu."
"Eh iya kan, tapi kok sekarang kurusan yah."
"Hehe, cape kerja Mbak."
"Ya lah, mumpung belum jadi istri Bintang, dipuas-puasin kerja sebelum muasin suami." Pelangi terkikih.
"Mas Bintang kemana?"
"What? Mas? Kuncoro tersenyum.
Bulan mengangguk, "Iya Mas Bintang."
"Cie, sudah Mas Mas an." Bulan hanya mesem manis menanggapi ledekan Kuncoro.
"Radit, Radit, mbak mau mangga itu, ambilin dong," Teriak Pelangi sambil menunjuk ke arah mangga yang begitu menggiurkan dimatanya.
Kuncoro dan Bulan menghampiri pohon mangga yang tengah ditunjuk Pelangi.
"Aku nggak bisa panjat, tinggi, nanti kalau jatuh gimana?" Kuncoro nampak ketakutan.
"Saya aja mbak." Bulan langsung memanjat pohon mangganya. Hal itu sudah biasa dilakukan Bulan semenjak kecil. Kata orang mah, mau jadi laki tapi nggak jadi😁. Setahun belakangan juga Bulan sudah terbiasa panjat memanjat. Jika kontrakan bocor juga Bulan yang akan turun tangan sendiri memanjat genteng untuk memperbaiki yang bocor.
"Hih, Bulan jangan, nanti jatuh," teriak pelangi dan Mamih Bela.
" Bulan sudah terbiasa kok Tante, Mbak, tenang aja."
Bintang yang memang kamarnya menghadap ke taman mendengar kericuhan di taman langsung saja melongok ke area taman. Hal yang pertama yang Bintang lihat adalah gadisnya yang tengah memanjat pohon mangga.
Bintang terkejut, ia langsung turun ke bawah lalu menuju taman. Bintang langsung ikut bergabung melambaikan tangan bersama Pelangi dan Mamih Bela. Sementara Bu Widya hanya tersenyum melihat tingkah anaknya.
__ADS_1
"Bulan, kamu ngapain disana?" tanya Bintang.
"Ngambil mangga dong Mas, masa ngambil semangka."
"Turun Bulan."
"Iya ini, tinggal petik doang, nanggung." Bulan lalu memetik beberapa buah mangga, Bintang dan Kuncoro yang menangkapnya. Setelah selesai Bulan segera turun.
Bintang segera menghampiri Bulan, "Ih kamu nih, cewek kok panjat-panjat, tukeran jiwa aja tuh sama Kuncoro."
Bulan tersenyum, "Aku udah biasa kali Mas."
"Makasih ya Bulan, maaf ya Mamih, Pelangi lagi nyidam soalnya, pengen mangga yang itu tadi."
Mamih langsung tersenyum sumringah, itu artinya Mamih akan mendapat cucu lagi.
"Alhamdulillah, nambah cucu lagi." Mamih langsung jingkrak-jingkrak kegirangan. Mamih lalu menggandeng tangan Bulan untuk kembali duduk di gazebo.
"Untung cuma nyidam mangga, dulu nih, Mamih, waktu hamil Bintang, nyidamnya kepengen lihat wajahnya Pak Rt terus, Papih sampe cemburu, untung anaknya nggak kaya pak Rt." Mamih tergelak menceritakan pengalaman nyidamnya saat hamil Bintang. Bintang yang kala itu tengah mendorong kursi Roda Bu Widya hanya menggelengkan kepalanya. Punya Mamih ekstrim banget.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
(Maaf ya baru up, kemarin sama hari ini q beberes say, tp Alhamdulillah hari ini sudah beres, pokoke klo tdk ada halang melintang pasti author up kok)
Jangan lupa, like, komen dan Vote😘
__ADS_1
Salam sayang,
Santypuji