Barista Cafe Jomblo

Barista Cafe Jomblo
Part 42


__ADS_3

Saat Bulan pulang, Bulan melihat ada kasur busa di ruangan depan, ada kasur besar juga di ruang tengah tempat Ibu tidur, banyak pampers premium dan beberapa obat-obatan. Serta belanjaan lainnya yang membuat Bulan bertanya-tanya siapakah yang membeli semua ini. Bulan melihat Ibu sedang tidur, Bi Ani menjaganya di sebelah Ibu sambil menonton TV.


"Bi, ini dari siapa?" tanya Bulan pada Bi Ani.


Bi Ani lalu bercerita jika pagi tadi ada lelaki datang, lelaki seumuran Ibu, tapi wajahnya mirip Bulan. Bahkan laki-laki itu mengajak Ibu jalan-jalan. Bulan yakin betul itu adalah Ayahnya. Bulan mencebikan bibirnya. Ayah tiba-tiba baik setelah tahu semuanya, Bulan malah tidak suka jika Ayah menemui Ibu diam-diam. Bulan tahu betul jika Ibunya sangat mencintai Ayahnya, tapi kan mereka tidak bisa bersama, pasti Ibu bertambah galau jika Ayahnya mendekati Bu Widya lagi.


Bulan lalu bergegas mandi membersihkan diri setelah seharian bekerja. Ia masih merenungi sikap Ayahnya. Bulan tidak ingin Ibunya tersiksa lagi hatinya.


Selesai mandi, Bulan mengirim pesan pada Ayahnya, ia ingin bicara dengan Ayahnya perihal Ibunya. Bulan mengajak Ayahnya bertemu di cafe depan kontrakan. Ia tidak ingin pembicaraannya didengar oleh Ibunya.


...oOo...


Setelah Magrib, Bulan menemuni Bi Ani dan meminta tolong padanya agar menjaga Ibu sebentar. Bulan lalu berjalan menuju cafe di depan gang kontrakannya. Ternyata Ayah Permana sudah ada di sana. Sebelum duduk, Bulan terlebih dahulu mencium punggung tangan Ayahnya.


"Tumben ngajak ketemu Ayah, ada apa?" tanya Pak Permana sambil terkekeh.


"Yah, Bulan nggak suka Ayah ketemu sama Ibu, Yah, Ayah kan tahu bagaimana perasaan Ibu ke Ayah, Bulan nggak mau Ibu galau." Tanpa basa-basi Bulan langsung mengatakan inti dari permasalahan yang ia bahas dengan Ayahnya.


"Baguslah kalau Ibumu masih mencintai Ayah, jadi nanti kita bisa bersama lagi Lan,"ucap Pak Permana dengan entengnya.


"Itu tidak segampang yang Ayah fikirkan, dan itu mustahil." Bulan mulai meninggikan suaranya, Bulan tidak suka Ayahnya mempermainkan perasaan Ibunya. Dengan Bu Laras saja belum berakhir, sudah coba-coba ingin bersama lagi dengan Ibunya.


"Mustahil bagaimana?" tanya Pak Permana.


"Ingat ayah, ketika suami telah menjatuhkan talak ketiga pada istrinya, maka suami nggak diperbolehkan untuk rujuk dengan sang istri. Keduanya bisa menikah kembali dengan syarat sang istri sudah menikah lagi dengan laki-laki lain dan menjalani kehidupan suami istri, kemudian bercerai. Jadi niat Ayah rujuk kembali dengan Ibu itu mustahil, Bulan juga tidak setuju, Bulan hanya ingin Ayah tahu Ibu tidak bersalah, tapi bukan Berarti Bulan membiarkan Ayah nantinya menyakiti Ibu lagi."


"Itu perkara mudah Bulan, Ayah bisa carikan muhalil untuk Ibumu." Bulan semakin geram dengan Ayahnya. Ngomongnya enteng tanpa dosa, santai kaya di pantai sambil makan mendoan sama cabe rawit. Gemes, gemes.


"Ayah, ingat, pernikahan itu nggak boleh dilakukan dengan cara manipulasi, ya. Ayah nggak bisa membayar seorang laki-laki untuk menikahi mantan istrinya lalu menceraikannya, dengan niat agar dia bisa menikah kembali dengan mantan istrinya tersebut, maka hal ini nggak dibenarkan dalam syariat Islam. Perceraian jangan dianggap main-main, Yah." Padahal Tujuan bertemu Ayahnya bukan untuk bicara tentang ini, tapi fikiran Ayah yang menggampangkan segalanya membuat Bulan geram.

__ADS_1


"Lalu Ayah harus bagaimana?"


"Ayah lanjutkan saja rumah tangga Ayah dan Bu Laras, Bulan dan ibu akan baik-baik saja." Bulan sudah terbiasa menutipi penderitaannya selama ini.


"Ayah akan menceraikan Bu Laras dan mengusirnya dari rumah." Pak Permana menatap Bulan.


Bulan menghembuskan nafasnya dengan kasar. Bulan berucap dalam hati kenapa sih Ayahnya begitu mudah mengucapkan cerai/talak. Padahal sudah jelas hukumnya. Siapa yang mengucapkan kata talak atau cerai walau dalam keadaan bercanda atau main-main asalkan lafaz talak tersebut keluar secara tegas maka talak tersebut jatuh jika yang mengucapkan talak tersebut dewasa dan berakal. Sehingga tidak ada alasan jika ada yang berucap, ‘Saya kan hanya bergurau’ atau ‘Saya kan hanya main-main.’ Meskipun ketika itu ia tidak berniat untuk mentalak isterinya. Allah SWT berfirman: Janganlah kamu jadikan hukum-hukum Allah permainan dan ingatlah nikmat Allah padamu dan apa yang telah diturunkan Allah kepadamu yaitu Al Kitab dan Al Hikmah As Sunnah.(Al-Baqarah: 231)


Ayat ini dipertegas Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam sabdanya: Tiga perkara yang serius dan bercandanya sama-sama dianggap serius: nikah, talak dan rujuk. (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah).


"Laki-laki jangan macam-macam dengan kata cerai Ayah, Bulan tidak suka, Bulan mengungkapkan semua nya agar Ayah berhenti membenci Ibu, bukan untuk merebut kembali Ayah dari Bu Laras. Tolong, Ayah jangan menggoda Ibu, apalagi mengajaknya rujuk." Bulan segera beranjak dari tempat duduknya, dengan tidak sopannya ia bergegas pergi meninggalkan cafe tanpa salam dan permisi.


Bulan lelah, nyatanya setelah semua terungkap, malah menambah masalah baru dalam hidupnya. Pekerjaannya saja sudah melelahkan, ditambah masalah Ayahnya yang ingin bercerai dari Bu Laras dan rujuk dengan Ibunya. Bulan hanya takut Bu Laras akan menyakiti Ibunya.


Sesampainya di rumah, Bulan malah dikejutkan dengan kehadiran si kampret. Datang tak di jemput pulang tak di antar, serem, suka tiba-tiba nongol nih mantan terindah. Eh kalau terindah nggak bakal jadi mantan Ye🤭.


Bulan langsung duduk, meluruskan kedua kakinya, punggungnya ia senderkan di tembok. Tanpa memperdulikan Arkan, anggap saja tidak ada.


Bulan memejamkan matanya, ia sungguh sangat lelah, lapar juga lelah. Melihat Bulan yang tampak kelelahan, Arkan berinisiatif memasangkan bantal di punggung Bulan. Arkan maju mendekati Bulan, tangannya hendak mengangkat punggung Bulan, mereka berdua berada dijarak yang sangat dekat, Arkan meneguk salivanya saat melihat bibir bulan.


"Bulan ..." Bulan sangat mengenal suara khas seseorang yang memanggilnya, ia membuka matanya, Bulan terperanjat ketika melihat Arkan berada dijarak yang amat dekat dengannya, ditambah juga sosok Bintang yang tengah berdiri di depan pintu kontrakan dengan wajah mode senggol bacok.


Yassalam, babak duel dimulai ini mah.


.


.


.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Maaf baru bisa up lagi, kemarin emak istirahat sejenak. Setelah seminggu bolak balik ekpedisi.


Kalau punya aplikasi KB*, jangan lupa mampir di novel emak san, okeh😘😘

__ADS_1



__ADS_2