
"Bulan ..." Mas Arkan menatap manik mata Bulan dengan tajam. Bulan seperti tersihir oleh tatapan Mas Arkan. Fikiran Bulan saat ini sedang kacau, terlalu banyak hal tidak terduga yang menimpa kehidupan Bulan.
"Mas, lebih baik kamu pulang aja, aku lagi nggak enak badan." Arkan lalu menempelkan punggung telapak tangannya di dahi Bulan.
"Lumayan panas Lan, ayo kita ke klinik." Bulan menggeleng, biasanya saat ia demam atau pusing ia hanya mengonsumsi obat warung.
"Aku ada obat demam kok, nanti aku makan, aku mau istirahat dulu sebentar."
"Aku belikan kamu makan yah." Tanpa menunggu persetujuan dari Bulan, Mas Arkan langsung pergi ke luar kontrakan mencari makan. Bulan menghela nafasnya. Kenapa Mas Arkan mesti muncul disaat seperti ini.
Bulan rebahan di karepet tipis, karena kepalanya serasa terus saja berputar. Bulan berusaha kuat, dia tidak ingin sakit, jika sakit, siapa yang akan merawat Ibu. Beberapa menit memudian Mas Arkan datang membawa beberapa kantong plastik, ia lalu membuka kantong plastiknya, mengeluarkan satu persatu makanan yang ia beli.
Mas Arkan membeli sop daging untuk Bulan dan membeli sate untuk Bu Widya dan dirinya. Mas Arkan juga membeli obat-obatan untuk Bulan. Mas Arkan permisi pada Bulan untuk mengambil beberapa piring dan gelas. Bulan yang sudah lemas hanya bisa mengangguk.
Mas Arkan menata semua makannya, ia juga membantu Bulan duduk, lalu menyiapkan makanan untuk Bulan. Mas Arkan mengambil makanan juga untuk Ibu dan menyuapinya. Hati Bulan sedikit tersentuh melihat interaksi Mas Arkan dengan Ibu.
Setelah kisah cinta berakhir, Bulan sudah sekuat tenaga melupakan Mas Arkan, dan kini hubungan dengan Bintang, kekasih hati sedang manis-manisnya. Namun tak diduga, mantan kekasih datang kembali dan bersikap begitu manis pada Bulan. Terkadang Asmara memang sesialan itu.
Tapi Bulan selalu memasang Alarm pada hatinya, hal terbaik untuk godaan seperti ini adalah Bulan mencoba berpikir jernih dan ingat kembali penyebab kandasnya hubungan Bulan dengan Mas Arkan. Jangan sampai hubungannya dengan Bintang dikorbankan hanya karena kenyataan semu semata.
__ADS_1
Bulan segera menyantap makanannya. Sotonya benar-benar segar, hal ini membuat Bulan nafsu makan walaupun kondisi tubuhnya sedang tidak fit. Bulan mendengar perbincangan Ibu dan Mas Arkan. Ibu belum tahu jika Bulan dan Mas Arkan sudah lama putus, mungkin Ibu masih beranggapan jika Mas Arkan dan Bulan masih menjalin hubungan baik.
Bulan tidak ingin menambah beban Ibu dengan menceritakan masalah pribadinya dengan Mas Arkan. Bulan hanya ingin Ibu sembuh, ia tidak begitu terlalu memikirkan masalalunya lagi dengan Mas Arkan.
Selesai menyuapi Ibu, Mas Arkan kembali ke ruang depan, kini giliran ia yang makan.
"Lama ya Lan, kita nggak makan berdua,"ucapnya sambil tersenyum ke arah Bulan.
"Ya lah, Mas kan sudah sibuk dengan yang baru." Jawaban Bulan membuat Arkan tertohok.
"Bulan, ini tidak seperti yang kamu kira."
"Lan, Mas sudah keluar dari perusahaan ayahmu, Mas juga sudah putus dengan Sarah, Mas sekarang sedang mencoba mencari pekerjaan baru, Mas melakukan semua ini biar Mas bisa bareng-bareng sama kamu lagi, Mas rela, asal kita bisa bersama, walaupun sederhana."
Kenapa tidak dari dulu Mas, kenapa? kenapa kamu menunggu. Teruntuk masa lalu, berhentilah menepuk punggungku. Aku tidak ingin melihat ke belakang.
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
(Sehari akan update 1200 kata, tp d jadikan 2 episode, strategi marketing author🤭)
(Komen, komen yang banyak, Votenya juga dong biar Author cemungut. Coba sekali2 masuk 20 besar🤭🤭 Ngarep mburi njaba njero)
__ADS_1