Barista Cafe Jomblo

Barista Cafe Jomblo
Part 38


__ADS_3

"Bulan, Lan, ini jaket siapa? kok ada di sini?"


Deg ....


Bulan tergopoh-gopoh dari dapur ke ruang depan. Ia langsung mengambil jaket yang sedang dipegang Bintang.


"Bulan, itu jaket laki-laki kan? punya siapa Lan?"


Bulan duduk di depan Bintang, "Mas, Maaf, aku belum sempat cerita, itu milik Mas Arkan, kemarin sore Mas Arkan ke kontrakan, waktu aku pulang ternyata sudah ada dia bersama Ibu, maaf yah Mas."


"Dia pulang kan?"


Bulan mengernyitkan dahinya, "Maksud Mas?"


"Dia pulang kan nggak nginep di sini? kenapa jaket ini masih ada di sini."


Bulan terkejut mendengar perkataan Bintang, kenapa Bintang malah berfikiran Mas Arkan sampai menginap.


"Aku tau Mas, kamu orang kaya, tapi jangan rendahin aku gitu juga dong Mas, nggak mungkin lah aku membiarkan laki-laki menginap di kontrakan ini, aku juga masih waras." Air mata bulan terlihat menggenang di matanya. Ia lalu segera mengusapnya sebelum jatuh ke pipinya.


Kuncoro hanya melihat ke arah Bintang dan Bulan secara bergantian. Haduh kenapa jadi seperti ini sih, belum juga menikah sudah perang terus. Apa ini sih cobaan hubungan serius.


"Mas nggak bermaksud gitu, Mas cemburu, siapa sih yang nggak cemburu kalau calon istrinya menerima tamu yang notabenenya adalah mantannya." Bintang berusaha mengelus pipi Bulan namun Bulan tepis.


Astagfirullah, aneh sekali, apakah makhluk sejenis wanita ini memang seperti itu, ketika pasangannya marah, malah akan berbalik marah, apakah ini yang dinamakan wanita selalu benar.


Bintang menghembuskan nafasnya dengan kasar, bingung harus ngomong apa sama Bulan.


"Aku kemarin sakit, aku demam, itu Mas Arkan yang berinisiatif memberikan jaketnya, aku waktu itu sudah lemas, aku tidak sempat menolak, kepalaku pusing." Akhirnya Bulan menjelaskan perihal jaket Arkan.

__ADS_1


"Kenapa nggak ngomong Mas sih kalau kamu sakit Lan?"


"Eh udah stop, perangnya lanjut nanti aja yes, hari ini kita ada misi penting, ih you you gimana sih, malah asyik perang." Kuncoro mengingatkan Bintang dan Bulan, jika agenda hari ini bukan tentang cemburu dan bertengkar, ada yang lebih penting dari itu.


"Cut ... cut bertengkar ditunda besok lagi." Kuncoro memang senang membuat Bintang dan Bulan saat bertengkar, padahal ini pertengkaran, bukan sedang syuting sinetron.


Kuncoro berdiri, lalu masuk ke ruang tengah, Kuncoro menggendong Bu Widya dan meletakkan nya di kursi roda. Setelah itu mendorongnya ke ruang depan.


"Udah cepetan, akika udah siap nih, Bu cetar juga sudah siap, kalian ngapain masih bengong disitu, dzikir pagi?" Kuncoro mendorong lurus ke depan sampai depan kontrakan.


Bintang dan Bulan segera berdiri, Bulan mengambil tasnya, lalu melewati Bintang begitu saja. Bintang berdecak, kenapa jadi Bulan yang marah, aneh deh, padahal yang cemburu kan Bintang. Wanita, memang selalu seperti itu.😆😆 (Kamu termasuk nggak readers?)


Bintang dan Bulan masuk ke dalam mobil, di dalam sudah ada Kuncoro dan Ibu, Kuncoro yang akan mengemudi. Kuncoro takut kalau Bintang yang menyetir takut salah sampai, seharusnya ke rumah Pak Permana, malah ke rumah sakit, kan nggak cucok. Pikiran Bintang pasti masih berputar-putar tentang Bulan, akan sulit konsentrasi bila sang lawan tepat ada di belakangnya.


Mobil mulai melaju menuju rumah Pak Permana dengan bantuan GPS yang Bulan kirim ke ponsel Bintang.


(Peta GPS terkirim)


Bulan hanya membaca pesan dari Bintang tanpa membalasnya, ia memasukan ponselnya di tasnya.


"An, ni ke umah aah?" tanya Bu Widya yang memang masih familiar dalam ingatannya.


Bulan mengangguk, "Ibu, ada hal penting yang harus Ibu dan Ayah tahu, kalian harus bertemu."


Bu Widya menggeleng, "Ga au Lan, ga au."


Bulan mengusap pipi Bu Widya, "Ibu, sekali ini saja, setelahnya tidak akan lagi, kali ini aja Bu, ini sangat penting."


Bu Widya tidak menjawab, ia malah membuang muka ke arah jendela. Bulan tau ini pasti akan terjadi, tapi Bulan melakukan ini semua juga demi Ibunya, Bulan tidak ingin ada kesalahfahaman yang berkepanjangan antara Ibu dan Ayahnya, terlebih itu karena fitnahan.

__ADS_1


Akhirnya sampai juga di rumah Pak Permana. Kuncoro memandang takjub rumah Pak Permana, Kuncoro juga takjub dengan Bulan, karena walaupun Bulan sebelumnya kaya raya, tapi Bulan sekarang bisa semandiri saat ini, hal luar biasa bagi Kuncoro.


Bulan turun dari mobil, ia lalu menghampiri Pak satpam.


" Assalamualaikum, Pak."


"Eh Neng Bulan, tumben nih ke sini."


"Pak tolong buka pintu gerbangnya, Bulan bawa mobil."


"Eh iya neng iya." Pak Satpam segera membuka pintu gerbangnya. Bulan memberi aba-aba pada Kuncoro agar masuk ke dalam.


Mobil pun masuk ke dalam, setelah terparkir, Kuncoro dan Bintang turun, kali ini Bintang yang membopong Bu Widya, sementara Kuncoro yang menyiapkan kursi rodanya.


"Makasih Mas." Bulan melirik Bintang, lalu segera membawa Ibunya masuk ke dalam rumah megah milik Ayahnya.


Bulan memencet Bel, dan mengucapkan salam, seperti biasa bibi yang akan membukakan pintunya. Bibi begitu terkejut melihat Bulan dan Bu Widya yang datang.


"Ya ampun, Ibu, Neng, masuk ayo."


"Ayah mana Bi?"


"Lagi sarapan Neng."


Bulan langsung mendorong kursi rodanya menuju ruang makan. Bu Laras yang pertama melihat Bulan datang bersama Bu Widya langsung menatapnya tajam, ia lalu beranjak dari tempat duduknya. Sarah yang melihat Ibu nya berdiri langsung melihat ke arah Ibunya lihat. Sarah juga terkejut karena Bulan membawa Ibunya juga masuk ke dalam rumah.


Bulan tersenyum palsu,"Assalamualaikum, selamat pagi, Pak Permana, Bu Laras." Bulan tidak menyapa Sarah, ah rasanya tidak sudi.


Pak Permana menengok, ia terkejut karena Bulan tak sendiri, melainkan membawa mantan istrinya juga.

__ADS_1


"Bulan ..." Pak Permana mencengkram sendok yang sedang ia pegang.


__ADS_2