Barista Cafe Jomblo

Barista Cafe Jomblo
Part 59


__ADS_3

Masih menghampiri Dinda lalu mengelus pundak Dinda, meminta Dinda untuk menjadi menantunya sekali lagi, Mamih memang harus secara langsung meminta pada Dinda karena Dinda kini hidup sebatang kara.


Mamih juga merasa sedih, dulu keadaan Bulan juga menyedihkan, sekarang Dinda pun sama. Ada perasaan yang mendalam ingin membahagiakan Dinda sama seperti membahagiakan Bulan.


Mamih memiliki tiga orang putri, mamih teringat ketiga putrinya jika melihat Bulan dan Dinda.


Dinda terdiam, air matanya tiba-tiba menetes begitu saja, ia jadi teringat nasehat almarhum neneknya yang dulu selalu menguatkannya. Almarhum nenek pernah berpesan, tidak perlu khawatir, masalah yang saat ini masih memberatkanmu pasti akan berakhir juga pada akhirnya, karena apapun keadaanmu pasti akan indah paada waktunya.


Semua kesedihan akan menemui titik akhir tepat pada waktunya, yang memberatkanmu akan berakhir dengan semestinya, maka pastikan kamu tidak banyak mengeluh.


Jadi ingatlah dengan baik, jangan khawtirkan rencana Allah, jangan ragukan apa yang saat ini masih menjadi rahasia-Nya, sungguh Allah maha tahu yang terbaik untukmu.


Jika saat ini masih begitu menyesakkan dada, jangan terus menerus kamu menggerutuinya, karena memang begitulah hidup, kadang untuk mendapatkan kebahagiaan yang lebih kamu harus melewati dulu masa-masa bersedih.


"Kenapa? apa mamih bikin kamu sakit hati Nak?" ucap Mamih khawatir. Dinda langsung secepatnya menggeleng, "Saya terharu, masih ada orang baik yang tulus baik dengan saya, apalagi tante termasuk orang terhormat tapi tante mau menerima saya, saya sedih tan, saya teringat Almarhum nenek."


Mamih tersenyum, "Mamih kira mamih bikin sakit hati, maaf yah."


Dinda kembali menggeleng, "Nggak tante, justru saya terharu dan berterima kasih."

__ADS_1


"Terus kamu mau nggak jadi menantu Mamih, menjaga keponakan tante itu yang kadang suka bandel. Mamih yakin kalau sudah punya istri pasti Radit akan menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Kalian masih terus berhubungan kan?" tanya Mamih.


"Iya masih tante, tapi masalah jadi menantu tante, saya masih belum percaya diri, mas Radit sepertinya hanya menganggap saya teman."


Mamih mencebikan bibirnya, "Si Radit itu emang begitu, nggak bisa ungkapin perasaannya, makanya nih mamih maju."


Bulan terkekeh, Bulan memiliki ide, sepertinya Kuncoro juga harus dibantu Bintang, seperti dulu Bintang juga membantu Kuncoro.


"Hari ini aku pastikan Radit ungkapin perasaannya, tapi kalau Radit ungkapin perasaannya, kamu mau nerima jadi mantu mamih nggak?" tanya Bulan. Mamih mengacungkan jempol pada Bulan. Mamih ini yah, suka maksa.🤣


Dinda mengangguk lalu tersenyum. Selesai makan mamih menyuruh Dinda mandi di kamar tamu. Mamih juga meminjamkan Dinda baju gamis putrinya untuk dipakai Dinda.


Dinda lalu mandi terlebih dahulu, mamih turun ke bawah. Ternyata di bawah sudah ada Kuncoro dan Bintang yang baru saja pulang kantor.


Mamih langsung menghampiri keduanya, dan keduanya pun mencium tangan mamih. Mamih melirik Kuncoro.


"Hemm, nggak bawa Dinda lagi? mau protes?" ucap Kuncoro.


Mamih terkekeh, "Dih, kalau kamu nggak bisa bawa, mamih nggak akan hilang akal buat bawa tuh calon mantu."

__ADS_1


"Coba saja kalau bisa," celetuk Kuncoro.


"Kalau bisa, kamu mau yah nikah sama dia?" Mamih senyum-senyum.


"Iya deh, coba saja, susah dibujuknya Mih."


"Yes." Mamih mengacungkan jempolnya pada Bulan. Bulan mengerlingkan sebelah matanya.


"Oke, nanti pasti mamih bawa Dinda kesini, dan saat itu juga kamu harus lamar dia." Kuncoro hanya mengangguk lalu berjalan menuju kamarnya. Bulan dan Mamih langsung tos.


Bintang yang masih berdiri di depan keduanya langsung mengernyitkan dahinya, ada apa sebenarnya dengan istri dan mamihnya itu.


"Ada apa sih Mih," tanya Bintang. Bulan lalu mencolek lengan suaminya. Bulan akan menceritakannya pada suaminya.


"Mih, mau antar mas Bintang ke kamar dulu yah, nanti dilanjut lagi kejutan buat Kuncoronya." Mamih mengacungkan jempolnya.


❤️❤️❤️


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2