
( Plak) "Tangannya, nggak usah modus." Mamih mendelik ke arah Bintang. Bintang langsung menelan salivanya.
"Mamih nih ya, kaya nggak pernah muda aja, nyebelin," ucap Bintang dalam hati.
Mamih lalu memeluk Bulan, meletakan kepala Bulan di bahunya. Bintang hanya bisa memandangnya dengan rasa bersalah, Bintang ingin sekali cepat menikahi Bulan agar bisa menjadi tempat berbagi suka maupun duka. Kalau belum nikah gini kan, boro-boro meluk, ngusap-ngusap lengan saja sudah di teplak Mamih.
"Semoga permasalahan ini cepat teratasi ya Lan, sudah nanti Mamih bantu, kita labrak sama-sama ke rumah ayahmu, Mamih siap tempur pokoknya, kalau Ayah kamu panggil satpam, biar Kuncoro yang maju."
Kuncoro mengerutkan dahinya, kenapa dirinya yang harus maju, Mamih semangat jadiin Kuncoro tumbal.
"Ih, Mamih, masa akika yang maju,"
Mamih melirik Kuncoro, "Masa Mamih yang maju, nanti bulu mata Mamih terbang gimana? kan cantiknya langsung turun 2%, rugi Mamih."
"Okeh, Akika pasti maju, perutnya." Kuncoro terkikik. Perutnya dan perut pak satpam yang mirip wanita hamil 5 bulan akan saling beradu.
Bulan melepaskan pelukannya, ia lalu meminta pada Papih Arav untuk menyalin vidio yang ada di leptopnya ke ponsel Bulan. Bulan akan mengungkapkannya sendiri di hadapan Ayahnya. Bulan berencana akan membawa Ibunya juga untuk ikut serta mengungkapkan semuanya. Apapun hasilnya, Bulan akan menerima, asalkan Ayahnya nanti tidak salah faham lagi dengan fitnahan keji yang dilontarkan pada ibunya.
Papih Arav segera menyalinnya di ponsel Bulan. Bulan lalu berpamitan pulang karena tidak mau pulang terlalu petang. Bulan ingin cepat bertemu Ibunya, ia sebelumnya tidak pernah mampir-mampir sepulang dari tempat kerja.
"Nginep di sini saja yah, nanti biar Kuncoro yang ambil Ibu," ucap Mamih.
Nanti saja ya Mih, kalau sudah jadi menantumu.
"Nggak Tante, lain kali aja yah," ucap Bulan memberi alasan yang sedikit menyenangkan Tante Bela.
"Oke, beneran lhoo lain kali."
Bulan hanya mengangguk. Bulan yang hendak memesan ojek online langsung di ambil ponselnya oleh Bintang.
__ADS_1
"Mas antar, ada Mas, kenapa mau bonceng yang lain sih, Mas nggak suka." Mulai deh posesifnya. Bintang tidak mau melihat Bulan jalan dengan laki-laki lain, walaupun itu sebatas abang DoJek.
"Mas kan cape habis pulang kerja, kasihan Mas."
Bintang menggeleng, ia lalu menggandeng tangan Bulan. Sebelum pulang, Bulan berpamitan terlebih dahulu, tidak lupa Bulan juga mengucapkan banyak terimakasih pada Tante Bela dan Om Arav.
Bintang dan Bulan bergegas menuju kontrakan Bulan. Di sepanjang perjalanan Jakarta yang pastinya macet jika berbarengan dengan aktifitas pulang kerja, Bulan terus saja terdiam. Bintang tahu Bulan menahan sesak di dadanya. Matanya kosong, menatap padatnya jalan raya.
"Sayang ..." Bintang menggenggam jemari tangan kanan Bulan. Bulan akhirnya tersadar dari lamunannya.
"Iya Mas, maaf yah, aku malah ngelamun."
Bintang tersenyum, "Mas tau perasaanmu kok, kalau mau nangis, nangis aja, kekuarin semuanya."
Bulan menggeleng.
"Lan, nikah aja yuk, biar Mas bisa selalu ada buat kamu, biar Mas bisa 24 jam jadi sandaran mu."
"Mas rela, berbagilah kesedihan dengan Mas, Mas akan menompang seluruh bebanmu, nikah yuk."
Bulan kembali menatap ke depan, melihat kendaran berlalu lalang. Terkadang Bulan merasa dirinya tidaklah sebanding dengan Bintang. Bulan selalu diliputi rasa minder. Walaupun sebenarnya Bintang menerima Bulan apa adanya.
Sabar ya Mas, aku ingin menyelesaikan masalah keluarga ku dulu, barulah aku akan mencoba untuk memikirkan tentang pernikahan.
"Lan, kok melamun sih."
"Eh iya Mas maaf, Mas beri bulan waktu yah, kalau masalah Ayah dan Ibu sudah selesai, Bulan janji bakal omongin tentang pernikahan."
Bintang tersenyum, ia tidak merasa kecewa, karena ia tahu betul, pasti fikiran Bulan sudah penuh dengan beban hidupnya, yang harus Bintang lakukan hanyalah bersabar sedikit saja.
__ADS_1
"Alhamdulillah sampai Lan." Mobil Bintang berhenti di depan gang kecil tempat kontrakan Bulan. Bintang lalu mendekatkan tubuhnya ke tubuh Bulan, Bintang lalu membuka seatbelt yang terpasang di tubuh Bulan. Bulan terdiam membisu, ia merasakan jarak wajah keduanya yang begitu dekat, Bulan menatap wajah tampan Bintang lekat-lekat. Bibit Mamih Bela dan Papah Arav memang tidak pernah gagal.
Bintang juga menatap Bulan lekat-lekat, manik mata mereka saling menyiratkan cinta dan kasih sayang. Hasrat kelaki-lakiannya ingin menyeruak keluar tanpa permisi. Bintang semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Bulan, hampir saja Bibirnya menyentuh bibir Bulan, namun gagal karena dering ponsel Bintang berbunyi begitu nyaring, Bintang dan Bulan langsung salah tingkah. Bulan memegangi dadanya sementara Bintang kembali duduk di kursi kemudianya lalu mengambil ponsel di saku celananya.
Mamih is Calling ....
Bintang menghembuskan nafasnya dengan kasar. Mamih macam cenayang saja, anaknya hampir tergoda syetan, Mamih lah yang menghentikannya.😆 (Firasat orang tua selalu benar😆)
Bulan berpamitan pada Bintang, ia lalu turun dari mobil Bintang lalu berjalan memasuki gang kecil. Bulan masih memegangi dadanya, Jantungnya masih asyik berdebar-debar.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
(Deg degan ya, dikiranya mau muach muachan🤭 nanti yah, sabar😆)
Dah dulu sampe sini, author mau bocan. Jangan lupa, like, komen dan Vote