
Bulan akhirnya menuruti lagi permintaan Riko. Mereka berdua masuk ke dalam restoran. Riko membantu Bulan membawakan paper bag yang sedang dipegang Bulan. Baru saja sampai di barisan meja depan, Bulan melihat Bintang tengah berduaan dengan seorang wanita, dan Bintang juga sama, melihat Bulan sedang jalan berdua dengan laki-laki. Manik mata mereka bertemu, menyiratkan api kecemburuan.
Bulan menatap tajam ke arah Bintang, begitu pun sebaliknya. Kuncoro yang baru saja keluar dari toilet dan hendak kembali ke meja Bintang melihat Bulan dan Bintang saling tatap menyiratkan kecemburuan. Akankah negara api akan saling serang. Kuncoro berlari manja menuju meja Bintang. Ia sengaja menabrak Bulan agar Bulan menyadari Bintang tidak berdua saja dengan Sintia.
Dug. Bahu Kuncoro menyenggol bahu Bulan.
"Maaf ya, akika nggak sengaja." Bulan menatap Kuncoro.
"Eh, Mbak Konit,"
"Eh Bul Bul, akika nemenin Pak Bos, katanya mau bantuin lampir." Kuncoro sengaja pura-pura seperti terkejut melihat Bulan.
"Mak Lampir mau pinjem duit buat bayar rumah sakit, " Bisik Kuncoro pada Bulan. Bintang dan Sintia hanya menatap interaksi antara Bulan dan Kuncoro. Kuncoro sebenarnya sebal dengan Bintang yang masih baik dengan mantannya. Andai saja Bintang itu orang lain, sudah Kuncoro tikung sekalian. Gemus Gemus Gemus.
"Lan, " Panggil Riko yang ternyata sudah duduk di meja yang ia ingin duduki, tepatnya di dekat jendela agar bisa melihat pemandangan jalan raya dari ketinggian lantai tiga Mall Abc.
"Ah iya Rik." Bulan lalu berpamitan pada Kuncoro karena ia ingin makan siang juga dengan temannya. Kuncoro pun mengerti, ia lalu pergi ke meja Bintang sambil enjap-enjep. Ingin sekali rasanya Kuncoro berkata 'kasihan deh lu' sambil menggoyangkan badan dan jarinya ke arah Bintang. Bintang sih, ganteng-ganteng tapi kadang bego.
"Aku mau ke Bulan." Saat Bintang hendak beranjak dari kursinya, Kuncoro mencegahnya. Hih ini lakik nggak sadar apa yah, main cemburu aja, dikata Bulan juga nggak cemburu apa.
"Nggak usah bikin gara-gara Bos, yey juga nggak liat apa, di depan yey ada casper, Bul Bul pasti marah juga lah." Kuncoro berusaha mengingatkan Bintang agar tidak melakukan double kesalahan hari ini.
Bintang melirik Sintia, ia baru teringat, ada Sintia sedang bersamanya. Bintang lalu menyuruh Sintia pergi dengan halus karena Bintang ingin bertemu dengan clien penting.
"Heh, yey itu gimana sih, kasihan anak yey di rumah sakit sendirian, sonoh pergi ih." Kuncoro sepertinya sudah kehilangan kesabarannya, rasanya enek aja gitu, melihat Sintia ada di depannya. Jika melihat Sintia, Kuncoro seakan teringat kembali dengan kekacauan yang terjadi akibat Bintang patah hati. Tapi dasar Bintang, hatinya sudah disiram beklin mungkin, kesalahan sebesar itu masih saja bisa memaafkan dan malah membantu Sintia saat ini.
Setelah Sintia pergi, makanan pun di sajikan. Clien Bintang datang, mereka makan bersama. Saat makan sorot mata Bintang tidak lepas memandang Bulan yang sesekali tertawa dan mengobrol begitu asyiknya dengan Riko. Hati Bintang mulai panas, tapi ia masih harus sabar karena ia belum menyelesaikan pembicaraan serius dengan clien saat ini.
Bahkan sampai Bulan dan Riko akhirnya pulang terlebih dahulu. Dan itu semakin membuat Bintang cemburu. Bulan yang saat itu melewati meja Bintang hanya melirik sekilas, ia faham, laki-laki yang sudah membuatnya jatuh cinta tengah dilanda cemburu. Tapi Bulan masa bodo, karena ia juga merasakan hal yang sama.
...***...
Sore harinya Bintang menjemput Bulan di cafe jomblo, walau hatinya masih menyimpan rasa cemburu. Ada info penting dari Papih tentang Bu Widya yang harus Bulan ketahui. Sesampainya di Cafe, Kuncoro lah yang masuk ke dalam cafe dan mengajak pulang bersama. Sementara Bintang, anteng duduk manis di dalam mobil.
Bintang melihat, Kuncoro dan Bulan keluar dari Cafe Jomblo, mereka berjalan beriringan menghampiri mobil Bintang. Bulan membuka pintu belakang mobil Bintang.
__ADS_1
"Yey duduk di depan aja Bul Bul." Kuncoro membukakan pintu depan.
"Kamu aja, aku di belakang," ucap Bulan ketus. Bintang akhirnya turun dari mobil, ia lalu menghampiri Bulan dan memasukan Bulan kedalam mobil secara paksa agar duduk di sebelahnya. Bulan berdecak kesal.
Bintang kembali ke kursi kemudinya, sementara Kuncoro duduk di jok belakang. Bintang mulai menjalankan mobilnya. Di dalam mobil sunyi sepi kaya kuburan Belanda. Kuncoro memajukan tubuhnya lalu melirik ke arah Bintang dan Bulan.
"Mau sampai kapan gencatan senjata?" Kuncoro terkekeh sambil tersenyum jahil.
"Diem deh." Bintang dan Bulan serempak mengucapkan kata yang sama.
Kuncoro terkejut, ia lalu tertawa, "Bisa barengan gitu, jangan-jangan jodoh."
"Udah sih ih, yang lakik juga, ngalah aja sih Pak Bos, cewek itu punya pasal 1 sama pasal 2. Pasal 1 bunyinya "cewek selalu benar", pasal 2 bunyinya "kalo cewek salah, liat aja pasal 1". Bintang sekilas melotot ke arah Kuncoro. Kuncoro malah mengedipakan matanya.
"Tadi sama siapa Lan?" Bintang mulai membuka pembicaraan. Kuncoro lalu menyenderkan kembali punggungnya di jok, ia memejamkan mata sebentar.
"Sama Bos Riko, belanja kopi." Bulan masih bersikap ketus.
"Tapi itu, paper yang kamu bawa ...."
"Mas bisa belikan buat kamu Lan, kalau kamu minta sesuatu bilang ke Mas, pasti Mas belikan. Kenapa mesti nerima barang dari dia?" Bintang semakin cemburu ketika tahu Bulan dibelikan sepatu oleh Riko.
"Biasa aja dong Mas, kenapa nyolot gitu sih."
"Ya Mas nggak suka kalau kamu nerima barang dari laki-laki lain sekalipun itu bos kamu ataupun teman kamu, Mas nggak suka." Sifat posesif Bintang mulai muncul.
"Mas apaan sih, Mbak Sintia nerima duit dari kamu juga aku nggak marah, kamu kasih-kasih aja semua yang kamu punya buat dia." Bulan mulai tersulut emosi.
Kuncoro ngulet, niatnya mau tidur sebentar malah terjadi perang dunia, dunia percintaan. Kuncoro memajukan badannya lagi.
"Nepi, nepi Bos, akika aja yang nyetir, Hey gila ya kalian berdua, perang dijalanan, mana bawa akika, kalau kecelakaan gimana, akika belum sempet tobat udah digiring ke neraka aja, sialan nih kalian, nepi Bos." Kuncoro malah sewot.
Bintang menepikan mobilnya, ia keluar dari mobilnya, begitu juga dengan Bulan. Bulan dan Bintang akhirnya duduk di jok belakang, gantian Kuncoro yang menyetir.
"Sok lanjutkan perangnya, kalau nggak bisa diselesaikan sambil duduk, boleh kok sambil tiduran." Kuncoro terkikik.
__ADS_1
"Kuncorooooooooo." Bulan dan Bintang memekik bersamaan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.(Baru bisa up tengah malam, karena suasana hari ini begitu syahdu, alias gerimis terus, pengennya merem terusðŸ¤ðŸ¤ jangan lupa, like, komen dan Vote)
Oh ya, selain nulis di NT, author juga nulis di Aplikasi sebelah di KB* judulnya 1. Temen Jadi Demen, 2. Cinta Pertama di Jabal Rahmah.
Author nggak pindah, akan selalu setia nulis d NT, hanya saja ingin mencoba pengalaman baru dengan menulis d platform lain, ingin tahu mereka sistemnya gimana sih, gitu. Biar bnyk belajar dan pengalaman juga🤗.
Salam sayang,
__ADS_1
Santy Puji